Ikravany Hilman
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Depok, Ikravany Hilman. FOTO : ISTIMEWA

RADARDEPOK.COM – Angka penyintas HIV/AIDS Kota Depok, yang mencapai 1.244 patut menjadi perhatian khusus semua lini. Apalagi, data dari Komisi Penanggulangan Aids (KPA) kemungkinan belum mencakup keseluruhan, karena ada penyintas yang masih menutupi akan virus tersebut.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Depok, Ikravany Hilman menegaskan, saat ini harus berani berinovasi dan mengedukasi lewat dunia pendidikan. Baik edukasi tentang seks, narkotika, dan lainnya yang menjadi penularan HIV/AIDS.

“Kalau saran saya dunia pendidikan harus diedukasi, masuk ke sekolah, edukasi pelajar akan bahaya seks dan beri pengetahuan seks yang benar,” paparnya kepada Radar Depok, Rabu (24/11).

Namun, kata Ikra, edukasi seks yang baik dan benar masih sangat tabu di masyarakat. Tidak sedikit hal ini menjadi pandangan bila menghalalkan seks bebas. Padahal, makna bukan ke arah sana, melainkan adanya antisipasi melalui pengetahuan seks agar wawasan ini dimengerti sejak dini. “Takutnya begitu ya, dibilang mengizinkan seks bebas. Padahal bukan itu, ini buat saya untuk mencegah. Kalau sejak dini tahu dampak buruk seks bebas, tentu akan lebih berhati-hati,” ungkap Ikra.

Politisi PDI P ini menambahkan, angka penambahan paling banyak dari hubungan sesama jenis. Sehingga sudah sewajarnya melakukan edukasi akan seks yang baik dan benar. Hal ini demi mencegah seks yang salah terus bertambah luas.

Ia juga menyampaikan, angka yang terdata di KPA belum secara menyeluruh, karena ada penyintas yang masih enggan mengakui kalau terpapar virus HIV/AIDS. Sehingga harus terus dilakukan pendekatan yang lebih membangkitkan kepercayaan diri penyintas. Ini untuk berani mengaku dan bersama melepaskan virus ini, lewat setiap program yang telah berjalan untuk penanganan HIV/AIDS.

“Saya tidak bilang data itu salah, itu benar tapi belum semua. Karena ada penyintas yang tidak mau akui, jadi menyulitkan untuk mengetahui secara keseluruhan,” jelas Ikra.

Memang sebelumnya, Ketua KPA Kota Depok, Khaerudi mengakui bila angka yang terdata puhaknya belum seluruhnya sebab tidak sedikit penyintas yang merasa malu mengakui bila terpapar.

Sehingga hal ini yang gencar dilakukan KPA bersmaa komponen lain untuk mensosialisasikan bila virus HIV/AIDS ini bukan suatu aib yang harus ditutupi. “Iya, iya kita yakin masih ada di luar sana yang masih belum terdata sama kita. Itu karena, kita juga kesulitan mencari tahu, sebab yang yang bersangkutan sulit untuk mengaku,” katanya.

Padahal, ia menjelaskan, ada program penyembuhan sampai pemilihan yang dilakukan¬† berbagai pihak agar penyinras bisa terlepas dari virus ini. Pertama dengan pemanrauan berkala, pemberian obat, sampai kepada pelatihan produktif yang dapat meningkatkan kepercayaan diri penyitas. “Jadi secara bersama kita tanggulangi dan cegah ini. Semua punya peran untuk bersama menangani HIV/AIDS,” tandas Khaerudin. (arn/rd)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Fahmi Akbar