harga minyak
TUNJUKKAN: Putu sedang menjajakan dagangan minyak goreng kemasan bantal di lapaknya ketika guyuran hujan membasahi sekitar, di Pasar Cisalak, Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Minggu (7/11). FOTO : DAFFA/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Harga minyak goreng curah maupun kemasan di pasaran mengalami lonjakan sampai “mendidih”.  Di Kota Depok sendiri, harga satu liter minyak jenis curah mencapai Rp20 ribu/Liter, sementara minyak kemasan seperti jenis bantal menyentuh Rp14ribu/Liter dan minyak goreng premium Rp31-38 ribu/2 Liter.

Salah satu pedagang sembako dan minyak goreng di Pasar Cisalak,  Putu (48) mengatakan, harga minyak goreng mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Bahkan, dia sudah empat bulan lamanya tidak lagi menjual minyak goreng curah lantaran lonjakan tersebut, sebelumnya harga satu dirigennya dipatok Rp152 ribu per 16 liter.

“Sekarang kalau dirigen harganya Rp255 ribu, dan kapasitas 1 dirigennya dikurangi menjadi 15L. Jatuhnya modal Rp17.500/L, belum ongkos bolak balik, packing, dan lain-lain, ya kira-kira modal bersihnya Rp19.000/L, dijual Rp20/L jadinya gak kepegang karena costnya makin tinggi,” ujarnya kepada Radar Depok, Minggu (7/11).

Putu menyebut, kini lebih memilih minyak kemasan karena dianggap lebih mudah karena tak perlu repot-repot membungkusnya. Seperti contoh, minyak kemasan bantal yang turut mengalami kenaikan harga dari Rp88-89 ribu per bal berisi 12Kg, saat ini meroket sampai 50 persen mencapai Rp157 ribu per bal.

“Yang ini (minyak bantal) kalau bungkus 1L itu dari sananya dikurangi 200ML, jadi bersihnya itu 800ML, dulu itu saya jual Rp9 ribu/L sekarang bisa Rp14 ribu/L. Naik semuanya, yang bermerk seperti Sanco juga, kalau gak salah 1 balnya itu Rp217 ribu, jatuhnya Rp34 ribu/2L dan per liter itu Rp18 ribu,” bebernya.

Hal senada juga dituturkan, pedagang minyak goreng lainnya di Pasar Cisalak, Nunu (38), untuk minyak premium bermerk dagang Tropical, kemasan 2L dipatok harga Rp36ribu. Jika pembeli ingin membeli per dus atau per bal, juga tersedia dengan harga Rp215ribu isinya sebanyak 6 bungkus ukuran 2L. “iya lagi tinggi harganya sekarang, sekitar 2 bulanan. Kami gak bisa berbuat apa-apa memang dari sananya segitu,” singkatnya.

Menurutnya, sejumlah pelanggan menyampaikan protesnya terhadap lonjakan harga dari  bahan dasar untuk menggoreng makanan. Pernah satu waktu, seorang pelanggan yang hendak membeli minyak goreng 1L, karena kurangnya uang belanja akhirnya hanya membeli ukuran 1/2 L saja. “Begitulah. Untuk omzet sebetulnya gak terlalu berpengaruh penurunan,” katanya.

Terpisah, Rusdi yang merupakan salah satu pedagang bahan kue dan minyak goreng di Pasar Agung mengaku, memang selama dua minggu ini terjadi kenaikan harga minyak goreng sekitar Rp3-4 ribu. Misalnya saja minyak curah, sebelumnya dia jual per liternya dengan harga Rp16-17 ribu/L. “Sekarang sudah Rp20ribu untuk yang curah. Kalau tropikal, bimoli dan lain-lain kemasan botolan saya jual Rp18.500-19.000 per liternya,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu ibu rumah tangga, Nita (28) mengaku, memang biasa membeli minyak goreng premium ukuran 2L di toko swalayan seperti TipTop. Sepemantauannya, harga tertinggi adalah merek Tropical menyentuh Rp38 ribu, adapula Sunco juga merangkak naik dengan harga Rp31 ribu.

“Naik ini mah, sebelumnya itu paling mahal minyak goreng bisa Rp31 ribu/2L dan termurah Rp22 ribu/2L. Sekarang juga kalau beli dibatasin, maksimal 2pcs minyak per orang,” ucapnya.

Di lokasi yang berbeda, Pengelola Fasilitas dan Mediasi Perlindungan Konsumen, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Depok, Ahmad Imron membenarkan atas naiknya harga minyak goreng di pasaran. Lonjakannya mencapai Rp2ribu sejak mulainya gejolak hingga saat ini. “Masih naik dan stabil di Rp18ribu baik yang bermerk maupun dengan minyak curah. Adanya lonjakan mulai pekan lalu,” terangnya.

Imron menyebut, karena seluruh wewenang stabilitas harga berada di Pemerintah Pusat. Pihaknya hanya dapat memantau atau memonitoring stok produk, apakah masih tersedia untuk masyarakat atau tidak. “Pemda dalam hal ini disdagin hanya memantau/monitoring ketersediaan produk untuk masyarakat saja,” tandasnya. (daf/rd)

Jurnalis : Daffa Syaifullah

Editor : Fahmi Akbar