Walikota Hari HAN Tentang Covid
Walikota Depok, Mohammad Idris

RADARADEPOK.COM – Setelah dua pekan ditutup sementara. Per hari ini (30/11), Pemerintah Kota (Pemkot) Depok resmi membuka kembali Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di seluruh wilayah Kota Depok. Kepastian tersebut dikuatkan dalam Surat Edaran (SE) Walikota Nomor 8.02/661/SATGAS/2021. Dibukanya PTMT seiring dengan diperpanjangnya  Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa-Bali, 30 November hingga 13 Desember.

Kepala Divisi Penanganan Satgas Covid-19 Kota Depok, Sri Utomo menyebutkan, dalam SE yang dibuat Walikota Depok Mohammad Idris menyebutkan telah terjadi tren penurunan jumlah kasus Covid-19, pada klaster PTMT di beberapa wilayah setelah dilakukan penghentian sementara PTMT. Sehingga, kegiatan PTMT dapat kembali dilakukan di semua wilayah Kota Depok, pada 30 November 2021. Kecuali bagi satuan pendidikan yang sedang melaksanakan mitigasi penangan Covid-19.

SE juga meyebutkan, setiap satuan pendidikan, tenaga kependidikan, orang tua/wali murid dan peserta didik wajib melaksanakan ketentuan PTMT secara disiplin. Melaksanakan pemantauan secara terus menerus atau surveilans dan mendukung kegiatan vaksinasi Covid-19 bagi seluruh warga satuan pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain itu, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok dan seluruh satuan pendidikan diminta untuk segera melakukan konsolidasi pelaksanaan dan pengawasan dalam implementasi SE ini, serta melaporkannya kepada Walikota Depok.

Dalam upaya menekan seluruh kasus Covid-19, Pemkot Depok mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan (protkes) 6M. Yaitu memakai masker, mencuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir, menjaga jarak aman saat beraktivitas di luar rumah, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas, dan menghindari makan bersama. “Selain itu, Pemkot Depok juga meminta masyarakat untuk menjaga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Dengan menjaga pola makan, berolahraga dan istirahat yang cukup,” jelasnya.

Perlu diketahui, pemerintah resmi memperpanjang PPKM di Jawa-Bali untuk periode 30 November hingga 13 Desember, dengan menambah daerah berstatus level 1 dan 2.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, situasi pandemi virus corona di Jawa-Bali terus menunjukkan perbaikan. Hal ini sebagai dampak dari pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang selama beberapa bulan. “Penerapan PPKM yang masih terus dilakukan di Jawa-Bali menunjukkan tren yang cukup stabil,” kata Luhut, dalam rapat evaluasi penanganan pandemi Covid-19 wilayah Jawa-Bali yang diterima Radar Depok, Senin (29/11).

Luhut menyebutkan, jumlah kasus Covid-19 di Jawa-Bali tercatat rendah. Kasus konfirmasi menurun hingga 99 persen dibandingkan puncak kasus pada Juli lalu. Kendati demikian, Koordinator PPKM Jawa-Bali itu menyampaikan, saat ini terjadi peningkatan nilai Rt (penambahan kasus aktif nasional). Spesifik di Jawa-Bali, peningkatannya terjadi 4-5 hari berturut-turut pada periode awal munculnya varian Delta.

Berdasarkan hasil asesmen 27 November 2021, terdapat penambahan 23 kabupaten/kota yang masuk ke level 2 PPKM. Kemudian, 8 kabupaten/kota masuk level 1. Menurut asesmen World Health Organization (WHO), 10 kabupaten/kota yang kembali ke level 2 berada di wilayah Jabodetabek.

Hal ini terjadi akibat turunnya angka tracing atau penapisan anggota aglomerasi di wilayah tersebut. Luhut juga memaparkan hasil survei Google Mobility Jawa-Bali dan Indeks Belanja Masyarakat. Hasil survei menunjukkan, mobilitas masyarakat cukup signifikan dibandingkan periode Natal-Tahun Baru 2020 dan mendekati libur Idul Fitri 2021. “Oleh karena itu, kita harus berhati-hati terhadap indikasi adanya kenaikan kasus dan mobilitas, terutama menghadapi periode Natal-Tahun Baru supaya tidak terulang pembatasan sosial yang ketat,” kata Luhut.

Menurut Luhut, perkembangan ini harus dijadikan pengingat untuk lebih patuh pada protokol kesehatan dan 3T (testing, tracing, tracking), bukan justru menimbulkan kepanikan. “Saat ini, jumlah testing dan tracing kita pun sudah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan November tahun lalu. Tingkat vaksinasi kita juga sudah di atas 60 persen dibandingkan dengan tahun 2020 di saat program vaksinasi belum berjalan,” kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, Luhut memaparkan perkembangan kasus varian Omicron yang telah menyebar di beberapa negara seperti Afrika Selatan, Botswana, Jerman, Belgia, Inggris, Israel, Australia, dan Hongkong. Dia mengatakan, pemerintah telah mengambil sejumlah langkah untuk meminimalisasi masuknya varian baru tersebut ke Tanah Air, seperti pembatasan pelaku perjalanan internasional dan perpanjangan masa karantina. Luhut meminta masyarakat tidak panik merespons varian Omicron ini.

“Kita hanya perlu waspada dan berjaga-jaga dengan kembali mengetatkan penerapan protokol kesehatan yang sudah mulai terlihat abai ini,” tandasnya.(rd)

Editor : Fahmi Akbar