swab guru
COVID-19 PTMT: Seorang guru sedang menjalani swab test di lingkungan sekolah SMP Negeri 2 Depok, akibat ada penambahan kasus Covid-19 sebanyak 7 orang. ISTIMEWA

RADARDEPOK.COM – Hawa-hawa gelombang tiga kasus Covid-19 sudah mulai bermunculan. Selasa (9/11), Satgas Covid-19 mendeteksi ada lima provinsi yang catatan kasus aktif Covid-19 naik. Provinsi Jawa Barat (Jabar) masuk dalam lima provinsi tersebut.

Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito mencatat, ada lima provinsi dengan kasus aktif Covid-19 yang tinggi.  Mayoritas dari provinsi tersebut masih mencatatkan lebih dari 1.000 kasus aktif. Ada lima provinsi dengan kasus aktif tertinggi saat ini, yakni Jawa Tengah (1.650 kasus), Papua (1.629 kasus), Jawa Barat (1.568 kasus), DKI Jakarta (1.536 kasus), Kalimantan Utara (738 kasus aktif). “Oleh karenanya, kepada gubernur dari kelima provinsi ini perlu diingat bahwa provinsi-provinsi ini menjadi penyumbang terbanyak kasus aktif (Covid-19) di tingkat nasional,” kata dia dalam keterangnya yang diterima Harian Radar Depok, Selasa (9/11).

Wiku meminta, gubernur segera berkoordinasi dengan bupati dan walikota yang menjadi penyumbang tertinggi kasus aktif di daerah masing-masing. Menurut dia, apabila ketiga indikator Covid-19, yakni kasus positif, meninggal dunia, dan kasus aktif dapat segera diturunkan, pandemi di tingkat nasional akan membaik. “Sehingga kita akan semakin siap menuju endemi Covid-19,” ucap dia.

Dia pun mengungkapkan, ada lima provinsi yang mengalami kenaikan kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir. Kelimanya yakni Papua Barat (naik 100 kasus), DIY (naik 77 kasus), DKI Jakarta (naik 46 kasus), Sulawesi Tenggara (naik 7 kasus), dan Bangka Belitung (naik 5 kasus).

Wiku mengatakan, kenaikan ini terhitung pada periode 1-7 November 2021. Meskipun penambahan kasus positif ini terbilang sedikit, tetap harus dicermati. “Karena terhitung besar apabila dibandingkan provinsi lain yang tidak alami kenaikan kasus,” ucap dia.

Mohon kepada seluruh gubernur dari kelima provinsi yang naik di minggu ini untuk segera berkoordinasi dengan bupati dan walikota di bawahnya. Untuk mengantisipasi adanya kenaikan kasus di pekan mendatang dan terus melakukan pencegahan penularan Covid-19 di wilayahnya.

Meski demikian, Wiku mengungkapkan, secara nasional pada pekan ini tercatat penurunan kasus Covid-19 sebesar 12,2 persen dibandingkan minggu lalu. Penurunan ini telah terjadi selama 16 berturut-turut dari puncak kasus kedua pada Juli lalu. Selain itu, seiring dengan penurunan penambahan kasus positif, jumlah kematian akibat Covid-19 juga mengalami penurunan sebesar 31,7 persen dibandingkan minggu lalu.

Akan tetapi, masih ada daerah yang tetap mencatatkan penambahan angka kematian pada pekan ini. Wiku menyebutkan, ada lima provinsi dengan angka kematian tertinggi. Kelimanya adalah Sulawesi Utara (naik 5 kematian), Sumatera Barat (naik 3 kematian), Sulawesi Selatan (naik 2 kematian), Riau (naik 2 kematian), dan Kalimantan Barat (naik 1 kematian). “Sekali lagi jumlah ini mungkin bisa dikatakan sangat sedikit, yakni tidak lebih dari 5 orang meninggal dalam sepekan. Namun, kita harus tetap menyadari bahwa satu nyawapun terhitung sangat berharga,” tegas Wiku.

Satgas Penanganan Covid-19 Jawa Barat terus berupaya menegakkan peraturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan protokol kesehatan di tengah penurunan kasus Covid-19 di Jawa Barat.

Berdasarkan data pantauan monitoring kepatuhan protokol kesehatan dari covid19.go.id, sebagian besar daerah di Jabar terbilang memiliki kepatuhan tinggi terhadap aturan pemakaian masker.

Namun, sebagian besar daerah memiliki angka yang lebih rendah dalam penerapan jaga jarak dan menghindari kerumunan.

Monitoring tersebut dilakukan terhadap sampel sebanyak sekitar 865 ribu orang di 146 ribu titik di Jabar selama 1-7 November 2021. Hasilnya diketahui, sebagian besar daerah di Jabar memiliki tingkat kepatuhan memakai masker di angka 91-100 persen, kecuali Kabupaten Bogor, Garut, Tasikmalaya, dan Cirebon di angka 76-90 persen, dan Kabupaten Bekasi di angka 64,10 persen.

Namun dalam hal menjaga jarak dan menghindari kerumunan, sebagian besar kepatuhannya di angka 76-90 persen. Kecuali Kota dan Kabupaten Sukabumi, Kota Bogor, Purwakarta, Bandung Barat, Cimahi, Sumedang, Kuningan, Banjar, dan Kota Tasikmalaya yang kepatuhannya di angka 91-100 persen.

Sedangkan Kabupaten Bekasi kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunannya hanya 62,18 persen, dan Kota Bandung di angka 74,58 persen.

Ketua Divisi Komunikasi Publik, Perubahan Perilaku, dan Penegakan Aturan pada Satgas Penanganan Covid-19 Jawa Barat, Mochamad Ade Afriandi mengatakan, hal ini tentu saja menjadi perhatian satgas. Jangan sampai, katanya, angka vaksinasi yang tinggi dan penurunan kasus Covid-19 membuat warga Jabar lalai prokes.

“Kita bukan hanya berupaya menegakkan protokol kesehatan yang 5M plus vaksinasi itu. Tapi kita juga harus pastikan PPKM yang masih berlangsung di tiap kota dan kabupaten ini harus dipatuhi oleh semua pihak,” kata Ade melalui ponsel, Selasa (9/11).

Dia mengatakan, selain pemantauan dan monitoring untuk evakuasi pelaksanaan prokes, pihaknya pun tidak lelahnya untuk melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai prokes dan juga melayangkan surat teguran kepada yang bersangkutan.

“Kita lihat memang mulai ada pelonggaran yang dilakukan masyarakat sendiri. Kita kitak henti-hentinya mengedukasi dan melalukan evaluasi dalam penyampaian rapat satgas,” katanya.

Dia mengatakan, tengah intens melakukan pemantauan atau monitoring tertutup, juga tes acak, terhadap masyarakat. Pihaknya pun bersama Labkesda Jabar melakukan tes antigen secara acak, sebanyak 100 sampel di masing-masing daerah.

“Dari empat wilayah yang kemarin kita monitoring dari beberapa sekolah baik SMP maupun SMA, alhamdulillah dari sampel yang kemarin sekitar 1 wilayah itu 100 sampel, tidak ditemukan satupun yang reaktif Covid-19 baik murid maupun tenaga pendidiknya,” kata Ade.

Penambahan kasus Covid-19 di Jawa Barat secara keseluruhan memang cenderung stabil dengan rata-rata sekitar 100 kasus per hari. Angka ini terhitung sangat rendah jika dibandingkan penambahan kasus Covid-19 di Jabar pada pertengahan Juli 2021 yang mencapai 9 ribuan kasus per harinya.

Bahkan pada 8 November, Jabar hanya mengalami kenaikan 22 kasus baru, sedangkan yang sembuh mencapai 111 orang dan meninggal dunia 1 orang. Dengan demikian sampai 8 November, di Jabar masih terdapat 1.476 kasus aktif Covid-19, sebanyak 690.367 oramg sembuh, dan yang meninggal dunia 14.709 orang.

Berdasarkan data Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jabar, hampir semua kabupaten dan kota di Jabar tengah mengalami penurunan kasus Covid-19. Per harinya hanya bertambah sekitar 10 kasus, bahkan sudah banyak yang mengalami penambahan 0 kasus.

Namun demikian, di akhir Oktober sampai awal November 2021, saat semua kota dan kabupaten di Jabar tengah mengalami penurunan kasus Covid-19, ada dua kota yang mengalami peningkatan kasus signifikan.

Kota pertama adalah Kota Bandung, yang sebelumnya hanya mengalami penambahan rata-rata sekitar 10 kasus per hari sejak awal September 2021. Pada 28 Oktober melonjak jadi 100 kasus, kemudian pada 3 November bertambah 69 kasus, dan pada 7 November bertambah 37 kasus.

Kedua adalah Kota Depok, yang juga awalnya hanya bertambah sekitar 10 kasus per hari sejak September 2021. Pada 4 November mulai mengalami peningkatan dengan bertambah 58 kasus, dan pada 7 November bertambah 28 kasus. Pada periode 1-7 November tercatat, Kota Bandung mengalami penambahan 251 kasus, Kota Depok 156 kasus, Kabupaten Bandung bertambah 41 kasus, Kota Bekasi 31 kasus, dan Kota Bogor 24 kasus.

Namun demikian, penambahan kasus ini tidak berdampak pada penambahan keterisian tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) perawatan Covid-19 di rumah sakit. Pada 8 November 2021, tercatat BOR di Jabar terus menurun hingga 2,5 persen, atau terisi 251 dari total 10.030 tempat tidur yang tersedia di 342 rumah sakit di Jabar.

Persentase BOR di Kota Bandung hanya 6,86 persen, atau 69 terisi dari kapasitas 1.006 bed. Di Kota Depok, terisi 2,67 persen, atau 21 terisi dari 787 bed. Dengan demikian, sebagian besar yang terkonfirmasi positif memilih menjalani isolasi di rumah. (rd)

Editor : Fahmi Akbar