babi ngepet
SIDANG BABI NGEPET : Suasana saat sidang pemeriksaan Terdakwa Adam Ibrahim (44) perkara Penyebaran Berita Bohong Babi Ngepet di Ruang Sidang Dua, Kantor Pengadilan Negeri Depok, Selasa (2/11). ARNET/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Dua Jaksa Penuntut Umum (JPU) Alfa Dera dan Putri berhasil mengungkap jejak digital melalui telepon genggam yang disita milik Terdakwa penyebaran berita bohong Babi Ngepet dalam persidangan di Kantor Pengadilan Negero Depok, Selasa (2/11).

Dalam persidangan dengan agenda pemeriksaan terdakwa, terungkap jejak digital terkait dengan perencanaan dari Terdakwa Adam Ibrahim dalam membuat keonaran melalui berita bohong babi ngepet.

Kasi Intelijen Kejaksaan, Andi Rio Rahmat Rahmatu menerangkan, pemeriksaan Terdakwa dipersidangan Jaksa membongkar terkait jejak digital perbuatan terdakwa dalam merencanakan telah dilakukan sejak satu bulan sebelumnya yakni pada bulan maret 2021.

“Fakta persidangan terungkap Tanggal 30 Maret 2021, Terdakwa mencari ide dengan mencari berita viral yang menghebohkan. Lalu, Tanggal 01 April 2021 Terdakwa menggunakan google untuk mencari lokasi penjualan babi hidup di wilayah Depok dan harga babi serta mempelajari terkait kebiasaan, ukuran anak babi, serta mempelajari terkait kehebohan isu mistik di berbagai daerah,” jelasnya menurut keterangan resmi.

Dilanjutkan Rio, perbuatan menyiarkan informasi bohong babi ngepet terjadi pada Tanggal 27 April 2021, selanjutnya didapatkan fakta yang dibenarkan Terdakwa, bahwasecara intens Terdakwa langsung mencari video babi ngepet bedahan mulai pukul 02:30 Wib di youtobe maupun pemberitaan bahkan ada jejak digital Terdakwa menggunakan google analytics untuk melihat perkembang berita bohong babi ngepet yang dibuat Terdakwa.

“Kalau untuk mencari penjual berdasarkan jejak digital melakukan pencarian penjual melalui situs Kaskus,” lanjutnya.

JPU dalam jalannya sidang mengungkapkan fakta, Terdakwa memiliki kebiasaan menelusuri informasi terkait dengan berita viral dan sering mencari referensi rajah atau Ajimat serta doa, yang mana hal tersebut dibenarkan langsung Terdakwa dalam persidangan dengan alasan pengobatan alternatif.

Berdasarkan proses pembuktian Rio menyampaikan Penuntut Umum meyakini berdasarkan pemeriksaan Terdakwa dikaitkan dengan saksi-saksi dan ahli meyakini surat dakwaan terbukti nerkaitan dengan keonaran. Pemeriksaan Terdakwa semakin meyakinkan menimbulkan keonaran sehingga ada peristiwa pengusiran seorang ibu yang termakan kabar bohon babi ngepet tersebut.

Tak hanya itu, kata Rio, akibat keonaran yang dilakukan Terdakwa membuat masyarakat termobilisasi akibat gelisah sehingga berkumpul dalam satu lokasi, padahal saat kejadian tersebut sedang masa pembatasan aktifitas. Bahkan ini menyebankan pihak kepolisian sulit membubarkan masyarakat di lokasi.

“Terdakwa tahu apa perbuatannya telah menimbulkan keonaran dan masyarakat berkumpul tapi tidak disampaikan ke publik kalau kejadian ini bohong,” tuturnya.

Bahkan, akibat pembohongan yang dilakukan Terdakwa hingga ada empat warga yang secara sukarela atas perintah bertelanjang untuk menangkap babi ngepet palsu tersebut. Hal ini mengalami kerugian berupa rasa malu karena informasi tersebut terekam sebagai jejak digital. “Dampaknya tidak tau sampai kapan informasi akan ada di internet dan bahkan berpotensi abadi sebagai jejak digital,” tutur Rio.

Usai melakukan pemeriksaan terdakwa dalam persidangan. agenda mendatang JPU akan melakukan penuntutan atas perbuatan pidananya. (rd/arn)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Junior Williandro