tersangka pemancingan
ILUSTRASI : Pemilik Kolam Pratama bersama Muspika Kecamatan Beji sedang melakukan penebaran ikan di kolam tersebut, sebelum adanya pandemi Covid-19. 

RADARDEPOK.COM, TANAH BARU – Pemilik Kolam Pemancingan Pratama, di RW05 Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Pratama Pershada menyambut baik tuntutan jaksa penuntut umum kepada anak buahnya, Maladi yang menjadi terdakwa kasus pelanggaran PPKM Darurat. 

“Menurut saya semua sudah berjalan baik, sesuai hukum yang berlaku. Hakim, jaksa, kepolisian, semuanya baik, adil dan transparan. Tidak ada masalah sama sekali dengan tuntutan yang diberikan pada terdakwa,” kata Pratama, Jumat (05/11). 

Pratama mengungkapkan, persidangan tindak pidana ringan (Tipiring) ini dimaknainya sebagai pelajaran untuk semua pihak, agar taat pada aturan pemerintah. Termasuk untuk mendieik anak buahnya yang sudah melakukan tindakan diluar izin Pratama, dengan membuka kegiatan memancing di kolam saat pemberlakuan PPKM Darurat pada Juli kemarin. 

“Saya sudah melarang dibukanya kolam saat PPKM Darurat, tapi yang bersangkutan tanpa sepengetahuan saya tetap membuka kegiatan perlombaan di kolam, sehingga menimbulkan kerumunan. Jadi saya pun marah dan sudah sepantasnya yang bersangkutan menerima konsekuensi dari perbuatannya,” tuturnya. 

Pada persidangan dengan agenda penanggalan saksi dan pembacaan tuntutan, Maldi dituntut jaksa penuntut umum dengan denda Rp 1juta, subsidair pidana kurungan 2 bulan. Pratama mengungkapkan, pihaknya tetap akan membantu terdakwa menghadapi kasusnya ini. 

“Ya nanti dibantu lah, kasihan juga dia sudah menjalani proses hukum cukup lama. Karena proses hukum itu saya jadikan sebagai bahan pembelajaran untuk dia dan untuk semua karyawan saya agar paham bahwa siapapun, dengan alasan apapun tidak boleh melanggar hukum di negara ini, karena Indonesia negara hukum dan siapapun tanpa terkecuali harus patuh pada hukum itu,” bebernya. 

Terkait status karyawan Maladi di kolam Pemancingan Pratama, dia memastikan yang bersangkutan tidak jadi dipecat lantaran pertimbangan kemanusiaan. Pratama merasa iba jika yang bersangkutan dipecat lalu kesulitan mencari kerja di masa pandemi ini. 

“Kalau masalah status karyawan pasti akan ada sanksinya, tapi belum diputuskan seperti apa. Memang pada saat kejadian saya sudah membuat ultimatum untuk memecat semua karyawan yang terlibat, tapi dalam persidangan Hakim juga memberikan pertimbangan kepada saya untuk memikirkan kembali keputusan saya itu, dan saya rasa mereka termasuk Maladi masih saya beri kesempatan untuk merubah dirinya ke arah yang lebih baik,” terangnya.

Dia menambahkan, pembuatan kolam pemancingan Pratama ini awalnya dia lakukan untuk membantu perekonomian masyarakat di sekitarnya. Bahkan, setiap keuntungan yang dihasilkan dari kolam itu dia salurkan untuk pekerja dan masyarakat sekitar, sehingga dia merasa kecewa jika karyawannya sampai melakukan pelanggaran hukum demi kepentingan pribadinya. 

“Sejak empang ini diresmikan dan berjalan sampai detik ini sepeserpun tidak pernah ambil keuntungan, yang ada malah saya keluar uang untuk melakukan perawatan kolam dan lain – lain, tapi jangan sampai melanggat hukum juga mereka demi kepentingan pribadi, keterlaluan itu namanya,” tutupnya. (rd/dra)

 

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Pebri Mulya