sandi butar2
MEMBANGGAKAN : Sandi Butar Butar (kiri) saat foto bersama dengan rekan seperguruan pencak silat Gending Jagad Buana. ARNET/RADAR DEPOK

Personel Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan yang sebatas pegawai honorer, ternyata memiliki bakat pencak silat yang tak perlu diragukan. Mulai berlatih sejak 2003, atau tepat duduk di bangku sekolah kelas 1 SMP, hingga akhirnya memantapkan diri mengabdi pada masyarakat sejak 2015.

Laporan : Arnet Kelmanutu

RADARDEPOK.COM, Siapa yang sangka Sandi Butar Butar, anak muda yang mampu membongkar dugaan korupsi di tempat ia bekerja, ternyata salah satu atlet andalan Kota Depok dalam bidang pencak silat. Lewat perguruan Gending Jagad Buana, Sandi mulai mendalami setiap gerakan pencak silat yang kental akan budaya Indonesia.

“Sudah dari bangku kelas 1 SMP saya mulai latihan pencak silat. Suka karena ini budaya dari Indonesia,” terangnya saat berbincang di bawah pohon tempatnya bertugas Pos Damkar Walikota, Senin (8/11).

Semua dilakukan dengan tekun, tanpa ada paksaan. Justru katanya, orang tua terlebih sang ayah tak meridhoinya untuk berkecimpung dalam dunia pencak silat. Namun, dia tetap berlatih dan berlatih.

Bukan halangan meski salah satu yang terpenting adalah izin dan dukungan dari orang tua. Keteguhan hatinya mengatakan untuk tetap berlatih, mendalami kebudayaan Indonesia.

“Bukannya tidak mendengarkan orang tua tapi ini memang kemauan saya. Saya mau mendalami gerakan silat yang memang jadi warisan budaya Indonesia,” ucap Sandi yang masih mengenakan seragam damkar Kota Depok.

Hal ini tak jarang, beberapa baju dan perlengkapan silatnya di buang ayahnya. Tapi kejadian itu bukan menjadi hal yang menghalanginya untuk berkembang dalam dunia silat. Justru sebaliknya, hal itu dijadikan cambukan dirinya untuk menunjukan kemampuannya dalam dunia silat.

Sampai satu ketika, dirinya baru memulai beberapa bulan di pencak silat. Harus rela memperdalam silatnya dengan bersemedi di bawah air terjun di kawasan Kabupaten Bogor. Selain untuk melatih konsentrasi, kesabaran, serta kekuatan.

“Pernah beberapa kali, biasanya saat mau naik tingkat. Kalau orang kenalnya naik bak atau sabuk ya,” jelas pria berdarah Medan ini.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun, semua dilalui dengan tekun. Sampai pada tahun 2015 dirinya menyatakan untuk berhenti dalam dunia silat karena mengabdi di dunia kemanusiaan. Lewat Damkar dirinya mengabdi pada manusia, menyelamatkan manusia, binatang, dan lainnya.

“Iya itu juga panggilan diri, karena di damkar murni saya mau mengabdi pada sesama, saling membantu satu sama lain, sewajarnya manusia biasa yang harus saling tolong menolong,” tutup Sandi. (*)

Editor : Junior Williandro