stasiun
PENUMPANG MENINGKAT : Suasanan penumpang KRL Kabodetabek di Stasiun Depok. PT KAI Commuterline mencatat ada kenaikan penumpang dari Oktober hingga November menjadi 351.324 penumpang setiap harinya. ARNET/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Semakin longgarnya pembatasan aktifitas masyarakat sejak beberapa daerah turun ke Level 1, selain Kota Depok. PT KAI Commuterline peningkatan penumpang KR Jabodetabek meningkat 24,2 persen, atau sebanyak 68.564 penumpang selama Oktober hingga Desember.

VP Corporate Secretary KAI Commuter, Anne Purba mengatakan, peningkatan penumpang mulai terlihat di bulan Oktober. Tercatat dalam sehari penumpang KRL Jabodetabek mencapa 351.324 penumpang, sehingga KAI Commuter tetap melakukan pembatasan kapasitas pengguna di dalam kereta dan jam operasional KRL tetap berlangsung pada pukul 04.00-22.00 WIB setiap harinya.

“Sebelumnya junlah penumpang perhari di Bulan September sebanyak 282.760. Ada peningkatan sebanyak 24,2 persen,” terangnya kepada Radar Depok, Jumat (05/11).

Anne menyampaikan, penambahan jumlah penumpang karena sejalan dengan aktivitas masyarakat yang kembali bergerak saat ini. Sehingga KAI Commuterline mengoperasikan 999 perjalanan KRL sejak 17 Oktober lalu, yang sebelumnya sebanyak 994 perjalanan.

“Sejumlah 307 perjalanan melayani di jam sibuk pagi yaitu pukul 04.00-09.00 WIB dan sebanyak 243 perjalanan melayani di jam sibuk sore yaitu pukul 16.00-20.00 WIB. Hal ini sejalan dengan pergerakan pengguna yang masih terkonsentrasi di jam-jam sibuk pagi dan sore hari,” ungkapnya.

Selain pengaturan operasional, petugas di lapangan tetap konsisten menerapkan jaga jarak aman antar pengguna dengan membatasi jumlah orang yang dapat naik kereta untuk mengantisipasi kepadatan di dalam kereta. Petugas akan melakukan antrean penyekatan di stasiun bila kondisi di dalam KRL sudah sesuai kuota.

“Pengguna dapat mengatur waktu perjalanannya dengan melihat jadwal, posisi real time kereta dan kondisi antrean di stasiun melalui aplikasi KRL Access. Hal ini agar tidak terjadinya penumpukan,” papar Anne.

Melalui perencanaan perjalanan yang baik dan mengikuti berbagai protokol kesehatan yang berlaku, tentunya bisa menciptakan transportasi KRL yang sehat, aman dan nyaman bagi para penggunanya selama masa pandemi. Mengingat KRL masih menjadi moda trasportasi utama bagi masyarakat Jabodetabek.

Ditekankan Anne, beberapa Daerah menjadi level 1 bukan berarti protokol kesehatan di KRL juga diturunkan atau dilonggarkan. Justru sebaliknya, pengetatan prokes selalu dipantau setiap petugas di Stasiun maupun gerbong KRL.

“Lansia dan anak di bawah usia 12 tahun terap kita minta untuk menghidari jam sibuk kerja, seperti pagi dan sore hari,” tutupnya. (rd/arn)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Junior Williandro