coverstory guru
MENANTI : Seorang guru honorer yang telah mengabdi selama 37 tahun, Arja, saat ditemui di kediamannya, Jalan Kampil Mail, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Kamis (25/11). DAFFA/RADAR DEPOK

Hari Guru Nasional kerap menjadi momen membahagiakan bagi profesi dengan julukan ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’ di seluruh pelosok negeri. Tak terkecuali di Kota Depok. Namun bagi Arja, pria 56 tahun yang mengajar di SDN Grogol 1 ini, justru nampak sedih. Sejak 1984 sampai sekarang, statusnya sebagai tenaga pendidik masih sebagai honorer. Ia tidak lolos delapan kali seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (CPNS) dan sekali Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Guru.

Laporan : Daffa Andarifka Syaifullah

RADARDEPOK.COM, Sebuah rumah berkelir biru, di Jalan Kampil Mail, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, jadi saksi kehidupannya sedari kecil, sampai saat ini memiliki tiga anak dan dua cucu. Arja duduk sambil termenung di teras rumah, memandangi lalu-lalang warga. Salah satu rutinitas ‘membosankan’ untuk melepas penat, setelah mengabdi sebagai tenaga pendidik seharian.

Mengenanglah dia, pada masa mengenyam pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) program studi Guru SD wilayah Sawangan. Kala itu, Arja mulai mengajar di beberapa sekolah sebelum akhirnya lulus dari instansi pendidikan tinggi tersebut.

“Permulaan saya mengajar dari madrasah, TK, SD, dan di SMP Glora. Kemudian lulus (dari SPG) di tahun 1984,” terang Arja saat di temui di kediamannya, Kamis (25/11).

Pria asli Depok itu merasa, menjadi seorang ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’, adalah panggilan hati. Bersama dengan takdir sang Ilahi, serta diiringi restu dari kedua orang tuanya yang bekerja sebagai petani.

“Mungkin sudah takdir dan memang keinginan saya jadi pendidik, seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Kebetulan orang tua itu buta huruf, dan dari sekolah sampai ke SPG itu pilihan sendiri,” ucapnya sambil terkekeh.

Pasca lulus dan berkeluarga, Arja mendidik murid-muridnya di dua sampai tiga sekolah sekaligus. Tuntutan ekonomi juga membawanya harus rela berjualan buah-buahan, mengandalkan pundaknya memikul 80-100 kg beban dagangan.

Nampak luka di kedua pundaknya ditutup plester putih. Pernah juga dirinya berjualan es orson menggunakan gerobak. Kurang lebih 4-5 tahun menggeluti usahanya saat pagi hari sebelum berangkat mengajar di sekolah.

“Awalnya insentif itu Rp150 ribu, waktu itu kebutuhan gak ada kendala karena barang-barang masih terjangkau. Lalu di tahun 2000-2001 sudah Rp300 ribu, setelahnya dapat SK Walikota 2002 untuk tunjangan dari APBD sekitar Rp500 ribu. Untuk biaya sekolah anak-anak biasanya dapat bantuan dari saudara, jualan, dan mengajar di beberapa sekolah,” tuturnya.

Kerja kerasnya sedikit terhenti lantaran disahkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 15 tahun 2018 tentang pemenuhan beban kerja guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Setiap guru hanya dapat mengajar di satu sekolah saja. Akhirnya, Arja fokus mendidik generasi bangsa di SDN Grogol 3 saja.

“Sekarang Grogol 3 sudah di merger jadi SDN Grogol 1. Perjuangan saya bukan luar biasa lagi, bisa menghidupi dan membiayai kebutuhannya, anak pertama saya alhamdulillah sudah sama profesinya (sebagai guru) mengajar di TK. Meskipun saya masih honor,” katanya.

Sebagai guru honorer, sebetulnya Arja tak pernah berkecil hati. Meski delapan kali tiada henti mencoba peruntungan Seleksi CPNS, dan hasilnya kurang mulus. Nyatanya, di 2021 pria 56 tahun ini mengikuti seleksi PPPK Guru tahap 1.

Menilik media sosial dan televisi, ‘Mas Menteri’ begitu sapaanya mengunjungi dan menginap rumah Sukardi, guru honorer asal Lombok yang telah mengabdi selama 25 tahun dalam mencerdaskan anak bangsa.

Jika dilihat dari usianya, Arja hanya berbeda satu tahun dengan Sukardi. Setelah Sukardi menjalani Seleksi Kompetensi PPPK Guru, dia dinyatakan lolos.

“Waktu itu kan dibilangnya kalau honorer seusia saya bakal diutamakan lulus, waktu tes kemarin di SMAN 3 Depok juga saya tertua di ruangan itu. Tetapi nyatanya saya tetap gak lolos, terus terang saya sampe nangis pas buka pengumuman, padahal nilai lebih dari ambang batas,” ungkapnya.

Kini, dirinya hanya bisa menelan pil pahit, selama 37 tahun mengabdi untuk negeri sebagai honorer. Meski gajinya hampir setara dengan PNS sebesar Rp3,25 juta, dirinya hanya meminta satu hal kepada Pemerintah khususnya Kota Depok.

“Kalau kecewa sih pasti, tetapi saya punya Allah SWT. Ya kepengenan sih insentif guru jangan sampai telat (cairnya). Harusnya di tanggal 20 sering diundur di 25, apalagi kalau akhir tahun, kaya bulan ini masih belum. Intinya tepat waktu,” tukasnya. (*)

Editor : Junior Williandro