pejalan kaki
SEBELUM PANDEMI : Salah satu anggota Koalisi Pejalan Kaki (KoPK) tengah bertamasya di Jalan Margonda Raya. ist
yamaha-nmax

Beranjak dari minimnya hak akses dan keselamatan para pejalan kaki akibat okupansi trotoar di berbagai Kota/Kabupaten. Koalisi Pejalan Kaki sebagai komunitas yang ditujukan untuk membela hak-hak pejalan kakipun hadir.

Laporan : Daffa Andarifka Syaifullah

RADARDEPOK.COM, Tak jauh dari Jalan Utan Raya, Kelurahan Pondok Jaya, Kecamatan Cipayung, masuk ke dalam gang tepat di belakang bangunan SD, pria berkemeja putih tengah bersiap memulai hari.

Pukul 12:00 WIB, Alfred Sitorus dipanggil ke Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR), untuk membahas Tata Ruang dan rencana dan Transit Oriented Development (TOD) guna transportasi massa Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi-Puncak-Cianjur (Jabodetabek Punjur).

Dia duduk sejenak, sambil mengingat-ingat kembali terbentuknya Koalisi Pejalan Kaki yang kini genap berusia satu dekade. Bermula, dari sebuah pertemuan atau kopi darat tujuh orang pria pada sebuah kafe dibilangan Jakarta.

Ketujuh orang ini, sehari-harinya mengandalkan kendaraan umum untuk mobilisasinya. Baik berbasis rel maupun bus, bahkan sebagian dari mereka merupakan sosok yang menginspirasi car free day pertama kalinya di Indonesia.

Baca Juga  Giat KPU Depok Menyosialisasikan Pilgub Jabar

“Nah, setelah kami kopdar itu ada temen yang nyeletuk, eh kalau gue jalan kaki abis naik bus rasanya terancem banget di jalanan. Banyak problematika trotoar itu, seperti di okupansi kendaraan roda dua, tempat parkir, warung-warung dan lainnya,” terangnya tampak berapi-api.

Kesamaan permasalahan inilah yang akhirnya membuat mereka bersepakat untuk membuat sesuatu komunitas, yang memang sangat jarang diperhatikan orang banyak. Sekelas Non-Governmental Organization atau NGO maupun komunitas lain di Indonesia jarang sekali menyentuhnya. “Baik dari fasilitas pedestrian maupun pendukungnya. Kita bersepakat di 25 Juni 2011, mendeklarasikan koalisi pejalan kaki,” bebernya.

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk beraksi. Menghadang pengendara maupun pelapak bandel yang mengokupansi trotoar yang sepatutnya untuk pejalan kaki agar aman dan nyaman diakses. Namun, Alfred menegaskan ini bukanlah ‘aksi’ tetapi ‘tamasya’ di Kota Tua, Jakarta Barat.

Baca Juga  Optimalkan Peran, D4 Teknik Konstruksi Gedung PNJ Renovasi Bangunan Gagal Konstruksi Yayasan Riyadul Falah

“Dari situ sebenarnya pertama kali kami bergerak. Kala itu, orang menyebutnya aksi, padahal kami tamasya. Karena kalau dibilang aksi, perlu beberapa prosedural seperti izin keramaian, dan lainnya,” tuturnya.

Sejak itulah, Koalisi Pejalan Kaki sempat vakum beberapa saat hampir setahun lamanya. Tidak ada satupun dokumentasi yang mereka sebar di media sosial. Namun, satu ketika, Dedi Herlambang yang merupakan salah satu rekan Alfred iseng menyebar kegiatan tamasya mereka.

“Dari situ akhirnya tersebarlah ke teman-teman media mainstream dan booming. Karena kita kan sifatnya mematung kalau tamasya, bahkan ada yang sampai rela tidur-tiduran di Trotoar dengan memegang flayer,” ucapnya.

Atas permintaan publik pula, bersamaan dengan rentetan kejadian di 2012 salah satunya Kecelakaan yang terjadi pada Minggu (22/1/12) siang yang melibatkan mobil Daihatsu Xenia hitam yang dikendarai oleh Afriyani Susanti.

Baca Juga  Kenalan dengan Kodon Tokoh Pemuda Tapos, Depok (1) Pemuda Jangan Dianggap Remeh

Afriyani, yang ada di bawah pengaruh narkoba usai berpesta semalam suntuk, membawa mobil dalam kecepatan tinggi. Mobil tersebut tiba-tiba oleng di kawasan Tugu Tani dan menghantam 12 pejalan kaki yang ada di trotoar.

Peristiwa kecelakaan di kawasan Tugu Tani itu menjadi asal muasal Koalisi Pejalan Kaki menetapkan tanggal 22 Januari sebagai Hari Pejalan Kaki Nasional. Sekaligus menjadi pengingat bahwa minimnya perlindungan bagi pejalan kaki telah membuat puluhan nyawa melayang di seluruh Indonesia.

“Oleh karena itu, KoPK meminta negara untuk lebih memperhatikan hak dan perlindungan bagi pejalan kaki. Akhirnya sejak saat itu pemerintah menyatakan setiap 22 Januari sebagai Hari Pejalan Kaki Nasional,” tukasnya. (bersambung)

Editor : Junior Williandro