pejalan kaki
PEDULI: Anggota Koalisi Pejalan Kaki (KoPK) tengah bertamasya di salah satu jalan di Jakarta, beberapa waktu lalu

Minimnya pengetahuan masyarakat khususnya pengendara mengenai trotoar dan hak pejalan kaki sebagai user, membuat Koalisi Pejalan Kaki menggelar edukasi ke sekolah-sekolah maupun ‘tamasya’ disepanjang trotoar.

Laporan : Daffa Andarifka Syaifullah

RADARDEPOK.COM, Sebelum pandemi Covid-19 merebak, Ketua Koalisi Pejalan Kaki (KoPK), Alfred Sitorus bersama sejumlah anggota lainnya memiliki segudang agenda. Tak lain, tujuannya menyadarkan masyarakat pentingnya trotoar agar aman dan nyaman bagi pejalan kaki.

Mulai dari melakukan sosialisasi dan edukasi ke sekolah-sekolah, dari TK, SD, SMP, sampai SMA. Acapkali juga berkolaborasi bersama Kementerian Perhubungan (Kemenhub), POLRI, dan akademisi. “Disitu, edukasi dengan pelajar pelopor dan lainnya itu kita lakukan,” kata Alfred.

Kemudian, partisipatif publik kian menyoroti aksi mereka, adanya akun media sosial instagram, facebook, dan twitter serta pemberitaan dari berbagai media mainstream menjadian syiar isu hak pejalan kaki yang acapkali terokupansi mulai terangkat.

Kegiatan tamasya ke trotoar-trotoar Jabodetabek dilakukan. Caranya, pertama menyaring aspirasi masyarakat titik lokasi mana saja yang kondisi trotoarnya mengkhawatirkan dan mengancam pejalan kaki sejak Rabu sampai Kamis. Kedua, biasanya di hari Rabu, tempat tamasya sudah ditentukan mereka dan dipublikasikan ke media sosial.

“Kami biasa mengadakan tamasya seminggu sekali di hari Jumat sore, kami ambil di waktu tersebut untuk meminimalisir teman-teman lain yang mau bergabung supaya tidak terganggu pekerjaanya. Mulai jam 4 sore sampai setengah 6 sore di lokasi titik yang memang sudah ditentukan oleh publik,” katanya.

Sejak 21 Juli 2018, KoPK meluncurkan aplikasi untuk melaporkan beragam isu menyangkut keselamatan, aksesibilitas, keamanan dan kenyamanan pejalan kaki. Aplikasi yang dinamai “Koalisi Pejalan Kaki” ini juga diharap dapat memberi masukkan atau inspirasi untuk meningkatkan fasilitas pejalan di perkotaan di Indonesia. “Aplikasi juga kami punya untuk menampung aduan aduan masyarakat,” tuturnya.

Tamasya bisa dilakukan oleh berapapun partisipannya, tak terbatas oleh jumlah. Bahkan, di satu waktu, pernah sampai ratusan orang yang memang menjadi follower KoPK di media sosial. Selama hampir dua jam, beragam ekspresi digambarkan sembari menggenggam flayer.

“Yang melakukan 1,2 atau ratusan orang itu tidak akan mengubah substansi nya. Sering kami mendapatkan gangguan dari para pengendara yang mengokupansi trotoar. Kami tamasya ini hanya ingin menyampaikan pesan, merebut kembali ruang pejalan kaki,” tuturnya.

Ancaman demi ancaman menjadi makanan mereka dikala bertamasya di trotoar. Mulai dari diancam menggunakan senjata tajam, pengendara yang menabrak kaki anggota KoPK, melempar dan memukul helmnya, dan lainnya.

Contohnya saja pada Senin 6 September 2018 malam, warganet digemparkan dengan aksi pemukulan oleh seorang perempuan yang merupakan mitra ojek online terhadap seorang anggota koalisi pejalan kaki bernama Alif.

Perempuan itu memukul Alfi dengan helm. Peristiwa yang terjadi di Jalan Jatiwaringin, Jakarta Timur, pada Senin sore itu bermula ketika Alif mengingatkan agar pengendara itu tak melalui trotoar.

“Diancam pakai pisau, kaki ditabrak itu sering pada saat turun ke trotoar ya, dibantingin helm itu paling dan lain-lain. Kami itu gak pernah mau ribut ya, jadi ketika orang terusik ya berarti dia sadar bahwa melakukan hal yang salah kan semua orang yang melakukan okupansi itu sadar salah,” tandasnya. (bersambung)

Editor : Junior Williandro