maharaja
TAMPIL MEMUKAU : Personel band Maharaja 48 sedang menunjukkan skill musik mereka di atas panggung, saat menjadi bintang tamu dalam sebuah konser. INDRA SIREGAR/RADAR DEPOK

Di-takedown-nya channel Youtube Maharaja 48 dari Youtube menjadi pukulan telak bagi Amar Maruf. Bak petir di siang bolong, karya-karyanya yang sudah ditonton ratusan ribu orang hilang begitu saja, tanpa tahu apa alasannya.

Laporan : Indra Abertnego Siregar

RADARDEPOK.COM, Amar Maruf yang sedari awal bercerita dengan lantang dan menggebu-gebu, mendadak lesu dan kurang bersemangat, ketika disinggung mengenai kejadian penghapusan chanel Maharaja 48 dari youtube. Dia terdiam sejenak, menunduk sambil menghela napas panjang, sebelum akhirnya kembali menceritakan pengalaman pahitnya itu.

Alhamdulillah, selama hidup ini saya sudah dua kali mengalami kesedihan yang paling dalam. Pertama saat saya ditinggal orang tua, dan yang kedua chanel youtube Maharaja 48 ditakedown pada Agustus 2021 lalu,” katanya dengan suara yang mulai memelan, menggambarkan kesedihan hatinnya.

Setelah mengetahui channelnya dibredel, Amar mengalami satu minggu masa berkabung sebelum akhirnya bangkit kembali dan melanjutkan misinya dalam membuat karya – karya lagu, untuk menyuarakan semangat nasionalisme dan perlawanan terhadap ketidak adilan.

Sempat galau selama empat hari saya. Gak semangat ngapa-ngapai, pesimis dan lainnya. Lalu say berfikir, kenapa harus bersedih, toh saya tujuanya bermusik untuk menyuarakan aspirasai orang banyak. Akhirnya saya bangkit kembali dengan membuat chanel Youtube baru bernama Maharaja 48 MPD (Maharaja Daya Perkasa),” tuturnya.

Ditambahkannya tiga hurud MPD di dalam nama canel ban Maharaja 48 bukan tanpa alasan. MPD merupakan nama PT yang mereka buat untuk mendirikan sebuah label musik dengan tujuan yang tak kalah mulianya dari Maharaja 48 itu sendiri.

Saya berencana, kita di Maharaja 48 gak hanya produksi musik rock aja, kan banyak tuh ade – ade kita atau temen – temen yang punya potensi musik bagus tapi belum ada yang mewadahi, nah untuk mereka yang susah cari label bisa ke MPD ini, karena kita menampung semua genre musik tanpa mebeda – bedakan,” ucapnya.

Ternyata, Amar masih menyimpan sebuah cerita mengenai Palestina. Selain mengalami chanel youtube ditakedown, dia juga pernah nyaris mengadakan konser di Palestina. Kejadianya bermula saat sebuah organisasi National Goverman organitation (NGO) dari Palestina ingin mengajak orang-orang yang berani menyuarakan tentang palestina, baik itu lewat musik maupun orasi untuk tampil di sana.

NGO dari Palestina ini mencari teman – teman di asia yang mau menyuarakan Palestina, waktu itu mereka nyari di Malaysia gak dapet. Akhrinya, mungkin ada yang ngeshare lagu kita ke NGO, kita akhirnya dipiluh untuk konser di jalur Gaza, bertepatan dengan perayaan HUT RI di sana,” bebernya.

Seharusnya, Maharaja 48 akan berangkat ke Palestina pada 12 Agustus 2021. Semua dokumen dan surat-surat resmi sudah lengkap, baik visa maupun paspor. Akan tetapi, lagi dan lagi, mereka belum berjodoh untuk menunjukkan karya mereka di tengah lokasi konflik tersebut.

Tapi karena ada sejumlah alasan yang mendesak, kami gak bisa tampil di sana. padahal harusnya kami konser sepanggung sama band Exist dari Malaysia. Tapi gapapa, suatu saat kami pasti akan ke Palestina untuk memberikan dukungan dan suport untuk warga di sana yang menjadi korban perang,” terangnya.

Selama berdiri lebih dari satu tahun, Maharaja 48 sudah beberapa kali diundang menjadi bintang tamu. Baik secara luring di panggung, hingga melalui daring atau virtual.

Yang terakhir kita diundang jadi bintang tamu dalam pagelaran musik di Kendari, lalu banyak konser virtual juga.” Imbuhnya.

Tidak sampai di situ, Maharaja 48 juga pernah menjadi bintang tamu dalam acara Mukernas PKB Garda Bangsa. Dalam momen itu, Amar mempersembahkan sebuah lagu berjudul Garda Bangsa Untuk Indonesia, yang kini menjadi hymne dari Garda Bangsa PKB.

Kebetulan lagu Garda Bangsa Untuk Indonesia saya yang nyiptain, dan saya juga selaku ketua panitia dalam acara itu, sekaligus saya launching lagu ini juga di situ. Dalam momen itu, banyak pejabat yang menyukai lagu saya ini seperti Wakil Ketua DPRRI yang juga Ketua Umum PKB, Menteri Tenaga Kerja, Ketua Komisi 6 dan 10 DPRRI, pokoknya banyaklah pejabat negara yang mengapresiasi lagu ciptaan saya ini,” ujarnya.

Bagi masyarkat yang ingin mengundang band Maharaja 48 untuk menjadi bintang tamu, Amar tidak meminta persyaratan apalagi bayaran yang besar. Dia hanya meminta panitia acara untuk membuat panggung dengan branding bendera merah putih di sekeliling panggung. Hal ini sebagai bentuk semangat dan nasionalisme band Maharaja 48 dalam setiap karya dan aksi panggungnya agar pendengarnya bisa meresapi arti sebuah rasa nasionalisme.

Saya gak ada urusan sama makanan atau bayaran seperti artis lain, yang penting harus ada branding set bendera merah putih di panggung. Kalau gak ada, saya gak mau tampil. Karena teman-teman juga saya doktrin, sebelum menyanyikan lagu kami, kami wajib menyanyikan lagu Indonesia Raya terlebih dulu karena ini lagu kebanggan kita. Supaya adik-adik milenial jangan sampai lupa perjuangan pahlawan kita dalam memerdekakan negara ini, serta harus lebih mensyukuri lagi sejarah dan budaya negara ini,” tuturnya.

Ke depannya, Maharaja 48 akan terus berkarya untuk membangkitkan semangat nasionalisme di masyarakat. Salah satu target jangka pendek mereka adalah merilis album perdana mereka. Bulan depan mau rilis album. CD-nya udah jadi, isinya lagu-lagu yang sudah kita rilis, lalu nama albumnya Indonesia Bangkit,” lanjutnya.

Lalu untuk jangka panjang, Amar berharap lagu-lagu mereka bisa diterima masyarakat, dan berkontribusi lebih untuk masyarakat dalam hal sosial.

Saya punya target, kalau kami diterima di masyarakat, syukur-syukur ada rejekinya, kami ingin menyumbangkan penghasilan band Maharaja ini untuk kepentingan amal. Seperti membantu masyarakat yang terdampak pandemi, khsusnya anak – anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah. Dari hasil manggung kami akan kam sumbangkan semuanya agar mereka bisa kembali bersekolah,” demikian ujarnya. (*)

Editor : Junior Williandro