petugas pemulasaraan jenazah covid
BERSIAP: Anggota Tim Pemulasaraan Jenazah Kecamatan Cilodong, Mian Sulaiman (kiri) bersama rekannya sebelum berangkat menuju rumah duka pasien Covid-19. DAFFA/RADAR DEPOK

Tak pernah terbayangkan Mian sebelumnya, di tengah merebaknya kasus Covid-19, malah menjadi garda terdepan dan salah satu kelompok paling rentan untuk mengurusi jenazah akibat paparan virus Korona. Sejak April 2021, sebagai anggota dari tim pemulasaraan jenazah, tentunya baju Alat Pelindung Diri (APD) bak astronot menjadi teman sejatinya dalam bertugas menolong keluarga yang dilanda kesedihan.

Laporan: Daffa Andarifka Syaifullah

RADARDEPOK.COM, Di sebuah gedung fasilitas kesehatan bertuliskan Puskesmas Cilodong tampak sedikit warga berlalu lalang. Di dalam, beberapa kursi disusun rapi dengan menjaga jarak.

Seorang pria mengenakan baju hazmat biru sembari menggenggam alat pengukur suhu berdiri di depan pintu masuk, jika ada pasien, sebelum menuju ke dalam ruangan, tentunya akan diperiksa kondisi tubuhnya menggunakan thermogun. Dia adalah Mian Sulaiman.

Memasuki waktu istirahat, Mian duduk sejenak. Pria 36 tahun itu menceritakan pengalamannya saat menjadi salah satu dari tim pemulasaraan jenazah khusus Covid-19. Memang pada awalnya, pimpinan yang tak lain adalah kepala puskesmas memberikan atensi kepadanya.

Awal mulanya, saya kaget dapat tugas dari beliau (kepala puskesmas) langsung. Karena kepercayaan itu dibarengi niat lillahi taala, akhirnya saya coba ikuti perlahan-lahan, sejujurnya saat itu yang terpikirkan adalah takut terpapar dari jenazah Covid-19,” ujarnya kepada Radar Depok, Kamis (11/11).

Setelah nama-nama para calon petugas itu didata dan dikirimkan, tepatnya 23 April 2020, Mian mendapatkan undangan pelatihan pemulasaraan jenazah khusus Covid-19. Dengan mengendarai kuda besi kesayangannya, langsung tancap gas menuju Kantor Balaikota Depok, di Jalan Raya Margonda, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoranmas.

Alhamdulillah peserta hampir 50 orang, banyak karena ada perwakilan setiap kecamatan, dan tim relawan juga. Kami dilatih dari tim forensik Rumah Sakit (RS) Brimob, di ruang Aula Teratai Gedung Balaikota,” bebernya.

Pelatihan berlangsung dari pagi sampai sore hari. Materi yang dipelajari sangatlah bermanfaat, apalagi ditambah praktik langsung. Pertama-tama, para peserta diajari bagaimana cara memakai APD. Urutannya, pertama memakai penutup kepala, pelindung mata, masker, face shield. Apron, shoe cover, dan terakhir sarung tangan.

Proses awal menangani jenazah, memandikan, mengafani, menyolatkan sampai masuk ke peti, pokoknya diajari lengkap. Saya bertugas sebagai anggota dari tim pemulasaraan jenazah Kecamatan Cilodong. Satu tim di kecamatan ada enam orang, dua orang panitia, empat lainnya termasuk saya dan amil relawan,” tandasnya. (bersambung)

Editor : Junior Williandro