pemulasaraan jenazah
RAJIN : Mian Sulaiman saat membersihkan meja dan lantai.

Melenggangnya kasus Covid-19 di Kota Depok membuat pemulasaraan jenazah kian sepi. Mian dan rekan-rekan bisa bernafas lega sembari menjalani pekerjaan hariannya. Seperti biasa, pria kelahiran 1982 ini secara rutin memberisihkan UPTD Puskesmas Cilodong.

Laporan : Daffa Andarifka Syaifullah

RADARDEPOK.COM, Hembusan angin dingin serasa menusuk tubuh pagi ini. Setelah salat Shubuh, Mian berangkat dari rumahnya di Cibinong, Kabupaten Bogor menuju Puskesmas di Jalan Raya Jatimulya, Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Cilodong. Dengan jarak 11 km, perlu waktu 28 menit mengaspal bersama kuda besinya itu.

Begitu sampai dan memarkirkan motornya, dia bertemu dengan temannya untuk berganti shift. Maklum, semasa pandemi merebak, jam kerja menjadi berubah. Pertama-tama, Mian mengambil sapu beserta kain lap, membersihkan sisa-sisa debu di lantai maupun meja serta kursi.

“Saya kerja jadi cleaning service itu dari 2004 sampai 2012 di Puskesmas Cilodong. Kemudian resign dan masuk ke RS Salak Bogor selama satu tahun, terus di 2016 saya dipanggil lagi masuk ke puskesmas sampai sekarang,” ujar Mian Sulaiman.

Meski tugasnya hanya membersihkan ruangan, namun dia tekuni dengan ikhlas sambil menikmatinya. Padahal, saat dirinya masuk di 2004, gaji pertama yang dia peroleh hanya Rp100 ribu.

“Tapi ya dijalanin aja, lambat laun sampai 2012 sudah naik (gaji) lumayan. Lalu pas dipanggil lagi kesini di 2016, saya rasain gaji di atas Rp2 juta sampe sekarang Rp2,6 juta,” bebernya.

Sosok Mian di mata pimpinannya, Kepala Puskesmas Cilodong, Dharmaningsih, merupakan pegawai yang kinerjanya sangat baik dan totalitas. Tingginya inisiatif dan respon cepat menjadi poin utama.

“Oke banget, jempolan menurut saya. Mian kalau kerja tanpa pamrih, sering diminta bantuan teman-teman lain di luar shiftnya. Kerjanya Ringkas, rapi, resik, rawat, rajin (5R) lah,” tuturnya.

Disamping menjadi CS, Mian juga menggeluti pekerjaan sebagai penjaga makam wakaf dibilangan Kabupaten Bogor. Acapkali dia membersihkan dedaunan yang berjatuhan dan memotong rumput setiap satu bulan sekali.

“Intinya ngerawat pemakaman disana. Sambil jualan batu nisan buat nambah-nambah,” katanya.

Sebetulnya, keinginan dan cita-citanya adalah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk meni ngkatkan taraf hidup serta ekonomi. Tetapi, dengan pekerjaan yang sekarang, Mian sudah sangat bersyukur.

“Alhamduulillah pekerjaan yang sekarang sudah cukup dan bisa untuk mencukupi kebutuhan hidup. Apalagi dalam kondisi pandemi seperti sekarang,” tandasnya. (*)

Editor : Junior Williandro