nenek korban mafia tanah
CARI KEADILAN : Nenek Yosi Rosada (70), saat menyambangi Kantor PWI Kota Depok. ist
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Sidang perdana perkara Nenek Yosi Rosada (70) yang diduga menjadi korban mafia tanah, akan berlangsung pada 2 Desember mendatang. Hal ini setelah Majelis Hakim menunda sidang perdana yang harusnya digelar Senin (22/11).

Humas Pengadilan Negeri Depok, Ahmad Fadil, membenarkan bila sidang perdana nenek 70 tahun itu ditunda, sebab Majelis Hakim yang memimpin jalannya sidang sedang menjalani Pendidikan Kilat (Diklat). Hal ini membuat sidang kembali digelar pada 2 Desember. “Iya benar ditunda, karena Majelis Hakim sedang Diklat, dan akan digelar pada 2 Desember besok,” katanya saat dikonfirmasi.

Dijelaskan Fadil, perkara Nenek Yosi dilimpahkan ke Pengadilan Megeri Depok karena diduga melanggar Pasal 263 dan 266 KUHP. Namun atas nama kemanusiaan, Terdakwa tidak ditahan di Rutan Kelas I Depok, melainkan sebagai tahanan kota. Sehingga Nenek tersebut tidak boleh keluar kota selain Kota Depok.

Baca Juga  Menkes : Kita Baru Tahu Ini (Vaksin AstraZeneca) Expired Date Akhir Mei

“Betul tidak ditahan dengan pertimbangan kemanusiaan, jadi sebatas proses tahanan kota,” jelas Fadil.

Sementara itu, Haris Kuasa Hukum dari Yosi Rosada, juga menyampaikan bahwa sidang kliennya mengalami penundaan dan akan dilanjut pada 2 Desember mendatang. Pihaknya akan fokus dalam persidangan perdana Nenek Yosi, yang menurutnya dikriminalisasi para mafia tanah sehingga harus menerima penderitaan di masa tuanya.

“Saya pikir ini sangat unik. Sebenarnya pada sidang perdata di PN Cibinong telah kalah. Tapi penggugat tak puas dan melaporkan ke Polda Metro Jaya,” terangnya.

Penggugat atas nama Yusda yang kalah dipersidangan di PN Cibinong, melaporkan Nenek Yosi dengan dalih melanggar pasal 263 dan 266 KUHP. Namun, Haris menegaskan, akan fokus dalam memberikan pendampingan kepada Nenek Yosi di persidangan perdananya. Keadilan dan kebenaran harus terungkap pada kliennya yang sudah berusia senja tersebut.

Baca Juga  Polsek Cimanggis Vaksinasi 68 Orang

Pasti sekarang kami fokus beri pendampingan. Semoga keadilan dan kebenaran bisa terungkap, karena sedih melihat orang tua lanjut usia tersebut harus lewati proses persidangan,” ungkap Haris.

Perlu diketahui, kejadian tersebut berawal dari kasus hukum perdata terkait kepemilikan sebidang tanah Sertifikat Hak Milik (SHM) seluas 4.477 meter persegi di Desa Cimanggis, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, dengan tergugat Dwi Susanti dan penggugat Yusda.

Hasilnya, gugatan tersebut telah cacat hukum dan tidak memiliki kekuatan hukum sejak 2018 dalam putusan Perkara Perdata No 287/p-dt.G/2017/CBN di PN Cibinong, Kabupaten Bogor, dan inkracht hingga Peninjaun Kembali (PK) Mahkamah Agung (MA).

“Keputusan tersebut membuat Nenek Yosi menang. karena penggugat dinilai Majelis Hakim PN Cibinong cacat hukum dan tidak memiliki kekuatan,” jelas Haris.

Baca Juga  Depok Berkurban 14.160 Ekor

Karena kalah, penggugat tidak berdiam diri. Pihaknya melaporkan perkara pidana terhadap Yosi No 1344/0/YAN.2.5/2020/SPKT PMJ dengan alas lapor SHM 4.477. Laporan tersebut ditolak Polrestro Depok karena tidak ada bukti unsur pidana.

Namun, Kata Haris, anehnya di Polda Metro Jaya justru di proses laporan pidana tersebut. Padahal Nenek Yosi tidak mengetahui terkait tanah yang sudah di jual Almarhum suaminya Soegeng pada tahun 2002.

Yosi dijadikan tersangka oleh penyidik Polda Metro Jaya karena tuduhan pemalsuan surat dengan pidana pasal 263 dan 266 KUHP. “Ada dugaan Ibu Yosi jadi korban mafia tanah,” tandas Haris. (rd/arn)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Junior Williandro