SOUVENIR : Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Gerindra, Nuroji menerima souvenir dari Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Kemenparekraf, Erwita Dianti dalam Bimbingan Teknis SDM Ekonomi Kreatif Subsektor Kuliner di Kota Depok dari Direktorat Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Ekonomi Kreatif Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisatan dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia di Hotel Bumi Wiyata Depok, Kamis (18/11). FOTO : RICKY/RADARDEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Gerindra, Nuroji mendorong dibangunnya sentra kuliner khas Depok untuk menunjang serta mendukung sektor ekonomi kreatif dan destinasi pariwisata di Kota Depok.

Hal tersebut disampaikan Nuroji usai membuka Bimbingan Teknis SDM Ekonomi Kreatif Subsektor Kuliner di Kota Depok dari Direktorat Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Ekonomi Kreatif Deputi Bidang Sumber  Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisatan dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia di Hotel Bumi Wiyata Depok, Kamis (18/11).

“Depok memiliki potensi besar di sektor kuliner. Mungkin ada (Sentra Kuliner), tapi kurang populer, saya tidak tahu lokasinya, seperti Pasir Putih di mana, Beji di mana. Artinya carinlah tempat populer yang orang dari mana saja bisa tahu,” tutur Nuroji.

Dia mencontohkan, seperti di Solo yang difasilitaskan oleh Pemda, di mana disediakan lokasi yang luas, tempat parkir memadai dan orang berjualan aneka makanan serta minuman.

“Jadi, kalau ada orang tanya, makanan tenda di mana, kita bisa jawab di sana dan sebagainya. Tapi, di Depok menyebar dan skalanya kecil,” kata Nuroji.

Jika ada yang difalisilitasi Pemda atau  swasta pun ada yang mau. Dia pun, jika memiliki kemampuan untuk mewujudkan sentra kuliner tersebut tentu siap.

“Tapi saya nya tidak mampu saat ini. Jadi, sentra tersebut, biasanya kuliner mulai sore ya, jadi Mereka datang, makan dan tempat kumpul di situ,” paparnya.

Dia pun tidak menampilkan Margonda yang sudah menjadi lokasi kuliner di Depok. Namun, pelakunya sudah bisa dibilang mapan.

“Yang saya maksud sentra kuliner ini untuk para UMKM ini, Margonda pengusahanya sudah mapan tetap di pertahankan. Nah ini UMKM seperti Pecel Madiun, susu jahe, sate ayam dan lain sebagainya ada di satu tempat,” tegasnya.

Jadi, sambung Nuroji, buat orang Depok dan pendatang saat wisata kuliner ada sentra kulinernya. Sebab, saat ini masih terpencar.

“Jadi destinasi wisata kuliner, mau satu atau dua tempat boleh saja. Contohnya seperti di Yogyakarta, di depan kratonnya, di alun-alun itu kan enak untuk berkumpul dan jadi wisata kuliner. Ingin ada yang satu tempat,” bener Nuroji.

Kemudian terkait produk UMKM dan oleh-oleh khas Depok, lanjut Nuroji, ketika orang dari luar kota datang ke Depok dan mau membeli oleh-oleh khas Depok yang lengkap di satu tempat.

“Jadi sekarang itu masih terpencar, ketika nyari sambal, nanti mencarinya ke Sawangan, Dodol ke Beji kan susah kalau ingin beberapa macam,” terangnya.

Namun, jika sudah ada sentra kuliner dan UMKM khas Depok di satu tempat, maka pelancong dari daerah lain tidak akan kesulitan mencarinya.

“Mestinya Ada fasilitas itu, peran pemerintah daerah diharapkan bisa berfikir ke arah sana. Dulu saya ingat ada sentra UMKM khas Depok di Limo, tapi sangat kecil dan tidak diperpanjang lagi, jujur saja, saya sempat taruh dodol untuk dijual di sana,” ungkap Nuroji yang juga pengusaha kuliner ini.

Dulu ada di zaman Walikota Nur Mahmudi Ismail. Namun, Nuroji menganggap tempat tersebut terlalu kecil dan kurang dipromosikan.

“Jika lokasinya luas dan promosinya gencar, tentu tidak akan tutup,” tegas Nuroji.

Nuroji menjelaskan, ketika produk UMKM tersebut masih belum layak untuk dipasarkan, maka perlu ada pembinaan dan bimbingan agar produk mereka sesuai dengan standar yang diingin kan pasar dan sehatan.

“Misalnya, penggunaan kemasan daun pisang, bisa dibuat lebih menarik dengan yang lain,” katanya.

Nuroji mengungkapkan, kuliner dan UMKM memiliki potensi yang besar, serta mendongkrak ekonomi rakyat.

“Yang di Margonda sudah oke lah konsep restoran. Tapi ini yang ketinggalan, mereka yang hanya bisa bikin di rumah, lalu mau diapakan, masih mandek menunggu pameran. Jika hanya ada pameran setahun sekali, kasihan juga,” ungkap Nuroji.

Wakil rakyat dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Barat 6 (Kota Depok-Kota Bekasi) ini pun menilai, ada beberapa lokasi strategis untuk dijadikan destinasi wisata kuliner, seperti di Alun-Alun Kota Depok Kecamatan Cilodong atau di Masjid Kubah Emas Kecamatan Limo.

Dia juga menganggap, meski sudah ada pemasaran melalui marketplace atau secara online. Namun, tujuan lain dengan destinasi wisata dapat saling melengkapi.

“Untuk lebih mengenalkan kuliner di Depok itu apa, nanti di antara para pelaku UMKM bisa bersaing, mana yang lebih unggul dan semangat meningkatkan kualitasnya  UMKM-nya, dengan adanya sentra kuliner tersebut,” ucap Nuroji

Pada kesempatan tersebut, Nuroji pun mengucapkan terima kasih kepada Kemenparekraf melalui Direktorat Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Ekonomi Kreatif Deputi Bidang Sumber  Daya dan Kelembagaan yang menggelar Bimtek untuk pelaku UMKM di Kota Depok.

“Semoga Bimtek ini dapat bermanfaat dan membuat UMKM Depok dapat naik kelas,” pungkas Nuroji.

Di tempat yang sama, Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Kemenparekraf,

Erwita Dianti mengaku senang dengan bimtek yang digelar di Depok. Sebab, pelaku UMKM Depok sangat semangat dan aktif.

“Saran saya, rajin-rajin menjemput bola, buka medsos Kemenparekraf untuk mengikuti program serta pameran,” ucap Erwita. (cky)

 

Editor : Ricky Juliansyah