ilustrasi sidang
ILUSTRASI : Suasana Sidang di Kantor Pengadilan Negeri Depok. Terdakwa pembunuhan kejam istri siri dituntut 13 tahun penjara. ARNET/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Amirrudin alias Aming (34), terdakwa pembunuh istri siri, RK, dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) 13 tahun penjara, usai menjalani sidang penuntutan di Kantor Pengadilan Negeri Depok.

Pada perkara dengan Nomor 335/Pid.B/2021/PN Dpk, terdakawa jelas dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 338 KUHPidana.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Amirrudin Alias Aming dengan pidana penjara selama 13 tahun dikurangi selama terdakwa ditahan dengan perintah terdakwa tetap ditahan,” kata JPU Ahmad Nurkhamid di dalam Surat tuntutan.

JPU menjerat Aming dengan Dakwaan Alternatif, yaitu Pertama, Pasal 338 KUHPidana atau Kedua, Pasal 351 Ayat (3) KUHPidana.

Dalam surat dakwaan dikatakan, terdakwa pada Jumat, 9 Juli 2021 sekira pukul 03.12 WIB, bertempat di rumah kontrakan Jalan Masjid Al Fathimiyah RT02/05 Kelurahan Pondok Jaya, Kecamatan Cipayung, dengan sengaja merampas nyawa orang lain.

“Menyatakan barang bukti berupa 1 unit sepeda motor Yamaha Vega R warna putih biru Nomor Polisi B 6333 TJJ beserta kunci kontak dinyatakan, dikembalikan kepada terdakwa. Sedangkan satu buah karpet, dirampas untuk dimusnahkan,” jelasnya.

Kejadian tersebut berawal pada Kamis, 8 Juli 2021 sekira pukul 16:00 WIB. Korban memberitahukan kepada terdakwa akan ada pelanggan datang ke rumah hendak melakukan persetubuhan, karena korban menawarkan jasa prostitusi online via Michat dan menyuruh terdakwa untuk keluar rumah.

Lalu, sekira pukul 00:40 WIB, ada lagi pelanggan yang datang ke rumah dan dilayani korban. Berlanjut ke pelanggan yang ketiga datang sekira pukul 02:00 WIB dan juga dilayani korban.

Diketahui korban dalam sekali melayani pelanggan bertarif Rp250 ribu. Hal ini diketahui setelah Terdakwa menanyakan ke korban berapa tarifnya. Namun sebelumnya, korban mengatakan kepada Terdakwa, tarif satu orang sebesar Rp300 Ribu. Saat itu Terdakwa dan korban mulai adu mulut terkait uang tarif jasa prostitusi.

“Akhirnya korban memaki-maki terdakwa, dengan perkataan, dah diem aja lo laki gak berguna, gak bisa kerja juga, gak bisa nyari duit, gak bisa puasin gue kalo main. Hal itu membuat terdakwa emosi dan sakit hati,” jelas JPU saat persidangan.

Atas makian itu, terdakwa malah menyuruh korban untuk tidur, mengajak korban untuk berhubungan badan dimana saat itu korban dalam kondisi telanjang busana kemudian terdakwa naik di atas perut korban. Saat itu, korban masih marah dengan berkata kasar. Mendengar itu, terdakwa menjadi emosi dan sakit hati.

Selanjutnya, terdakwa mengambil pisau cutter yang sebelumnya sudah ada di samping korban. Sambil dalam keadaan duduk di atas perut korban, dengan menggunakan tangan kanan, terdakwa menggorokan pisau cutter ke leher korban.

Saat korban berusaha untuk melawan dan melepaskan diri dari ancaman terdakwa, jari tangan, siku dan bagian bawah ketiak korban terkena sayatan pisau cutter. Akan tetapi, usaha yang dilakukan korban tersebut sia-sia.

Setelah menyayat leher korban, kemudian terdakwa menyeret kaki korban yang sudah lemas dan tidak berdaya lalu dimasukkan ke dalam kamar mandi. Terdakwa selanjutnya mencuci tangan dan mengunci pintu kamar mandi dari luar. Sesudah itu terdakwa keluar kontrakan lalu pergi ke atas jembatan dan membuang pisau cutter ke sungai yang berada di depan masjid dekat kontrakan.

Lalu, terdakwa kembali lagi ke kontrakan dan mengambil HP milik korban, jaket dan tas miliknya kemudian pergi mengunakan sepeda motor ke rumah saksi Ahmad Gunawan.

Namun sebelumnya, terdakwa berhenti di jembatan. Sambil membuka ponsel milik korban, terdakwa membaca pesan Michat. Dikarenakan, terdakwa merasa kesal disertai emosi, terdakwa melempar ponsel korban tersebut ke sungai. (rd/arn)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Junior Williandro