polusi
UDARA DEPOK : Potret Kota Depok dari ketinggian di Kawasan Universitas Indonesia (UI) dengan memperlihatkan udara di atas permukiman Kota Depok. ARNET/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Kualitas udara dapat dipastikan baik dalam satu tahun ini. Guna menjaga capaian ini, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok melakukan uji emisi seribu kendaraan berbahan bakar bensin dan solar, di tujuh titik utama Kota Depok.

Kepala DLHK Kota Depok, Ety Suryahati menegaskan, kualitas udara di Kota Depok dalam kategori sudah satu tahun ini dengan alat pengukur AQMS yang berkolaborasi dengan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kebersihan (KLHK). Tercatat dari Januari sampai September Kota Depok selalu menunjukan warna hijau dan biru.

“Warna hijau selalu mendominasi ya, hanya beberapa yang biru. Jadi arti warna itu, kalau warnanya hijau itu baik dan warna biru itu sedang,” tegasnya saat dikonfirmasi Radar Depok, Selasa (2/11).

Perlu diketahui, alat pengukur AQMS yang dikeluarkan KLHK juga diterapkan lebih dari 35 Kota dan Kabupaten yang tersebar se Indonesia. Penggunaan alat tersebut dinilai efektif karena melihat beberapa parameter pm10, so2, co, co3, no2.

pm10 merupakan parameter untuk menyatakan banyaknya kandungan debu dalam udara dan kandungannya. Lalu so2 adalah parameter Sulfur Dioksida. Untuk co adalah Karbon monoksida yang merupakan salah satu gas hasil pembakaran tidak sempurna kendaraan bermotor. co3 adalah kandungan kualitas air. no2 adalah nitrogen dioksida.

“Semua parameter tersebut menunjukan angka di bawah 50 dalam satu tahun terakhir ini. standar kualitas baik yaitu dari 0 sampai 50. Kalau kualitas udara sedang berada di angka 50 sampai 100,” papar Ety.

Menurut data yang diterima Radar Depok pada tanggal 30 September, untuk parameter pm10 berada di angka 52, so2 di angka 25, co berada di angka 13. Lalu, untuk co3 dan no2 menunjukan angka nol pada masing-masing parameter.

Ety menilai, kualitas udara Depok yang tidak baik mungkin di lihat dengan alat pengukur lain yang pengukurannya melalui satelit di udara, sehingga menghitung kurang terperinci dan tidak bisa dijadikan acuan, karena yang kewenangan kualitas udara ada di KLHK.

“Kementerian yang berhubungan dgn polusi udara itu KLHK yang langsung melakukan pengukuran. Karena udara itu tidak ada batasnya bergerak kemana-mana, tidak mungkin dibatasi wilayahnya,” terangnya.

Bahkan, DLHK melalui Bidang Pengendalian, Pencemaran, dan Penataan Lingkungan (P3L) telah melakukan uji emisi pada 986 kendaraan bermotor, mulai menahan bakar solar dan bensin. Dari total tersebut ada 926 kendaraan yang melintas di Kota Depok lulus uji emisi, sedangkan 60 diantaranya tidak lolos.

“Iya semua rata-rata lolos uji emisi. Ini memang upaya kita dalam mempertahankan kualitas udara di Depok,” terang Kabid P3L Bambang diruang kerjanya.

Ketujuh titik, dibeberkannya, di Jalan Raya Cinere, Jalan Raya Muchtar Sawangan, Jalan Tole Iskandar Sukmajaya, Jalan Raya Bogor, Jalan Nusantara Pancoran Mas, dan Jalan Margonda Raya.

Rincian yang lulus dan tidak uji emisi, baik solar maupun bensin. Rinciannya, 896 kendaraan bahan bakar bensin lulus, 30 kendaraan bahan bakar solar lulu. Lalu, 27 kendaraan bensin tidak lulus dan 33 kendaraan solar tidak lulus.

“Setiap yang lulus kita tempel stiker dan berikan kartu sebagai bukti telah lulus uji emisi. Kurun waktunya selama satu tahun. Waktu saat oengujian hanya 3 sampai 5 menit,” ungkapnya.

Memang saat ini, alat pengukur udara milik Kota Depok yang berada di depan Kantor Walikota sedang dalam perawatan karena pada awal bulan November mengalami kerusakan, ada salah satu parameter yang menunjukan warna hitam hingga berada di angka ribuan, padahal angka di pada warna hitam hanya 300 sampai 500.

“Sekarang sedang perawatan karena error pak. Karena beberapa waktu lalu angka di salah satu parameter ngaco sampai ribuan angkanya, padahal tidak angka sebesar itu, mentok hanya di 500 untuk warna hitam tidak sampai ribuan,” tandas Bambang. (rd/arn)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Junior Williandro