tole iskandar
BERPOSE : Keponakan Tole Iskandar, Arifin Darmo Wahyu saat berpose di Tole Iskandar Park. GERARD/RADAR DEPOK

10 November setiap tahun diperingati sebagai Hari Pahlawan. Banyak aktifitas yang dapat dilakukan untuk mengenang jasa para Pahlawan yang telah gugur dalam medan perang. Untuk warga Depok, tentu tak asing dengan nama Tole Iskandar. Pahlawan, yang akhirnya diabadikan jadi nama salah satu jalan utama di Depok. Bagaimana kisahnya?

Laporan : Gerard Soeharly

RADARDEPOK.COM, Sedari pagi hingga menjelang siang, Arifin Darmo banyak menghabiskan waktunya untuk membersihkan taman. Sampah daun kering yang sudah mati, ia angkut. Dimasukan ke dalam tempat sampah. Dia ingin agar Tole Iskandar Park tetap bersih. Supaya masyarakat yang berkunjung betah.

Arifin tidak sendiri. Dia dibantu dua orang kerabatnya. Cuma berkaos oblong dan bercelanan pendek, ia tampak santai. Tole Iskandar Park berdiri diatas lahan seluas 1 hektare. Di dalamnya ada gelanggang olahraga dan musala.

Mumpung waktu senggang, sekalian membersihkan,” ungkapnya saat menyambut kedatangan Radar Depok.

Dia adalah keluarga langsung dari Tole Iskandar. Arifin adalah keponakannya. Ibundanya adalah adik dari Tole Iskandar.

Tole adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Ke enam adiknya yaitu Tuti, Sukaesih, Sugito, Suyoto, Mulyati, dan Slamet Mulyono. Mereka adalah anak dari pasangan Raden Samidi Darmorahardjo dan Sukati binti Raden Setjodiwiryo.

“Dia adalah pahlawan sejati buat saya dan keluarga saya. Karena, pada saat itu kan sudah hidup enak tetapi lebih memilih untuk jadi tentara memperjuangkan bangsa ini,” kata Arifin.

Darmo mulai menceritakan kisah pamannya yang gugur di medan perang. Tole wafat pada usia sekira 25 tahun. Ia gugur ketika menghadapi dengan sekutu di daerah Cikasintu, Sukabumi, Jawa Barat, pada 1947 bersama Batalion 8.

Kala itu pangkatnya Letnan Dua. Kini makam Tole Iskandar berada di Taman Makam Pahlawan Dreded, Kota Bogor, setelah dipindahkan dari Sukabumi.

Tole bertempur bersama anjing kesayangan. Bukan sembarangan peliharaan. Sudah dilatih untuk berperang. Keduanya gugur bersama. Di dalam parit.

Ceritanya begini. Saat itu, Tole bersembunyi di dalam parit bersama anjingnya itu. Menunggu tentara Belanda melintas. Mungkin keburu nafsu, si anjing justru menyerang duluan. Keluar dari parit.

Tentara Belanda langsung menembak. Tole berupaya menyelamatkan, namun akhirnya menjadi akhir hayat dari pemuda pemberani tersebut.

Semakin larut, dia mencoba menjelaskan, kisah awal nama pamannya digunakan pada jalan besar di Kota Depok. Sebelum ada Jalan Margonda, akses masuk dari Batavia ke Depok hanya bisa melewati satu jalan, yakni yang sekarang dikenal dengan Jalan Tole Iskandar, Simpangan Depok.

Nama Jalan Tole Iskandar Raya itu diresmikan pada 1973, pada jalan yang jadi pangkalan militer Belanda itu pula, Tole Iskandar sempat membantai lawannya. “Jadi, perangnya itu bergerilya ya, mulai dari Simpangan Depok, geser ke Bojong Gede sampai ke Bogor,” beber Darmo.

Melalui Gedoran 21, pasukan yang dipimpinnya, Tole Iskandar terlibat perang panas dengan Pasukan Belanda yang pada saat itu dikenal dengan NICA. Tole bahkan mampu menembak jatuh pesawat milik NICA.

“Setelah merdeka kan masih berperang, di Depok sendiri itu kan belum kondusif,” tutupnya. (*)

Editor : Junior Williandro