Oleh : Aufa Nur Af’idah,

Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Pamulang

 

BERBICARA tentang karir pendidikan Wanita, di zaman sekarang wanita memiliki kebebasan untuk menentukan hidupnya. Bebas melakukan apapun dan menjadi apapun. Namun di samping kebebasan itu kita perlu tahu dulu bagaimana keadaan wanita pada zaman dahulu. Jika dilihat dari sejarah, pada zaman Yunani wanita dari kalangan bawah malah menjadi komoditi untuk diperjual belikan. Tugas-tugas wanita di masa ini adalah sebagai pemuas kaum pria. Tidak lepas dari hal itu, berlanjut dari zaman Yunani kita masuk ke zaman Romawi dimana dalam peradaban Romawi kedudukan wanita sebanding dengan budak yang tugasnya menyenangkan dan menguntungkan tuannya. Wanita tidak diizinkan untuk mengambil bagian dari segala urusannya, hak-hak kaum wanita dirampas oleh kaum pria. Tidak jauh lebih baik dari zaman romawi, dalam sejarah ada zaman dimana wanita dianggap sebagai makhluk yang penuh dosa, yaitu di zaman Nasrani dan Yahudi. Pada zaman itu wanita dianggap penyebab dikeluarkannya Adam dari surga, bahkan wanita dianggap sebagai ibu dari sebuah kesengsaraan.

Jadi, dapat kita lihat bagaimana dulu peradaban menempatkan wanita pada posisi yang rendah, kedudukan wanita tidak jauh dari penghinaan serta perbudakan. Sejak dulu wanita mengalami diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan. Akibatnya, wanita banyak yang trauma karena terlalu tertekan dengan aturan-aturan yang sangat tak menghargai mereka. Hal itu yang membuat kaum wanita sulit untuk memiliki rasa percaya diri dalam mengembangkan potensi dirinya.

Kita semua pasti sadar bahwa zaman sekarang ini penuh dengan tantangan dan kebebasan. Suatu permasalahan yang sejak dulu sering didengungkan oleh para orang tua, yakni tentang nasib pendidikan anak perempuannya. Masyarakat pada umumnya belum menyadari tentang pentingnya pendidikan bagi anak perempuan. Hingga ada yang mengatakan anak perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena nantinya akan kembali ke pekerjaan rumah tangga juga, yang pasti berkutat sekitar dapur, kasur, dan sumur. Menurut pandangan saya sendiri asumsi seperti itu tidak seharusnya dinobatkan untuk kaum wanita, karena sejatinya seorang wanita akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak, dan seorang ibu adalah guru pertama yang akan mengajari anak-anaknya. Jadi bisa dibayangkan jika seorang wanita tidak memiliki ilmu pendidikan yang bagus, bagaimana ia akan mendidik anak-anaknya untuk menjadi generasi yang lebih baik?

Baca Juga : https://www.radardepok.com/2021/11/who-prediksi-dunia-krisis-jarum-suntik-di-2022/

Menempati peran sebagai seorang ibu justru adalah sebuah tanggung jawab yang besar, dan inilah yang kemudian menjadi sebuah alasan wajib bagi wanita untuk menempuh pendidikan yang tinggi, sebab masa depan rumah tangga akan ada di tangannya. Pria selaku kepala rumah tangga mungkin saja akan menjadi tulang punggung keluarga, namun wanitalah yang pada umumnya menjadi sosok yang serba bisa dan akan menangani banyak hal lainnya (di luar nafkah) di rumah tangga itu sendiri. Dibutuhkan sejumlah pengalaman dan juga kemampuan yang baik untuk mengurus berbagai hal di dalam rumah tangga, dan ini akan menjadi sesuatu yang lebih mudah jika saja wanita mendapatkan pendidikan yang tinggi dan layak sebelum menikah.

Wanita yang memiliki pendidikan tinggi akan lebih siap untuk menghadapi semua perkembangan teknologi dan juga informasi yang terjadi. Anak-anak akan bertumbuh dan berkembang mengikuti kemajuan zaman dengan teknologi internet, tanpa adanya sebuah pengawasan yang tepat dari ibunya, sebab ibunya sendiri juga tidak paham akan semua perkembangan tersebut dengan baik. Jika sudah begini, bukan hanya dirinya sendiri, namun masa depan anak-anak juga tidak akan tertata dengan sebagaimana mestinya bukan?

Tidak bisa dipungkiri, zaman sekarang ini media sosial menjadi life style (gaya hidup), hingga orang tua harus mampu menanamkan pendidikan, aqidah, dan tauhid yang kuat terhadap anak-anaknya. Agar tidak terjerumus kedalam kehancuran mental maupun aqidah. Orang tualah yang menjadi penentu masa depan anak-anaknya. Di tangan orang tualah masa depan anak di gantungkan. Tinggal memilih jalan yang terbaik atau jatuh kedalam lembah kerusakan moral. Bekal pendidikan yang cukup tentu akan membuat wanita lebih siap dan mampu untuk menghadapi berbagai tantangan, yang pastinya akan membawa kehidupan yang lebih baik untuk dirinya sendiri dan juga orang lain di sekitarnya. (*)