DBD
ASAP : Warga Depok melakukan fogging guna mencegah DBD. DOK RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Angka kasus demam berdarah dengue (DBD) mulai meningkat di Kota Depok. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Diskes) pada Oktober 2021, tercatat ada 309 kasus. Jumlah ini naik dibandingkan bulan sebelumnya, sebanyak 212 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Depok, Umi Zakiati mengatakan, jika dilihat pada grafiknya, kasus DBD terjadi kenaikan pada bulan Oktober Hal tersebut beriringan dengan pergantian musim.

“Pergantian cuaca berpengaruh pada penyebaran atau tumbuh kembang jentik-jentik nyamuk aedes aegypti. Untuk itu masyarakat diminta waspada,” ujarnya kepada Radar Depok, Kamis (11/11).

Menurutnya, faktor penyebab lainnya atas kenaikan kasus DBD adalah kepekaan dan kepedulian masyarakat dinilai kurang. Dalam kebersihan lingkungan, khususnya Pemberantasan Saran Nyamuk (PSN).

“Pemahaman dan kemauan masyarakat masih ada yang kurang. PSN dengan cara 3M Plus perlu terus dilakukan secara berkelanjutan sepanjang tahun khususnya pada musim penghujan,” bebernya.

Menurut Umi, pihaknya sudah melakukan monitoring terhadap laporan kasus dari puskesmas, RS, juga fasilitas layanan kesehatan swasta. Dengan tujuan kasus DBD di Depok dapat terus terpantau.

Kami terus melakukan penanganan kasus DBD. Selain juga sudah menginstruksikan puskesmas dan RS untuk menangani pasien DBD sesuai kewenangan dan standar operasional prosedur (SOP),” ucapnya

Mantan Kepala UPTD Puskesmas Cimanggis ini merinci, selama dua bulan, Kecamatan Pancoranmas menduduki peringkat tertinggi kasus DBD, yaitu 51 kasus pada September dan 58 kasus di Oktober 2021.

Disusul peringkat kedua adalah Kelurahan Beji yang menyabet peringkat kedua dengan 30 kasus di September dan 53 kasus pada Oktober 2021. Sedangkat, peringkat ketiga pada September yaitu Kecamatan Tapos sebanyak 24 kasus, dan Oktober diduduki Kecamatan Cilodong dengan Kecamatan Cilodong yakni 32 kasus.

“Kecamatan terendah pertama pada September adalah Kecamatan Bojongsari, 2 kasus, serta Oktober Kecamatan Cinere, 4 kasus. Untuk tahun ini sampai dengan terakhir ada 2 kasus meninggal,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, sinergisitas dengan puskesmas dan RS dilakukan agar penderita DBD dapat memperoleh pengobatan secara tepat. Sehingga masyarakat dapat terbebas dari penyakit tersebut.

Dinkes Kota Depok juga memberi imbauan kepada masyarakat melalui kelurahan dan kecamatan dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, seperti menguras tempat yang sering dijadikan penampungan air, menutup rapat-rapat tempat penampungan air. Juga memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti

“Kami juga melakukan pemeriksaan jentik berkala (PJB), larvasidasi di wilayah masing-masing dengan pelaksanaan foging fokus pada wilayah yang ditemukan kasus DBD,” jelasnya.

Dia pun berharap dengan berbagai langkah yang dilakukan dapat meminimalisir kasus DBD di Kota Depok. Tentunya dengan kontribusi dari masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan.

“Perlu dukungan dan kontribusi dari masyarakat dengan perilaku hidup bersih serta tetap menjaga lingkungan,” tandasnya.

Terpisah, Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, T. Farida Rachmayanti mengungkapkan, adanya lonjakan kasus, perlu segera dilakukan upaya preventif. Serta, pendampingan kepada masyarakat harus diperkuat.

“Dari mulai sosialisasi, edukasi dan pembinaannya. Peran Perangkat Daerah Kecamatan signifikan dalan hal gerakan pencegahan DBD,” ungkapnya.

Sosialisasi dan edukasi sebagai early warning harus sampai ke rumah-rumah. Terlebih, sistem kesehatan daerah kita berbasis Smart Healthy City. Depok Single Window sebagai aplikasi yang menjembatani komunikasi pembangunan diefektifkan.

Penyebaran virus melalui perantara nyamuk ini tidak bisa dianggap remeh karena ketika dalam kondisi parah dapat menyebabkan pendarahan serius, penurunan tekanan darah yang tiba-tiba drastis dan dan bahkan bisa berujung kematian.

“Selain upaya promotif preventif pemerintah Kota Depok sejak awal memastikan kesiapan sapras untuk memenuhi pelayanan rawat inap di rumah sakit. Dari sisi tempat tidur, sumber daya manusia (SDM) serta obat-obatan,” tandasnya. (rd/daf)

Jurnalis : Daffa Syaifullah

Editor : Junior Williandro