dbd
ANTISIPASI : Petugas PMI Kota Depok ketika melakukan ipaya pencegahan DBD di permukiman RW 16, Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Tapos. Sebanyak tiga petugas PMI diterjunkan ke lokasi. ARNET/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Pasien anak mendominasi pada peningkatan kasus demam berdarah (DBD) di RSUD Kota Depok, dalam tiga hari terakhir, tepatnya sejak Minggu (28/11).

“Peningkatannya banyak banget, mulainya dari hari Minggu kemarin. Terutama pasien anak-anak,” ungkap MOOD RSUD Kota Depok, Heru Mulyana kepada Radar Depok, Selasa (30/11).

Dibeberkannya,bila dalam satu bulan, November terjadi kenaikan sebanyak 50 pasien. Setelah sebelumnya terdapat 30 pasien pada bulan Oktober. Sehingga total pasien DBD di RSUD Kota Depok sebanyak 80 pasien.

“Dalam sebulan cukup tinggi kenaikannya, ada 50 pasien ya. Itu didominasi anak, tapi untuk sebaran berapa jumlah anak dan dewasa dari total tersebut belum dipilah,” katanya.

Termasuk, tingkatan berbahaya DBD tersebut juga belum dipilah secara mendetail. Namun dipastikan Heru ada tingkatannya, misalnya jika sudah sampai perdarahan maka pasien masuk derajat berat. “Pastinya ada ya tingkatan. Itu untuk derajatnya belum kita pilah juga secara detail,” tambah Heru.

Dipastikannya, untuk derajat itu digubakan sebagai terapi sehingga yang menentukan dokter, dilihat dari manifestasi klinik pasiennya.

Heru mengakui, kenaikan drastis pasien DBD dikarenakan virus DBD lebih banyak ditularkan melalui nyamuk, jadi kemungkinan besar disebabkan karena sekarang mulai masuk musim penghujan dimana akan banyak terjadi genangan air yang bersih dan itu merupakan tempat favoritnya nyamuk untuk berkembang biak.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Diskes) pada Oktober 2021, tercatat ada 309 kasus. Jumlah ini naik dibandingkan bulan sebelumnya, sebanyak 212 kasus. Bahkan pada tahun ini ada dua kasus yang meninggal dunia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Depok, Umi Zakiati, membenarkan bila pada bulan Oktober ada oeningkaran kasus DBD yang dipengaruhi dengan pergantian musim kemarau ke hujan.

Perubahan cuaca, katanya, memicu oenyebaran atau tumbuh kembang jentik nyamuk Aedes Aegyti sehingga patut diwaspadai masyarakat.

Bahkan, menurunnya kewaspadaan masyarakat untuk lebih peka dan peduli pada potensi berkembangnya jentik nyamuk. Terutama dalam hal kebersihan lingkungan, seperti Pemberantasan Saran Nyamuk (PSN).

“Gairah masyarakat dalam PSN dengan cara 3M tersebut masih kurang ya. Tidak dilakukan secara berkelanjutan, tidak dijadikan satu gaya hidup yang bersih,” papar Umi.

Dilanjutkannya, bahwa petugas sudah melakukan monitoring terhadap laporan kasus dari puskesmas, RS, juga fasilitas layanan kesehatan swasta. Dengan tujuan kasus DBD di Depok dapat terus terpantau.

“Yang pasti kami rerus berupaya menangani DBD. Begitu juga Puskesmas dan RS untuk melakukan penanganan sesuai kewenangan dan standar operasional prosedur (SOP),” terangnya

Sesuai dengan rincian Dinkes Kota Depok, selama dua bulan, Kecamatan Pancoranmas menduduki peringkat tertinggi kasus DBD, yaitu 51 kasus pada September dan 58 kasus di Oktober 2021.

Disusul peringkat kedua adalah Kelurahan Beji yang menyabet peringkat kedua dengan 30 kasus di September dan 53 kasus pada Oktober 2021. Sedangkat, peringkat ketiga pada September yaitu Kecamatan Tapos sebanyak 24 kasus, dan Oktober diduduki Kecamatan Cilodong dengan Kecamatan Cilodong yakni 32 kasus.

“Untuk Kecamatan terendah ada Bojongsari 2 kasus, Kecamatan 4 kasus. Bahkan tahun ini sampai dengan terakhir ada 2 kasus meninggal,” beber Umi.

Berdasarkan dengan data yang dikeluarkan perbulan September Kementrian Kesehatan RI Kota Depok menduduki peringkat pertama kasus DBD se Jawa Barat dengan total kasus 1.924 pasien. (rd/arn)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Junior Williandro