ylki
Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi

RADARDEPOK.COM – Setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memantau keberadaan penipuan investasi minyak goreng, di Pancoranmas Kota Depok. Selasa (23/11), giliran Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyoroti kasus yang menimpa hampir 500 orang dengan kerugian mencapai miliaran rupiah. YLKI meminta Polres Metro (Polrestro) Depok mengusut penipuan tersebut sampai tuntas.

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi mengatakan, meski tidak masuk dalam kategori konsumen dalam Undang–Undang Perlindungan Konsumen. Tulus meminta agar aparat kepolisian dalam hal ini Polrestro Depok menindaklanjuti laporan korban penipuan investasi pre order (PO) minyak goreng ini.

“Korban investasi minyak goreng ini tidak masuk dalam ranah perlindungan konsumen, karena yang dimaksud konsumen adalah pemakai akhir dari suatu produk. Sedangkan kejadian penipuan PO  minyak goreng ini merupakan pidana biasa yag diatur dalam KUHP,” kata Tulus kepada Harian Radar Depok, Selasa (23/11).

Tulus mengaku, pihaknya sudah sering mendapatkan pengaduan penipuan model seperti ini. Maka dari itu dia meminta agar kepolisian bisa mengusut kasus ini hingga tuntas, dan memutus mata rantai penipuan ini. “Penipuan model kaya gini udah sering. Cuma yang saya heran kok masih banyak yang percaya yah,” tuturnya.

Dia menjelaskan, memang di awal transaksi umumnya pelaku akan memberikan kuntungan yang dijanjikan pada korbannya. Akan tetapi itu tidak lain merupakan akal bulusnya untuk menjerat korban yang lebih banyak lagi. “Keuntungan di awal itu umpan, agar korbanya menambah modal investasinya sekaligus menjaring korban lebih banyak. Ini sangat sering terjadi di Indonesia,” bebernya.

Dia juga meminta agar kasus ini bisa sampai ke ‘meja hijau’ dan pengadilan bisa menjebloskan pelaku ke jeruji besi. Sekaligus mengembalikan kerugian yang dialami konsumen, sesuai dengan modal yang dikeluarkan.

“Jangan hanya pidana saja yang dijatuhkan, tapi keperdataanya juga. Paling tidak pengadilan bisa menyita harta benda milik pelaku untuk membayar ganti rugi korban senilai kerugiannya. Tidak perlu dikembalikan seusuai untung yang dijanjikan karena itu omong kosong,” tegasnya.

Menimpali hal ini, Kasat Reskrim Polrestro Depok, AKBP Yogen Heros menuturkan, pihaknya saat ini sudah menindaklanjuti laporan korban penipuan PO minyak goreng ini. Dan akan menginformasikan perkembangan penyelidikan lebih lanjut. “Besok (Hari ini) akan saya rilis kasusnya,” tutup AKBP Yogen.

Sebelumnya, Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI) OJK, Tongam L Tobing mengungkapkan, yang dilakukan korban dengan cara melapor ke polisi merupakan tindakan yang tepat. Karena korban juga sudah membawa bukti-bukti yang lengkap. “Korban juga sudah menyampaikan bukti yang lengkap sehingga dia bisa menyampaikan fakta dan dapat langsung ke proses hukum,” ungkapnya kepada Harian Radar Depok, Senin (23/11).

Tongam menambahkan, dugaan penipuan yang memang wajib dilaporkan, salah satu syaratnya harus melengkapi bukti-bukti seperti bukti penawaran, transaksi hingga percakapan. Ini agar valid bahwa telah terjadi penipuan investasi minyak goreng. “Salah satu syarat dalam penyidikan yaitu kecukupan bukti, kemudian nanti akan dicari tersangkanya,” tegasnya.

Salah satu korban penipuan investasi minyak goreng, Ade Ernawati mengatakan, para korban melapor ke Polrestro Depok terkait penipuan PO minyak goreng  pada Kamis (18/11). Namun korban diharuskan melengkapi data-data yang dibutuhkan pihak kepolisian. “Saya sudah melapor ke Polrestro Depok, namun disuruh pulang untuk melengkapi catatan, padahal sudah lengkap,” ujarnya kepada Harian Radar Depok, Senin (22/11).

Hari ini (kemarin) para korban berkumpul di rumahnya di Perumahan Permata Lebak Wangi Kelurahan Pemagasari, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor. Saat pertemuan ada lima korban yang datang untuk berdiskusi bagaimana cara mengatasi permasalahan yang dialami para korban. Dari pertemuan tersebut ternyata terdapat lima orang yang juga merupakan korban dari pasangan suami istri tersebut. Total keseluruhan kerugian yang di capai dari lima korban  yakni Rp391 juta. “Hari ini (Kemarin) kami berkumpul dan berdiskusi karena korban lain juga sudah ditagih seler, dan mau minta penyelesaiannya kemana,” ucapnya.

Ade menyebut, saat ini, para korban sudah bersama kuasa hukum dan hanya mengikuti arahan. Data-data yang akan menjadi bukti kini sudah ditangan kuasa hukum. Nantinya, para korban akan kembali melapor ke Polrestro Depok bersama kuasa hukumnya. “Kami hanya mengikuti apa yang disampaikan oleh pengacara,” tegasnya.

Perlu diketahui, penipuan dengan sistem pre order (PO) ini d mulai sejak 2019 dan baru diketahui November 2021. Kedua terduga pelaku merupakan sepasang suami istri : Syaifullah alias Ipul dan Siti Koadah alias Mama Fika atau Ibu Eko di Kampung Pitara, Kecamatan Pancoranmas Kota Depok. Hingga kini total ada 500an lebih warga yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) menjadi korban penipuan. Dan ditaksir kerugian mencapai miliaran rupiah.(dra/van/rd)

Jurnalis : Ivanna Yustiani, Indra Abertnego Siregar

Editor : Fahmi Akbar