epidemologi
Pengamat Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Profesor Tri Yunis Miko Wahyono

RADARDEPOK.COM – Langkah pemerintah mendiadakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3, di seluruh kabupaten/kota, dapat dukungan Ahli Epidemologi Universitas Indonesia (UI) Profesor Tri Yunis Miko Wahyono. Alasannya, jika aturan itu diterapkan akan membingungkan kota dan kabupaten yang sudah Level 2 atau 1. Apalagi, saat ini Kota Depok sudah masuk dalam PPKM level 2

Tri Yunis mengatakan, kalau sampai pemerintah kembali menetapkan PPKM Level 3 untuk kota/ kabupaten yang sudah mencapai Level 2 dan 1. Hal ini dapat membingungkan pemerintah kota/kabupaten.

“Kalau tiba–tiba dibikin level 3 kan jadi bingung, karena otomatis ada parameter yang diubah, sementara para meter leling PPKM itu kan dari capaian vaksinasi dan angka kasus penularan. Kalau berubah parameter apa yang digunakan,” ucap Tri Yunis kepada Harian Radar Depok, Rabu (8/12).

Meski mendukung pembatalan kenaikan level PPKM, Tri Yunis juga mminta pemerintah mengambil kebijakan yang tepat dalam mengantisipasi ledakan kasus Covid-19 saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) mendatang.  “Pemerintah harus membuat program yang sesuai dengan tujuannya, yaitu menurunkan angka kerumunan saat Nataru,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, pemerintah harus membuat suatu pembatasan kegiatan baru yang sesuai dengan tujuannya, seperti menurunkan kapasitas alat transportasi dan tempat wisata dan hiburan lainnya selama libur Nataru.  “Kapasitas publik harus diturunkan mulai 24 Desember  2021 – 2 Januari 2022,” tuturnya.

Selain itu, lanjut dia, Pemerintah juga harus membuat check point di setiap perbatasan kabupaten/kota. Ini untuk mengantisipasi lonjakan aktivitas bepergian masyarakat, serta meningkatkan tracing bagi masyarkat.

“Semua perbatasan kabupaten/kota harus ada check pointnya, nantinya di sana kalau orang mau keluar kota harus dicek pakai aplikasi Pedulilindungi atau bila perlu dilakukan swab antigen di lokasi. Jika dinyatakan tidak layak melintas yang bersangkutan harus disuruh pulang, tidak boleh melintas,” bebernya.

Dia menjelaskan, keberadaan check point ini sangat penting untuk menekan laju mobilitas warga saat libur Nataru, terutama pada saat malam pergantian tahun.

“Pemerintah juga harus membuat sebuah kebijakan yang ketat agar masyarakat selalu menerapkan protkol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak dan sebagainya, agar jangan sampai masyarakat lengah dan mudah terjangkit virus Covid-19,” tegasnya.

Sementara, Kepala Divisi Penanganan Satrgas Covid-19 Kota Depok, Sri Utomo menjelaskan, angka penularan Covid-19 di Kota Depok semakin terkendali. Berdasarkan data yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok per 7 Desember 2021, ada 40 kelurahan tercatat nol kasus  konfirmasi aktif Covid-19.

Puluhan kelurahan tersebut antara lain, Sukamaju, Sukatani, Tanah Baru, Abadijaya, Sukamaju Baru, Pancoranmas, Cilangkap, Sukmajaya, Ratujaya, Kalibaru, Kukusan, Pondok Petir, Harjamukti, Kalimulya, Curug, Depok Jaya, Pengasinan dan Pasir Gunung Selatan.

Kemudian Kelurahan Pasir Putih, Tirtajaya, Cimpaeun, Beji Timur, Cinere, Duren Mekar, Pondok Jaya, Kemiri Muka, Serua, Cisalak Pasar, Cilodong, Pondok Cina, Cinangka, Sawangan Baru, Bojongsari Baru, Duren Seribu, Bojongsari Lama, Pangkalan Jati, Cipayung Jaya, Pangkalan Jati Baru, Leuwinanggung dan Tapos.

Selain itu, 12 Kelurahan juga mencatatkan satu kasus konfirmasi aktif Covid-19, di antaranya Bakti Jaya, Jatijajar, Grogol, Bedahan, Meruyung, Rangkapan Jaya, Jatimulya, Curug, Rangkapan Jaya Baru, Bojong Pondok Terong, Krukut dan Cisalak.

Selanjutnya, terdapat tujuh Kelurahan dengan dua kasus kasus konfirmasi aktif Covid-19, yaitu Depok, Limo, Mampang, Cipayung, Gandul, Sawangan Lama dan Kedaung. Tiga kelurahan sisanya seperti Kelurahan Tugu, Mekarsari dan Mekarjaya mencatatkan tiga kasus konfirmasi aktif. Sedangkan yang terbanyak ada di Kelurahan Beji, enam kasus konfirmasi aktif Covid-19.

Tak lelah, Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok terus mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga protokol kesehatan (prokes) 6M. Yaitu memakai masker, mencuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir, menjaga jarak aman saat beraktivitas di luar rumah, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas, dan menghindari makan bersama.(dra/rd)

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Fahmi Akbar