tabung oksigen
DAPAT BANTUAN: ilustrasi Pemkot Depok mendapatkan bantuan 20 tabung oksigen dari PT Bali Tower, Rabu (14/7). Dan diterima langsung oleh Wakil Walikota Depok, Imam Budi Hartono

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Langkah antisipatif perlu dilakukan baik dari masyarakat, fasilitas kesehatan, hingga pemerintah untuk mengantisipasi lonjakan gelombang ketiga Covid-19. Seperti yang dilakukan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Depok, yang telah menyediakan 10 ton tabung oksigen guna menghindari kelangkaan oksigen.

Direktur Utama RSUD Kota Depok, Devi Maryori mengatakan, pada gelombang kedua Juli 2021, pihaknya sempat mengalami kelangkaan suplai tabung oksigen untuk pasien katagori berat. Belajar dari pengalaman itu, RSUD sudah menyiapkan oksigen tambahan.

“Kami telah bersiaga mengantisipasi terkait adanya gelombang ketiga penularan Covid-19, salah satunya dengan menyediakan tabung oksigen sebanyak 10 ton,” ujarnya kepada Radar Depok, Kamis (2/12).

Devi mengungkapkan, ketika kasus tengah tinggi-tingginya pada gelombang kedua, 10 ton oksigen saja hanya bisa digunakan tiga hingga empat hari. Hal ini disebabkan lantaran kebutuhan yang cukup tinggi.

“Karena percepatan pertambahan kasus dan kegawatan (gelombang kedua) lebih urgent daripada sebelumnya. Untuk saat ini, 10 ton oksigen bisa sebulan tahannya,” ucapnya.

Devi menuturkan, nantinya 10 ton oksigen yang dimiliki RSUD Kota Depok akan dialirkan ke ruangan perawatan pasien yang membutuhkan tekanan oksigen tinggi. Lalu, RSUD Kota Depok telah memiliki alat oksigen konsentrator kapasitas 10 ton untuk penanganan pasien Covid-19.

“Kami memiliki alat konsentrator sebanyak 30 alat, jadi udara dilingkungan sekitar dapat langsung digunakan,” bebernya.

Saat ini RSUD Kota Depok memiliki berbagai stok tabung oksigen mulai dari tabung 1 meter kubik, 6 meter kubik, 7 meter kubik, 10 meter kubik, dan 175 meter kubik. “Tabung 1 meter kubik terdapat 29 unit, tabung 6 meter kubik sebanyak 160 unit, tabung 7 meter kubik itu 20 unit, tabung 10 meter kubik yaitu 57 unit, dan tabung 175 meter kubik ada 10,” ucapnya.

Disamping oksigen, SDM seperti dokter, perawat, obat, dan fasilitas penunjang sudah disiapkan untuk mengantisipasi apabila terjadi lonjakan penularan Covid-19. Devi menjamin ke depan, peristiwa langkanya oksigen tak akan terulang kembali, lantaran sudah menjalani kontrak dengan produsen oksigen.

“Antisipasi juga harus dilakukan dari masyarakat, seperti tidak lalai menaati protokol kesehatan 6M, serta vaksinasi bagi yang belum sama sekali maupun belum lengkap,” katanya.

Devi menuturkan, tepat di hari ini terdapat 6-7 pasien dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19 dan menjalani perawatan di RSUD Kota Depok. Sementara, masih ada 18 orang lainnya yang menunggu hasil Swab Antigen akibat indikasi demam.

“Untuk Bed Occupation Rate (BOR) ICU dan IGD Covid-19, karena tempat tidur (TT) sekarang sedikit hanya 17 unit, maka BOR-nya pasti tinggi. Kita lihat nanti kalau trennya naik, kami sudah ancer-ancer ruangan mana yang akan kami isi dengan pasien Covid-19 rencana di lantai 8. Sebelumnya sempat 238 tt karena emua tt dikasi buat Covid-19,” tukasnya.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, Supariyono mengatakan, antisipasi RSUD sudah baik. Tetapi, langkah pencegahan juga harus dilaksanakan mulai dari Pemerintah Kota Depok, sampai ke RT/RW.

“Kemudian poin kedua, pemerintah melalui Dinkes, lurah, RT/RW sosialisasikan ke masyarakat agar tidak abai prokes. Kemudian oksigen ditambah stoknya, adakan pelatihan pengurusan jenazah,” tandasnya. (rd/daf)

Jurnalis : Daffa Syaifullah

Editor : Junior Williandro