Rizki Apriwijaya
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Rizki Apriwijaya

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Bencana bencana akan terus terjadi tanpa ada atau tidak manusia di Bumi. Untuk itu, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Gerindra, Rizki Apriwijaya meminta agar pemerintah dapat membuat kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan serta terus membentuk dan memperkuat daerah tangguh bencana.

Berdasarkan data Badan Nasinal Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2020, Indonesia dilanda 2.939 bencana alam. Jika dikonversi, Indonesia dilanda delapan bencana dalam sehari, 56 bencana dalam satu minggu, dan 240 kali bencana dalam satu bulan.
“Bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia (man-made disaster),” tutur Rizki Apriwijaya.

Rizki menjelaskan, beberapa faktor yang dapat menyebabkan bencana, antara lain bahaya alam (natural hazards) dan bahaya karena ulah manusia (man-made hazards) yang menurut United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR) dapat dikelompokkan menjadi bahaya geologi (geological hazards), bahaya hidrometeorologi (hydrometeorological hazards), bahaya biologi (biological hazards).

Kemudian, bahaya teknologi (technological hazards) dan penurunan kualitas lingkungan (environmental degradation) kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen di dalam kota/ kawasan yang berisiko bencana Kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat.

“Untuk itu, perlu upaya agar masyarakat paham dan mengondisikan diri saat terjadi bencana, dan pada akhirnya pemerintah turun untuk membantu korban terdampak bencana,” kata Rizki Apriwijaya.

Rizki Apriwijaya mengungkapkan, Keluarga tangguh bencana atau sering disebut dengan Katana menjadi isu utama BNPB dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait bencana dari struktur organisasi terkecil. Program Katana ini juga banyak dikampanyekan oleh organisasi non pemerintah bidang bencana.

“Keluarga Tangguh Bencana (Katana) merupakan mikrokosmos dari penanggulangan bencana. Dalam konteks bencana, keluarga menjadi fokus inti. Diharapkan dalam upaya peningkatan ketangguhan bencana dan ketahanan terhadap bencana, konsepsi katana menjadi penting dan dapat dikembangkan serta diterapkan sebagai proses yang terus menerus,” ungkap Rizki Apriwijaya.

Dalam konteks bencana keluarga menjadi fokus inti karena pengetahuan terkait bencana sangat baik jika dimulai dari rumah. Berdasarkan informasi dari BNPB ada tiga tahapan dalam katana, yakni sadar risiko bencana mengetahui dan sadar akan risiko bencana dilingkungannya, pengetahuan (mengetahui dan memperkuat struktur bangunan paham manajemen bencana, edukasi bencana) dan berdaya (mampu menyelamatkan diri sendiri keluarga dan tetangga).

“Tiga tahapan Katana ini perlu diasah terus agar dampak dari bencana dapat meminimaliris. Jadi, Kesadaran, pengetahuan dan keterampilan penanggulangan bencana dikembangkan secara terus – menerus di lingkungan keluarga” ujar dewan dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Barat 8 (Kota Depok-Kota Bekasi) ini.

Selain itu, sambung Rizki Apriwijaya, kebijakan pembangunan yang berwawasan lingkungan pun menjadi hal yang penting. Hal ini, kata dia, dapat mencegah terjadinya bencana yang merugikan banyak pihak.

“Seperti membangun perumahan tidak di daerah resapan air, tidak melakukan pembalakan liar, membuat saluran air yang memadai dan lain sebagainya,” sambungnya.

Kemudian, Rizki Apriwijaya menambahkan, yang tidak kalah penting adalah menambahkan dan mengupgrade teknologi deteksi dini terhadap bencana, sebagai langkah antisipasi masyarakat di satu wilayah agar terhindar dari bencana.

“Meski tidak ada yang memprediksi kapan dan di mana bencana akan terjadi, namun teknologi ini juga menjadi ikhtiar kita agar terhindar dari bencana,” ucap Rizki Apriwijaya. (adv)

Editor : Ricky Juliansyah