Foto Giat BEM UI Lagi
PROGRAM KERJA: Departemen Lingkungan Hidup Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), menggelar rangkaian kegiatan yang diberi nama UI Youth Environmental Action (UI YEA). Pada tahun 2021 ini, UI YEA mengusung tema “Unlocking The Circular Economy Potential for a Global Sustainable Future”. FOTO: ISTIMEWA

RADARDEPOK.COM, DEPOK — Departemen Lingkungan Hidup Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), kembali menggelar hajatan tahunan UI Youth Environmental Action (UI YEA).

Pada tahun 2021 ini, UI YEA mengusung tema “Unlocking The Circular Economy Potential for a Global Sustainable Future”.

“Circular Economy” yang menjadi tema sentral UI YEA 2021, saat ini tengah menjadi wacana global karena dianggap dapat menjawab tantangan perubahan Iklim. Konsep ini pada intinya berbasis pada empat prinsip, yaitu meningkatkan efisiensi penggunaan SDA, meminimalisir limbah dari proses produksi,  mengoptimalkan nilai pemanfaatan produk semaksimal mungkin, serta meregenerasi SDA terbaharukan.

Tujuan digelarnya UI YEA sendiri adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya berpartisipasi dalam upaya-upaya perlindungan lingkungan hidup. Dimulai sejak Juli hingga akhir November 2021,  UI YEA menyelenggarakan berbagai rangkaian kegiatan, seperti Roadshow, Public Discussion, International Essay Competition, Coaching with Experts, Field Event, dan terakhir adalah acara puncak, yaitu Grand Summit.

Grand Summit The 10th UI YEA dilaksanakan secara hybrid di Ruang Apung, Kampus Universitas Indonesia Depok, dan  live-streaming melalui melalui kanal Youtube BEM UI .

“Sudah saatnya kita bertindak, hal sekecil apapun dapat menjadi harapan bagi bumi kita. The 10th UI YEA adalah wadah bagi para mahasiswa untuk menyuarakan Kepedulian terhadap  isu Lingkungan Hidup.” Ungkap Ketua BEM UI, Leon Alvinda Putra dalam sambutan pembukaannya.

Senada, Kara Carolluna, Project Officer dari The 10th UI YEA, mengemukakan bahwa UI YEA telah mendorong mahasiswa untuk melakukan beragam inovasi untuk membangkitkan kesadaran publik, baik melalui gagasan maupun aksi-aksi nyata kepada masyarakat.

“UI YEA telah memberikan edukasi tentang pentingnya pengelolaan sampah plastik kepada warga Mekarjaya, Depok.  Selain Itu UI YEA juga memberikan seperangkat tempat sampah kepada komunitas setempat serta mesin pencacah sampah plastik kepada pengelola Bank Sampah Induk Kota Depok guna mengoptimalkan pengelolaan daur ulang sampah plastik,” terangnya.

Acara Grand Summit UI YEA menghadirkan Pembicara Kunci: Sandiaga Uno (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Sugeng Suparwoto (Ketua Komisi VII DPR RI), dan Prof. Bambang Brodjonegoro (Profesor FEB UI).

Grand Summit terbagi menjadi tiga sesi, yaitu pentahelix national forum, talkshow, dan international webinar. Pentahelix national forum mengusung tema bahasan “Optimalisasi Pengelolaan FABA di Indonesia, Fantasi atau Aksi?” Sejumlah narasumber hadir mewakili para pemangku kepentingan terkait, Pemerintah (KLHK), Bisnis (ADARO), Akademisi (SIL-UI), Organisasi Non-Pemerintah (Mongabay) dan Media (Nexus).

FABA atau “fly ash and bottom ash” adalah abu yang dihasilkan dari  pembakaran batu bara yang terdiri dari partikel-partikel yang halus.

FABA dianggap sebagai primadona baru dalam pengembangan industri nasional Indonesia. Di banyak negara, FABA telah digunakan untuk berbagai keperluan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti bahan baku pembuatan semen, pembuatan batu bata, pereduksi air asam tambang, dan pemanfaatannya sebagai bahan pengeras jalan dan pembuatan gipsum.

Pemanfaatan limbah FABA untuk campuran beton diperkirakan dapat menghemat anggaran infrastruktur sebesar Rp4,3 triliun.

Namun demikian, pemanfaatan FABA juga memiliki risiko tinggi yang menyangkut kesehatan dan lingkungan. Dampak FABA bagi kesehatan manusia dan lingkungan tergantung pada jenis dan jumlah limbah serta kandungan racun di dalamnya.

Jika tidak dibuang dan/atau diolah dengan benar, FABA dapat mencemari lingkungan, seperti air, udara, dan tanah sehingga menjadikannya bahaya.

Menurut Upik Siti Asila perwakilan dari KLHK, yang menjadi salah satu narasumber dalam Pentha-helix National Forum ini,   FABA sudah memiliki kerangka regulasi melalui PP 22 tahun 2021.

FABA dibagi menjadi limbah B3 dan Non B3 tetapi sebagian besarnya sudah dikategorikan sebagai limbah Non B3. Data uji karakteristik yang dilakukan KLHK menyimpulkan bahwa FABA masih masuk dalam kategori baku mutu yang ditetapkan.

Demi mewujudkan circular economy maka FABA perlu dimanfaatkan dengan meningkatkan kualitas dan standarnya. Diharapkan penelitian dan akademisi mampu membuat FABA semakin lebih baik dan efisien pengelolaannya demi meningkatkan circular economy di Indonesia dan meminimalisir peningkatan efek rumah kaca.

Perwakilan LSM dan Media pada kesempatan ini sama-sama berharap bahwa Pemerintah tidak hanya mengedepankan aspek ekonomis dari FABA saja, tetapi juga harus memperhatikan. dengan serius dampak negatif dari FABA bagi kesehatan dan keselamatan masyarakat lokal serta perlindungan lingkungan. (gun/**)