Mimbar Jumat KH A Mahfud Anwar
Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar (Ketua MUI Kota Depok)

Oleh : K.H.A.Mahfudz Anwar (Ketua MUI Kota Depok)

RADARDEPOK.COM – Setiap manusia ingin hidup senang dan bahagia. Dan itu alamiah. Tidak perlu dipersoalkan lagi. Sebab memang kodrat manusia pasti ingin menikmati hidup baik di dunia maupun di akhirat nanti. Sejalan dengan itu manusia mempunyai keinginan yang lebih banyak dari pada fakta hidupnya sendiri. Keinginan yang menjadi lapangan rohani bebas berselancar ke mana saja atau bebas membubung tinggi setinggi langit, tetapi tetap saja terikat dengan jasad (jasmani) yang mengikat dirinya. Sehingga keinginan yang tinggi itu harus tunduk pada fakta hidup yang membumi.

Jasad manusia sebagai nalurinya adalah berasal dari tanah. Maka jasad selalu terikat dengan tanah. Kecenderungannya tertarik pada grafitasi tanah, yang selalu ingin ke bawah. Maka manusia yang terikat dengan pandangan panca inderanya semata akan selalu menjadikan dirinya terpuruk dalam hidupnya. Sebaliknya keinginan yang menjadi wilayah hati atau rohani lebih cenderung ke atas. Yaitu ingin mendekati derajat yang tinggi (Ilahiyah). Maka di sinilah sebenarnya manusia yang terlahir ke muka bumi ini terikat pada fitrahnya (Iman kepada Tuhannya, Allah swt). Sehingga watak manusia yang asli adalah cenderung berfikir yang di luar batas kemampuan dirinya. Dan ini tidak ada masalah, selagi berpikirnya terarah (bukan menghayal).

Persoalan yang mendasar adalah bahwa manusia itu bebas berfikir dengan menggunakan akal dan pikirannya yang diberikan oleh Allah swt. kepadanya. Dan oleh karena itulah manusia bisa membebaskan dirinya dari kungkungan fisik yang mengikat dirinya (rohaninya). Dengan kontemplasi dan melakukan perenungan yang mendalam setiap diri manusia bisa melepaskan dirinya dari ikatan fisik (jasmaniah). Yakni dengan sifat dasar tersebut (Iman) seseorang bisa menjadikan dirinya menaiki derajat yang lebih tinggi. Dan caranya dengan memperbanyak ingat kepada Allah swt. (dzikir). Maka dzikir itulah yang bisa meminimalisir ketergantungan rohani pada fisik. Secara umum dapat dipahami bahwa berdzikir adalah manifestasi dari konsep Ibadah yang diajarkan oleh Allah swt dan Rasulnya. Dan Ibadah itulah yang menghubungkan diri manusia dengan Tuhannya.

Namun di samping iman yang kuat, Allah swt. juga mengajarkan berfikir. Menggunakan anugerah berupa akal pikiran. Dan itulah hakikatnya ilmu pengetahuan yang merupakan produk dari berfikir. Sehingga berfikir itu juga bisa mengurangi ketergantungan manusia pada jasmani. Dengan melambungkan pikiran ke ruang yang lebih luas, maka ketergantungan fisik akan semakin berkurang. Bahkan manusia bisa menguasai dunia seisinya ini manakala mampu menggunakan akal pikirannya dengan sebaik-baiknya. Melepaskan dirinya dari batasan-batasan inderawi. Karena memang pada dasarnya panca indera memiliki keterbatasan yang nyata.

Maka untuk melepaskan ikatan inderawi harus melalui dua jalan tersebut. Yakni Pertama, jalan mengembangkan Iman (taqarrub kepada Allah swt). Karena semakin dekat dengan Tuhannya, maka manusia bisa melupakan dunia atau paling tidak mengurangi ingatannya pada dunia yang serba terbatas dan membelenggu ini. Sedangkan jalan Kedua adalah mengembangkan akal pikirannya. Sebab dengan ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh akal tersebut bisa mengantarkan manusia bergerak lebih bebas dan lebih mandiri. (Q.S.Al-Mujadalah : 11 ). Wallahu a’lam.(*/rd)

Editor : Fahmi Akbar