Mimbar Jumat KH A Mahfud Anwar
Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar (Ketua MUI Kota Depok)

Oleh : K.H.A.Mahfudz Anwar (Ketua MUI, Kota Depok)

RADARDEPOK.COM – Ketika seseorang gelisah karena suatu sebab, maka biasanya tercetus ingin kontemplasi. Melakukan perenungan demi mencari solusi perbaikan dari apa yang dirasa. Dan itu biasa terjadi di hampir setiap manusia. Hanya saja kontemplasi ada yang berujung benar, tapi ada juga yang berujung tidak benar, destruktif. Maka daripada itu perlu bagi orang yang ingin melakukan kontemplasi dengan cara yang benar dan tuntunan dari yang Maha Benar (haq). Agar berujung kebaikan bagi dirinya.

Apalagi di saat-saat timbul kesadaran akan introspeksi, koreksi diri. Tentu ingin melihat kembali ke belakang, ke masa-masa lalu apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan. Apa saja yang sudah berhasil membawa kemajuan dan apa saja yang masih mandek, berhenti tidak ada dorongan maju ke depan. Dengan begitu orang akan merasakan kesenangan serta kebahagiaan dalam hati, jika mengetahui bahwa apa yang telah dikerjakan selama ini telah membawa hasil yang baik bagi dirinya dan keluarganya. Sehingga akan timbul semangat ingin bekerja yang lebih baik dan lebih baik lagi. Dan sebaliknya, jika melakukan sesuatu yang merugikan, akan segera berhenti agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi.

Di  sinilah pentingnya menerapkan tuntunan Al-Qur’an agar kita semakin meningkat taraf kehidupan kita. Dari satu anak tangga, meningkat menjadi dua anak tangga. Setelah dua anak tangga bisa naik menjadi tiga anak tangga. Dan begitu seterusnya hingga sampai pada puncak anak tangga yang tertinggi. Dengan melihat ke belakang, maka bisa menapak ke depan lebih baik. Ibaratnya layaknya kaca spion bagi suatu kendaraan. Jadi sesekali dalam hidup ini harus melihat ke belakang. Tidak cukup hanya melihat ke depan saja. Baik ketika berjalan sendirian maupun berjalan ramai-ramai.

Maka dengan berdzikir merupakan bahan dasar untuk berkontemplasi. Karena dengan mengingat Allah swt. akan muncul kesadaran yang baik, dan sadar akan eksistensi dirinya. Sebagiaman diajarkan oleh Allah swt. ”Wa dzakkir fainnadzdzikra tanfa’ul mu’minin. : Ingatkanlah (dzikir) karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa’at bagi orang-orang yang beriman (kepada Allah swt). Jadi dzikir itu artinya ingat. Atau dengan berdzikir menyebabkan orang menjadi ingat. Ingat apa yang dia lupakan selama ini. Sedangkan cara berdzikir adalah dengan menyebut asma Allah. Menyebut nama-nama Allah yang sebanyak-banyaknya.

Dzikir secara maknawi adalah dengan cara mengimplementasikan ajaran Islam. Ajaran yang sudah disyari’atkan oleh Pemegang Kekuasaan Tertinggi, yaitu Allah Yang Maha Mutlak Kekuasaan-Nya. Jadi berdzikir itu bisa dengan cara lisan sesering mungkin mengucapkan kata Allah atau serentetan kata yang ada pada Asmaul Husna. Ataupun dengan dzikir qalbi. Mengingat/menyebut Asma Allah cukup di dalam hati. Wal-hasil apa pun yang dilakukan oleh seseorang untuk mengingat Tuhan (Allah) maka itu disebut dzikit.

Maka untuk kontemplasi itu sarana yang paling mudah yaitu dengan berdzikir seperti yang sudah dilakukan oleh Para alim Ulama selama ini. Mereka mengajarkan dzikir, juga melakukan berdzikir. Sehingga banyak orang yang mencontoh, menirukan untuk diamalkan. Karena dengan berdzikir yang sungguh sungguh berarti dia telah menginternalisasi Nama Allah ke dalam jiwanya (dirinya). Sehingga dia memperoleh kekuatan dari kekuatan Yang Maha Kuat, yaitu Allah swt. Dan kekuatan itulah yang kemudian menjadi modal untuk berjalan ke depan dan ke depan lagi sampai di ujung harapan dan tujuan akhir hidup ini. Semoga di saat kontemplasi, kita menemukan jalan yang terbaik untuk menjalani hidup ini. Wallahu a’lam.(*)

Editor : Fahmi Akbar