israel dan UEA
Pertemuan PM Israel Naftali Bennett dan Putra Mahkota UEA, Sheikh Mohammed bin Zayed Al-Nahyan.

RADARDEPOK.COM – Setelah 15 bulan normalisasi, Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) tengah melakukan pertemuan perdananya. Ada beberapa topik yang dibahas dalam pertemuan tersebut, yakni ancaman Iran dan kerja sama ekonomi antar negara.

Pertemuan tersebut melibatkan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett dengan Putra Mahkota UEA, Sheikh Mohammed bin Zayed Al-Nahyan (MBZ), pada Senin (13/12).

Selain bertemu dengan MBZ, Bennett juga bertemu dengan Menteri Industri dan Teknologi Maju UEA, Sultan Ahmed Al Jaber, dan Menteri Kebudayaan UEA Noura binti Mohammed Al Kaabi.

“Hubungan antara dua negara semakin erat dalam seluruh bidang, dan saya sangat puas akan hal ini, mengingat banyak perjanjian kerja sama di bidang perdagangan, penelitian dan pengembangan, keamanan siber, kesehatan, pendidikan, penerbangan, dan banyak lagi, dan saya menantikan pengembangan dan konsolidasi dari hubungan ini,” ujar Bennett, dikutip dari Times of Israel.

Bennett juga menyampaikan tentang normalisasi antara Israel dan UEA memberikan peluang ekonomi yang ‘belum pernah terjadi sebelumnya.’

Baca Juga : Predator Seks Beji Garap 15 Anak, Pemerhati Anak :  Pemerintah Harus Komitmen Menanggapi Kasus Ini

“Pesan yang ingin saya sampaikan kepada pemimpin UEA dan warga Emirat ialah kemitraan dan persahabatan adalah hal yang wajar. Kita adalah tetangga dan sepupu. Kita adalah cucu Nabi Ibrahim,” tambah Bennett lagi.

Kala mendarat di Abu Dhabi pada Minggu (12/12), Bennett disambut oleh Menteri Luar Negeri UEA, Sheikh Abdullah bin Zayed, dikutip dari Reuters.

“Sungguh sambutan yang mengagumkan. Saya sangat senang bisa berada di sini untuk rakyat saya (dalam) pertemuan resmi pertama pemimpin Israel di sini. Kami berharap dapat meningkatkan hubungan ini,” tutur Bennett.

Israel sendiri tengah meningkatkan kerja sama pertahanan dengan negara Teluk Arab yang memiliki kekhawatiran yang sama atas aktivitas Iran. UEA dan Israel juga telah menyepakati lusinan nota kesepahaman dengan Israel sejak Perjanjian Abraham ditandatangani.

Sementara itu, Iran kini tengah menjadi sorotan karena permasalahan nuklir yang tak kunjung usai. Iran dikabarkan tengah meningkatkan pengayaan uranium ke level yang cukup untuk memproduksi senjata nuklir.

Amerika Serikat dan beberapa sekutunya juga tengah merundingkan kesepakatan nuklir dengan Iran di tengah ancaman itu.

Iran dan AS sempat terikat kesepakatan JCPOA yang mewajibkan Iran membatasi pengayaan uranium hingga 3,67 persen. Balasannya, negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran. Namun setelah menarik diri, AS kembali menerapkan sanksi yang membuat Iran geram. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya