pelaku rudapaksa
Herry Wirawan

RADARDEPOK.COM – Herry Wirawan (36) didakwa memperkosa belasan murid perempuan di bawah umur hingga beberapa di antara mereka melahirkan anak. Tak hanya itu, ia mengeksploitasi korban untuk mendapatkan bantuan dana.

Perbuatan itu terjadi di medio 2016 hingga tahun 2021 hingga akhirnya terbongkar dan masuk dalam tahap persidangan perdana pada Selasa (7/12) lalu. Namanya kemudian ramai dibahas dan mengundang reaksi dari berbagai pihak.

Keluarga korban pemerkosaan meminta Herrry dihukum berat dengan penjara seumur hidup dan kebiri. Saat ini, ia didakwa atas undang-undang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15-20 tahun penjara.

Salah seorang paman salah satu korban, Hikmat berharap perhatian dan bantuan dari banyak pihak dalam mengawal jalannya persidangan. “Ini seharusnya hukuman paling ringan itu hukuman kebiri atau seumur hidup. Korban sudah kehilangan harga diri dan mental,” ucap dia, kemarin.

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Livia Istania DF Iskandar mengatakan dalam kasus ini pihaknya memberikan perlindungan kepada 29 orang yang terdiri dari pelapor, saksi dan korban.

“Berdasarkan fakta persidangan, pelaku membujuk rayu anak didiknya hingga menjanjikan para korban akan di sekolahkan sampai tingkat universitas,” kata dia dalam siaran pers yang diterima, Kamis (9/12).

“Fakta persidangan mengungkap bahwa anak-anak yang dilahirkan korban diakui sebagai anak yatim piatu dan dijadikan alat oleh pelaku untuk meminta dana kepada sejumlah pihak. Dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk para korban juga diambil Pelaku,” terang dia.

Akibat ulahnya, 12 korban harus merasakan trauma berat dan 4 di antaranya hamil dan melahirkan 8 bayi.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Erdi A. Chaniago kasus ini diawali dengan laporan pada pertengahan tahun 2021, ditindaklanjuti dengan penyelidikan, penyidikan hingga berkas perkara lengkap dan dilimpahkan ke kejaksaan. Dalam kasus ini, semua fokus pada perkara pencabulan. Jika ada hal mengenai dugaan eksploitasi, maka pihaknya siap menindaklanjuti saat ada aduan atau laporan.

“Kalau memang ada yang menyampaikan atau mengetahui suatu rencana meyatim piatukan dengan tujuan komersil atau bagaimana, bisa dilaporkan ke kepolisian dengan bukti yang ada sehingga kita bisa mengusutnya dengan adanya bukti petunjuk yang dia dapatkan,” kata dia.

“Kita tetap menuntaskan kasus yang dilaporkan kepada kita dan faktanya memang sudah berkas dan tersangka sudah diterima ke kejaksaan dan sekarang sudah disidangkan,” ia melanjutkan.

Tak hanya eksploitasi, dugaan kejahatan yang dilakukan Herry pun menyangkut penyelewengan dana bantuan. Meski begitu, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jawa Barat Asep N Mulyana menyebut masih perlu melakukan pendalaman.

Ini berkaitan dengan tempat pemerkosaan yang didakwakan kepada Herry.  Herry memperkosa muridnya di Yayasan Pesantren TM, Yayasan Komplek Sinergi, Pesantren MH, Basecamp, Apartemen TS Bandung, Hotel A, Hotel PP, Hotel BB, Hotel N, dan Hotel R.

“Ada dugaan kami dari teman-teman intelejen setelah pengumpulan data dan keterangan, terdakwa menggunakan dana, menyalahgunakan yang berasal dari bantuan pemerintah, untuk kemudian digunakan, misalnya, katakanlah menyewa apartemen. Kemungkinan itu, nanti didalami lagi,” ujar Asep.

Biadab

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil turut memberi tanggapan dengan kasus yang mengemuka ini. Pria yang akrab disapa Emil ini berharap pelaku dihukum berat dengan jeratan pasal berlapis.

Di sisi lain, ia memastikan korban mendapat penanganan mental dari pemerintah. Ridwan Kamil memastikan bahwa bahwa korban mendapat penanganan dan pendampingan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat.

“Semoga pengadilan menghukum pelaku yang biadab dan tidak bermoral ini dengan berat dan pasal yang banyak. Sementara itu, korban sudah dan sedang diurus oleh tim DP3AKB provinsi Jawa Barat untuk trauma healing dan disiapkan pola pendidikan baru,” kata Ridwan Kamil.

Bunda Forum Anak Daerah (FAD) Provinsi Jabar, Atalia Praratya Ridwan Kamil meminta semua pihak turut melindungi sekaligus menyelamatkan masa depan korban.

Kasus ini sudah ditangani oleh UPTD PPA Jabar bersama dengan PPA Polda Jabar sejak 27 Mei 2021. Ia mengaku melakukan pendampingan sejak Juni, namun memilih untuk tidak mengekspose dengan tujuan menjaga dampak negatif terhadap kejiwaan korban.

“Kami terus memantau dan berinteraksi dengan korban dan orang tuanya untuk memastikan anak-anak mendapatkan hak perlindungannya. Kami mengharapkan untuk sama-sama melindungi korban dari dampak-dampak lain,” kata Atalia.

Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum, mengungkapkan rasa prihatinnya atas kejadian pemerkosaan terhadap belasan santriwati oleh seorang oknum Guru di Kota Bandung.

Sosok Panglima Santri Jabar menghendaki pelaku dapat ditindak tegas oleh para aparat penegak hukum, agar dijerat hukuman yang berlaku.

“Jadi menanggapi apa yang sekarang beredar tentang ada seorang guru yang memperkosa muridnya sampai hamil. Pertama saya berharap kejadian ini tidak terulang kembali, kedua saya merasa prihatin sebagai komunitas pondok pesantren kejadian semacam ini,” ungkap Uu, di Pondok Pesantren Al Ruzhan, Desa Cilangkap, Kec. Manonjaya, Kab. Tasikmalaya, Kamis (9/12).

“Kemudian juga kita mendukung kalaupun itu sudah ditangani oleh pihak kepolisian atau APH (Aparat Penegak Hukum), agar diberlakukan hukum yang berlaku,” tambahnya.

Selanjutnya Uu– sapaan Karib Uu Ruzhanul Ulum– berharap masyarakat luas tidak menyamaratakan semua guru ngaji punya perilaku serupa. Sehingga tidak boleh ada rasa ketakutan dari para orang tua yang putra- putrinya sedang menempuh pendidikan di Majlis Ta’lim, di Pondok Pesantren, atau di Madrasah Diniyah, asalkan lembaganya sudah terpercaya serta jelas sejarah dan asal usulnya.

“Sekitar 12 ribu pondok pesantren yang ada di Jawa Barat belum ditambah mungkin Majlis -Majlis, termasuk juga Madrasah Diniyah kemudian juga yang lainnya itu harapan kami tidak disamaratakan,” harap Dia.

Uu juga menyebut, bahwa dari hasil penelusurannya terkait siapa oknum Guru tersebut. Diketahui bahwa tersangka memang pernah menpuh pendidikan di suatu pondok pesantren, namun memang yang bersangkutan punya track record kurang baik. “Ternyata memang saya bertanya kepada orang- orang yang kenal dia. Dia memang pernah pesantren tapi ga benar terus dia berperilakunya tidak sama dengan komunitas pesantren yang lainnya,” katanya.

Lebih lanjut, Uu menjelaskan bahwa pengawasan terhadap anak yang sedang mondok di pesantren adalah hak bagi setiap orang tua/ wali murid. Dengan begitu orang tua dapat memantau perkembangan anak. Juga mengecek kondisi mulai dari kesehatan fisik, mental, dan hal lainnya.

“Nah kemudian juga kalau di pesantren yang benar orang tua ini tidak memberikan secara full tetapi tetap harus ada ‘ngalongok ka Pesantren,’ (bahkan) pesantren saya ada libur setahun dua kali. Orang tua boleh menengok perkembangan anak di pesantren. Sehingga terpantau pendidikan, kesehatan, dan lainnya tidak cukup dengan telpon,” kata Uu.(cr1/rb/rd)

Editor : Fahmi Akbar