relawan depok
ARAHKAN WARGA: Seorang relawan dari Sekolah Relawan bersama warga setempat tengah mengimbau warga setempat agar mengevakuasi barang-barang berharga ke tempat pengungisian, di Kecamatan Pronojiwo, Minggu (5/12). IST

RADARDEPOK.COM – Kuasa Ilahi memang tak ada yang tahu. Sekira pukul 15:00 WIB, Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur memuntahkan isinya, Sabtu (4/12). Penghuni yang berada di kaki gunung sontak berhamburan keluar rumah dan sambil berteriak menyebut nama sang Khalik. Akibat semburan debu panas dan lava dingin yang mengaliri sungai. Tercatat hingga Minggu (5/12), ada 14 warga yang meninggal dan 56 luka bakar.

Laporan dari Ketua Tim Relawan dari Sekolah Relawan Kota Depok, Rizki Ilham kepada Harian Radar Depok. Sebanyak sembilan personel yang dibagi ke dalam dua armada diturunkan sejak Sabtu (4/12). Mereka berangkat dari Kota Depok menuju lokasi musibah meletusnya Gunung Semeru. “Tim Sekolah Relawan sendiri menurunkan sembilan personel dari dua armada, rescue dan ambulan,” katanya kepada Harian Radar Depok, Minggu (5/12).

Rizki mengungkapkan, berdasarkan data yang dihimpun, jumlah korban jiwa akibat meletusnya Gunung Semeru sebanyak 14 jiwa. Sementara, 38 orang lainnya mengalami luka-luka. Dia mengaku, masih stand by untuk berjaga-jaga sekiranya nanti ada erupsi susulan. “Akibat guyuran hujan sedang dan hawa panas dari lahar yang ada di sekitaran sungai ini, kami tidak bisa melanjutkan pencarian untuk menyisir korban hilang,” ungkapnya.

Rizki menerangkan, terdapat dua kecamatan di Kabupaten Lumajang yang mengalami dampak terparah, yakni Kecamatan Pronojiwo dan Kecamatan Candipuro. Namun, lantaran terputusnya jembatan Geladak Perak yang menghubungkan akses Kedua kecamatan tersebut, membuat seluruh aktivitas penyelamatan semakin sulit.

“Kondisi relawan dan tim potensi SAR saat ini dibagi dua kecamatan akibat jembatan putus. Untuk menuju Kecamatan Pronojiwo bisa melalui Kabupaten Malang, dan Kecamatan Candipuro dapat diakses melalui Kabupaten Probolinggo, jadi harus memutar dahulu, padahal cuma berseberangan,” ucapnya.

Ihwal demikian, ia yang bersiaga di Kecamatan Pronojiwo saat ini menerima laporan adanya tiga orang korban hilang. Terkait lokasi pengungsian sendiri, banyak pos-pos mandiri seperti mengungsi di kerabat terdekat.

“Data masih terus diupdate karena masih banyak yang masuk dan keluar. Kami masih mengupayakan mencari korban hilang, dan sudah melakukan pemetaan titik korban hilang, tapi karena lahar yang cukup panas sehingga kita belum bisa menjangkau titik tersebut,” terangnya.

Sarana dan prasarana evakuasi juga sudah disiapkan, diantaranya armada 4×4 double kabin, ambulan, gergaji mesin, dan golok untuk membuka akses jalan yang tertutup pohon tumbang. Serta peralatan mauntaineering lainnya yang akan berguna untuk memudahkan supaya bisa masuk lebih dalam ke lokasi yang belum dilewati hari ini (kemarin).

“Beragam kesulitan juga dirasakan pengungsi maupun relawan akibat bencana tersebut. Seperti minimnya aliran listrik, air, alat-alat berat. Lalu untuk sinyal sendiri sudah ada beberapa provider yang masuk, tetapi belum semua,” jelasnya.

Dari hasil pemetaan Sekolah Relawan, para pengungsi di Kabupaten Lumajang membutuhkan masker, makanan siap saji, air mineral, makanan bayi dan balita, selimut, alas tidur, obat-obatan, dan air bersih.

“Kemudian oksigen juga masih sangat dibutuhkan sampai saat ini. Karena pengungsi yang terus berdatangan semakin banyak, maka kebutuhan yang harus disediakan pun semakin meningkat,” tegasnya.

Sementara, Kepala Pusat Data dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari merincikan, jumlah korban meninggal menjadi 14 orang dengan 35 orang mengalami luka berat (LB) serta 21 orang luka ringan (LR) menjadikan total 56 orang yang mengalami luka akibat musibah APG Gunung Semeru.

“Masih ada 9 jiwa yang masih dalam proses verifikasi statusnya,” jelas Muhari kemarin (5/12). Data ini sampai Minggu sore. Selain korban meninggal, BNPB mencatat total 5.205 jiwa terdampak musibah ini dengan 1.300 diantaranya masih berada di tempat pengungsian.

Muhari mengatakan, bahwa hingga Minggu malam memang belum terbentuk posko terpadu yang mengkoordinir penanganan tanggap bencana. “Kepala BNPB sudah memerintahkan agar malam ini juga terbentuk posko terpadu. Sehingga data penduduk terdampak dari sisi barat (Kabupaten Malang,Red) dan sisi timur (Kabupaten Lumajang,Red) bisa lebih akurat,” jelas Muhari.

Muhari menjelaskan, BNPB telah menyediakan dana tunggu bagi penduduk yang rumahnya rusak terkena musibah APG ini sebesar Rp500 ribu per bulan. Ini untuk menyewa tempat tinggal sementara sambil menunggu perbaikan hunian dengan dukungan pemerintah.

Hingga Minggu sore proses pencarian dan evakuasi korban masih terus dilakukan. Namun kendala utama yang dihadapi diantaranya adalah masih dinamisnya aktivitas Gunung Semeru. Pencarian sempat dihentikan pada Minggu pagi karena adanya peringatan luncuran APG dari kawah Jonggring Seloko.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Andiani mengatakan, pihaknya mencatat setidaknya 2 kali luncuran APG pada Minggu (5/12). Yang pertama adalah sekitar pukul 05.13 WIB kemudian sekitar pukul 05:00 WIB.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, luncuran APG yang terjadi pada Sabtu sore mencapai jarak terjauh 11 kilometer. Sementara yang terjadi pada Minggu pagi sejauh 2 kilometer. Dengan luncuran APG pukul 10.00 WIB tidak bisa teramati karena kondisi cauca. “Tapi memang jarak luncurnya sudah berkurang,” jelas Andiani.

Andiani mengatakan, Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru sebelumnya sudah mengeluarkan peringatan munculnya PAG pada tanggal 1 Desember 2021. Kemudian dilanjutkan pada tanggal 2 Desember melalui surat maupun informasi Whatssapp Group (WAG) kepada stakeholder terkait.

Status Gunung Semeru saat luncuran APG hingga saat ini kata Andiani masih di level 2 (waspada) itu karena PPGA tidak mengamati aktivitas signifikan dari dapur magma Semeru. Status ini sudah berlangsung sejak Mei 2012 “Tidak teramati gempa tektonik dalam. Kegempaan masih merupakan gempa-gempa yang sifatnya dangkal. Baik itu hembusan maupun guguran. Jadi sampai saat ini statusnya masih level 2. Tapi ini terus kami evaluasi. Bisa saja berubah,” jelasnya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati dan beraktivitas di luar radius rawan bencana, yakni 1 kilometer (km) dari kawah/puncak Gunungapi Semeru.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono menjelaskan, tingkat aktivitas Gunung Api Semeru saat ini tetap di Level II (Waspada). Untuk itu diimbau kepada masyarakat untuk mematuhi rekomendasi dari Badan Geologi, tidak beraktivitas dalam radius 1 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru dan jarak 5 km arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara.

‘’Serta mewaspadai potensi awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama sepanjang aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat,’’ tandas Eko.(daf/jpc/rd)

Jurnalis : Daffa Syaifullah

Editor : Fahmi Akbar