korban eruspi semeru
MERATAPI : Seorang ibu, korban erupsi Gunung Semeru di Kampung Renteng Desa Sumberwuluh Kecamatan Candi Puro Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur harus merelakan seluruh perabotan rumah serta peternakannya tertimbun material vulkanik. FOTO: WAHYU/RADAR SUKABUMI

RADARDEPOK.COM – Gunung Semeru, di Kabupaten Lumajang , Jawa Timur (Jatim), terus menyemburkan lava pijar, Selasa (7/12). Berdasarkan informasi yang diterima Harian Radar Depok dari tim Sekolah Relawan Depok yang berada di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, intensitas muntahan lahar dingin terus mengalir ke wilayah posko pemantauan mereka di sana. Warga di Desa Supiturang, yang paling terdampak dikabarkan mulai terjangkit penyakit :  pusing, batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, diare. Parahnya, di tengah rasa duka yang mendalam, ada saja yang memanfaatkan momen tersebut. Sejumlah harta benda berharga kini dijarah orang tak dikenal.

“Jadi hari ini hujan deras sejak pukul 18:00–21:00 WIB, hal ini mengakibatkan aktivitas gunung meningkat dan terus memuntahkan laharnya ke bawah,” kata Ketua Sekolah Relawan Kota Depok, Rizki Ilham,  Selasa (7/12).

Rizki mengatakan, selama bertugas selama tiga hari di sini. Mereka menerima tiga laporan orang hilang dari warga  setempat. Akan tetapi sulitnya medan yang ditempuh tim Sekolah Relawan untuk mencapai lokasi pemukiman penduduk yang dinyatakan hilang, mengakibatkan relawan tidak dapat berbuat banyak.

“Ada tiga orang dilaporkan hilang, kita udah coba evakuasi. Tapi, saat menuju ke lokasi terhalang aliran lahar dingin. Lahar dingin ini memiliki suhu yang cukup panas dan mengeluarkan uap belerang yang sangat menyengat, dari jarak 200 meter saja sudah terasa panas sekitar 50 derat celsius,” ucapnya.

Akibatnya, lanjut Rizki, pihaknya tidak dapat melakukan evakuasi orang hilang lantaran sangat berbahaya untuk keselamatan relawan dan warga yang ada di lokasi tersebut. “Info yang kami dapat, satu orang hilang sudah ditemukan meninggal oleh relawan dari Kecamatan Candi Puro, karena dari Candi Puro ke lokasi yang kami tuju aksesnya lebih mudah tidak dilalui aliran lahar dingin,” ujarnya.

Akibat tidak dapat melakukan tindakan evakuasi, Sekolah Relawan memfokuskan untuk menyosilasiasikan warga bertahan di pengungsian. Akan tetapi, tugas ini rupanya membawa kesulitan tersendiri baginya. Ini  lantaran banyak warga yang membandel meninggalkan pengungsian saat malam hari untuk mengecek kondisi rumah. Alasannya mereka seperti itu, ada laporan harta benda warga yang hilang dijarah maling.

“Kita gak bisa memastikan warga tetap berada di pengungsian, karena kalau malam beberapa warga, khususnya kepala keluarganya pasti bergantian untuk menjaga rumah.  Karena kemarin ada kejadian beberapa warga kehilangan harta benda di rumahnya,” beber dia.

Kondisi ini tentunya menyulitkan usaha Sekolah Relawan untuk mengevakuasi warga dari rumahnya, karena warga banyak yang bersikeras ingin menjaga harta bendanya.

“Agak sulit menertibkan warga di sini, karena kalau kita keras, mereka keras juga. Paling yang bisa kami lakukan hanya sekedar mengimbau saja. Tapi kalau memang keadaan emergency mau gak mau kami paksa mereka untuk meninggalkan rumahnya,” terangnya.

Dia menambahkan, selain permasalahan pencurian harta benda warga, saat ini warga di sana juga mulai terjangkit berbagai penyakit, seperti pusing, batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, diare. Untuk mengatasi hal ini pihaknya sudah memberikan pelayanan kesehatan ringan. Tetapi untuk kondisi penyakit yang berat, mereka tidak mampu berbuat banyak lantaran di lokasi mereka, tidak ada satupun dokter yang tersedia.

“Sampai saat ini di Kecamatan Pronojiwo belum ada satupun dokter yang tersedia, yang ada hanya tenaga perawat saja, tapi mereka kan gak bisa mengambil tindakan jika ada penyakit berat yang menimpa warga,” imbuhnya.

Beban warga di desa tersebut sedikit mulai mendapat keringanan lantaran aliran listrik sudah mulai menyala, sehingga mesin air, penerangan, dan jaringan telekomunikasi mulai berjalan dengan baik. “Listrik baru hidup sekitar pukul 15:00 WIB. Mesin air sudah berfungsi untuk menyediakan air bersih untuk warga di pengungsian,” tegasnya.

Terbaru, Komandan Posko Tanggap Darurat Bencana Dampak Awan Panas dan Guguran Gunung Semeru, Kol Inf Irwan Subekti melaporkan, tercatat 34 orang meninggal dunia akibat erupsi Gunung Semeru dan 22 orang hilang.

“Sampai saat ini, korban jiwa tercatat di posko kami adalah 34 orang ini terdata, kemudian 22 orang hilang dan 22 orang luka berat,” kata Irwan dalam konferensi pers melalui kanal YouTube BNPB, Selasa (7/12).

Irwan mengatakan, selain korban jiwa, sebanyak 4.250 orang mengungsi di 19 titik pengungsian. Kemudian, sebanyak 5.205 unit rumah terdampak erupsi Gunung Semeru. “4.250 orang mengungsi di mana ini tersebar di beberapa tempat di antaranya adalah sekolah, masjid, balai desa termasuk ada di rumah-rumah penduduk,” ujarnya

.Lebih lanjut, Irwan mengatakan, tercatat 10 kecamatan dan 17 desa yang terdampak erupsi Semeru. Ia mengatakan, pencarian korban akan terus dilakukan secara optimal hingga satu minggu mulai dari pagi hingga sore dengan memerhatikan situasi dan cuaca di Kabupaten Lumajang dan di sekitar Gunung Semeru.

“Mengingat setiap hari setiap sore turun hujan sangat berpengaruh terhadap proses pencarian,” pungkasnya.

Gunung Semeru yang berada di dua kabupaten, yakni Malang dan Lumajang, Jawa Timur mengalami erupsi pada Sabtu (4/12/2021) sekitar pukul 15.20 WIB. Erupsi Gunung Semeru mengeluarkan lava pijar, suara gemuruh serta asap pekat berwarna abu-abu. Selain menimbulkan korban jiwa, erupsi juga mengakibatkan puluhan korban luka hingga sejumlah rumah warga rusak sedang hingga berat.(dra/rd)

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Fahmi Akbar