pabrik belimbing
TERBENGKALAI : Bangunan tua yang dulu beroperasi sebagai koperasi disamping bekas pabrik belimbing di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan tampak kotor dan terurus. GERARD SOEHARLY/RADAR DEPOK
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM – Bangunan tua di kawasan perumahan Sawangan Permai, Kecamatan Sawangan Kota Depok tidak terurus alias kusam. Guguran daun dari pohon belimbing mendominasi sampah pada bangunan tersebut. Dua bangunan bekas pabrik pengolahan belimbing itu dulu pernah tersohor kala Depok menjadikan ikon kota.

Pabrik yang dilengkapi dengan bangunan koperasi itu juga tak dapat ditemui satu orang pun, Jumat (26/11). Suasana sepi turut menyelimuti, tak jauh berbeda dengan sebuah pemakaman umum di dekat bangunan tersebut. Tak sengaja seorang pria patuh baya sedang duduk termenung. Dia adalah Rojali. Pria berkaos kuning ini  merupakan penjaga pabrik yang mengolah buah belimbing menjadi aneka makanan dan minuman kemasan di daerah Sawangan.

Sambil ketakutan Rojali menyebut, pabrik tersebut telah tutup sekitar delapan tahun lamanya. Disebelah bekas pabrik belimbing, berdiri sebuah bangunan yang dulu beroperasi sebagai koperasi. Bahkan, kondisinya lebih memprihatinkan daripada pabrik tersebut.

Sebagai orang yang paling mengetahui keadaan sesungguhnya dari pabrik tersebut, Rojali tidak ingin berbicara apapun. Ia takut mendapatkan teguran dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Depok. “Seluk beluk saya tahu tapi saya pilih diam saja,” terangnya singkat.

Keberadaan Belimbing Dewa pada 10 tahun lalu memang nyohor. Belimbing khas Kota depok diakui yang paling besar buahnya dan banyak manfaat. Seperti Niin, yang masih memiliki lahan Belimbing Dewa. Dari 60 pohon belimbing kini hanya tersisa delapan pohon, di Kelurahan Tugu Kecamatan Cimanggis Kota Depok.

“Dulu ada banyak pohon belimbing saya, sekarang tinggal delapan pohon saja,” kata Niin, salah satu pemilik lahan belimbing yang sudah menyusut.

petani
MERAWAT : Salah satu petani buah Belimbing di kawasan Kelapa Dua, Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis, Niin ketika menunjukan cara merawat Belimbing agar tetap terjaga kualitasnya. GERARD SOEHARLY/RADAR DEPOK

Niin mengakui, dia sengaja menjual sebagian tanahnya karena, berbenturan dengan persoalan ekonomi. Pasalnya, beberapa anggota keluarganya sempat jatuh sakit. Seiring dengan hilangnya perhatian pemerintah terhadap perbelimbingan di Kota Depok. Niin tetap bertahan hidup dengan cara menjual hasil panen belimbing dari delapan pohon yang masih tersisa. “Kalau dulu perhatian pemerintahnya ada, kita dikasih pupuk, dikasih bibit,” terang dia.

Memasuki usia senjanya, Niin masih memijak satu per satu anak tangga yang terbuat dari pohon bambu. Hal itu dilakukannya untuk menjaga dan merawat pohon belimbing agar buah yang dihasilkan tetap terjaga kualitasnya.

Baca Juga  Pelajar Depok Diajari Kesakralan Pernikahan

Rasa kecewa pun datang dari para pedagang buah belimbing yang mengaku mengalami kesulitan dalam memperoleh buah tersebut.

Bahkan, untuk mendapatkannya harus membeli ke luar Kota Depok terlebih dulu. Situasi itu digambarkan mereka sebagai keadaan yang sangat terbalik dengan keadaan beberapa tahun silam. Dimana Depok menjadi ‘raja belimbing’. “Sekarang susah untuk memperoleh buah belimbing harus beli dari luar,” sebut Ucok, salah satu pedagang beraneka buah di kawasan Kelapa Dua.

Sementara itu, salah satu pedagang belimbing di wilayah tersebut menuturkan, Kota Belimbing yang selama ini menjadi kebanggaan Kota Depok mulai terkikis. “Iya, Kota Belimbing sudah mulai terkikis,” ucap Ibeng Belimbing yang dulu terkenal sebagai pemilik lahan belimbing di kawasan Kelapa Dua.

Meski demikian, dia masih diuntungkan dengan adanya pasien darah tinggi yang secara terus menerus mencari buah itu. Menariknya, belakangan ini banyak pembeli yang beralasan bahwa buah tersebut dapat mencegah dan mengobati penyakit Covid-19. “Justru meningkat ya kalau sekarang ada yang bilang bisa nyembuhin Covid-19 soalnya,” beber dia.

Sementara, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Depok, Widyawati Riyandani mengatakan, penyusutan lahan pertanian disebabkan oleh berkembang pesatnya pembangunan sektor perumahan. “Penyusutan lahan pertanian dari tahun 2011 hingga 2013 sebesar 374 hektar, atau 125 hektar (Ha) per tahun atau 15 persen,” ujarnya kepada Harian Radar Depok, Minggu (28/11).

Dia mengungkapkan, pada 2013 berdasarkan data DKP 3 Kota Depok, tercatat luas kebun belimbing sebesar 54,85 Ha yang tersebar di 15 kelurahan pada tujuh kecamatan. Kebun belimbing terluas terdapat di Kelurahan Rangkapanjaya, Kecamatan Pancoranmas sebesar 14,14 Ha. Sedangkan kebun belimbing dengan luasan terkecil terdapat di Kelurahan Limo, Kecamatan Limo dengan luas 0,11 Ha.

Kemudian, pada 2017, diketahui bahwa kebun belimbing mengalami penurunan. keberadaan kebun belimbing menyebar dalam luasan yang kecil yaitu di 16 Kelurahan pada 7 Kecamatan. Jika di t2013 mencapai 54,85 Ha, di tahun 2017 menjadi 34,90 Ha. Namun, di 2017 Kelurahan Rangkapanjaya, Kecamatan Pancoranmas memiliki kebun belimbing terluas yakni 7,76 Ha, sedangkan Keluraham Limo, Kecamatan Limo memiliki luasan terkecil kebun belimbing yakni 0,05 Ha.

Baca Juga  KMT Seri 1001 Basi 21 Juli

“Penurunan luas kebun belimbing di Kota Depok, disebabkan oleh terjadinya konversi kebun belimbing menjadi penggunaan lahan lain seperti pemukiman dan kebun lain,” ungkapnya.

Wid –sapaan Widyati Eiyandani- menuturkan, terjadinya perubahan tersebut dipengaruhi oleh kepentingan pemilik lahan. Seperti membuat rumah untuk sang anak pada lahan kebun belimbing yang ada, adanya kebutuhan ekonomi sehingga kebun belimbingnya di jual. Selain itu perawatan tanaman belimbing menyebabkan pemilik mengganti belimbing, menjadi tanaman buah lain yang relatif lebih mudah perawatannya.

Dengan mengalami penurunan luasan kebun belimbing, pada Kelurahan Baktijaya tidak di temukan kebun belimbing. Kebalikan dengan Kelurahan Cipaying Jaya dan Ratujaya dimana pada tahun 2017 ditemukan kebun belimbing dengan luas masing-masing 1,62 Ha. “Di 2017 dominan kebun belimbing di Kota Depok mengalami penurunan luasan,” tuturnya.

Jumlah kebun di setiap kelurahan bervariasi yaitu ada yang berjumlah 1-2 terdapat di Kelurahan Cipayung Jaya, Limo dan Ratujaya. Namun, ada pula yang berjumlah banyak seperti yang terdapat di Kelurahan Pancoranmas terdapat 35 kebun, Rangkapanjaya 35 kebun dan Rangkapanjaya Baru 20 kebun.

punah
FORMALITAS : Pengendara ketika melintas diantara dua tugu Belimbing yang sudah tak terlihat lagi tanda pengenalnya di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan. GERARD SOEHARLY/RADAR DEPOK

“Jumlah pohon di setiap kelurahan juga bervariasi, jumlah pohon terbanyak terdapat di Pancoranmas yakni 759 pohon, dan yang terkecil juga terdapat di Kelurahan Limo yaitu hanya delapan pohon,” terangnya.

Demi membudidayakan belimbing, DKP 3 setiap tahunnya melakukan pembinaan dan dukungan terhadap kelompok tani belimbing yang masih aktif. Dan menyebar di setiap kecamatan Kota Depok. Kelompok tani yang masih bertahan seperti, empat kelompok tani di Sawangan, empat kelompok tani di Pancoranmas, satu kelompok tani di Cipayung, tiga kelompok tani di Cimanggis, satu kelompok tani di Tapos, satu kelompok tani di Beji dan dua kelompok tani di Limo.

“Kami berikan pelatihan budidaya dan penanganan organisme pengganggu tanaman (OPT), bantuan sarana seperti pembungkus belimbing pestisida, tangga lipat, handspayer, alat fogging untuk hama/lalat buah, handtraktor dan alat-alat lainnya yang di butuhkan kelompok tani,” bebernya.

Maka dari itu, DKP 3 juga turut mengenalkan belimbing, agar tetap eksis di masa kini dengan mengikuti berbagai even pameran baik tingkat provinsi maupun tingkat pusat. Seperti Hari Krida Pertanian, Hari Pangan Sedunia, maupun Pekan Hortikultura. “Yang paling utama adanya agenda festival belimbing Depok yang rutin dilaksakan pada setiap tahun mulai dari tahun 2019,” tutur Wid.

Baca Juga  FLS2N dan FL2N Beji Digelar Bersamaan

Olahan belimbing juga banyak dijual para Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Depok. Begitulah cara Depok supaya belimbing tetap jadi budidaya.

Kepala Bidang Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (DKUM) Depok, Dewi Indriati mengungkapkan, terdapat enam UMKM Kota Depok yang masih menjual produk olahan belimbing. “Enam UMKM tersebar diantaranya berada di Kecamatan Sawangan, Cimanggis dan Cilodong,” ucap Dewi.

Dewi menjelaskan, produk olahan belimbing antara lain dodol, jus, sirup, selai hingga kripik. Olahan tersebut memiliki merek yang berbeda, sesuai pemilik yang menjual produk tersebut. “Contoh merek produk yaitu delira, rasa dewa dan olavera,” jelasnya.

Dewi menyebut, masyarakat cukup antusias dengan adanya produk olahan belimbing yang terbilang cukup langka ini. “Peminat masyarakat cukup tinggi sebagai produk khas Kota Depok,” ucapnya.

Dewi berharap, para UMKM di Kota Depok yang masih menjual produk olahan belimbing untuk dapat terus mendorong produk tersebut agar lebih banyak dikenal oleh masyarakat di Depok. “Mudah-mudahan para UMKM juga tetap fokus dan meningkatkan kualitas produksi,” bebernya.

Terpisah, Anggota Komisi B DPRD Depok, Qurtifa Wijaya menambahkan, pemkot perlu menghimpun para petani belimbing dalam satu wadah sebagai jembatan komunikasi, untuk menjaga keberlangsungan pertanian tanaman belimbing di Kota Depok. “Yang bisa dilakukan pemkot saat ini adalah bagaimana menjaga agar  lahan yang masih eksis tetap terjaga dan tidak berkurang lagi,” bebernya.

Menurutnya, terkait pabrik belimbing yang saat ini kosong,  pemerintah juga perlu melakukan pembangunan kemitraan untuk menambah bahan baku. Antara pengusaha pabrik pengelolaan buah belimbing dan para petani dengan bantuan pemerintah kota. Dengan begitu, dengan kemitraan petani akan dibantu dalam penjualan hasil taninya dan adakepastian income dari hasil panennya. “Sementara pabrik akan terjaga kebutuhan suplay bahan bakunya,” tandasnya.(cr1/van/rd)

Jurnalis : Gerard Soeharly, Ivanna Yustiani

Editor : Fahmi Akbar