Ft OPini Heri Solehudin Hari Ibu
Oleh: Dr. Heri Solehudin Atmawidjaja*)

Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh, bunda ada dan tiada
Dirimu ‘kan selalu ada di dalam hatiku

Sebait lagu Bunda milik Melly Goeslow ini pasti sudah tidak asing lagi ditelinga kita semua. Sebagai manusia yang terlahir ke dunia kita tentu sadar bahwa ibu kita telah mempertaruhkan nyawa demi hadirnya kita di dunia ini. Kasih sayang dari ibu, kegigihannya, ketulusan, dan kesabarannya dalam mendidik, mengayomi, menyayangi kita adalah pengorbanan yang tak ternilai harganya. Oleh karena itu, peringatan Hari Ibu atau Mother’s Day dirayakan oleh hampir semua negara di dunia termasuk Indonesia. Ibu adalah sosok yang sangat berharga bagi setiap orang. Bahkan dalam perspektif sejarah bangsa peran seorang ibu justru sangat amat besar. Di Indonesia, penghargaan terhadap jasa dan pengorbanan ibu tak hanya sebatas melahirkan, menyayangi, mendidik, dan mengasihi, namun para ibu juga jadi saksi sejarah bangsa Indonesia dalam mempertahankan dan memperjuangkan martabat bangsa Indonesia.

Perspektif Sejarah

Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, yang digelar dari 22 hingga 25 Desember 1928. Kongres ini diselenggarakan di sebuah gedung bernama Dalem Jayadipuran, yang kini merupakan kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta. Kongres ini dihadiri sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatra. Di Indonesia, organisasi wanita telah ada sejak 1912, terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan wanita Indonesia pada abad ke-19 seperti KartiniMartha Christina TiahahuCut Nyak MeutiaMaria Walanda MaramisDewi SartikaNyai Ahmad DahlanRasuna Said, dan sebagainya.

Kalau melihat kembali sejarah, sebenarnya sejak tahun 1912 sudah ada organisasi perempuan. Pejuang-pejuang wanita pada abad ke 19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nyak Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain, secara tidak langsung telah merintis organisasi perempuan melalui gerakan-gerakan perjuangan. Akan tetapi penetapan Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember sendiri baru diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Dan puncak peringatan Hari Ibu yang paling meriah adalah pada peringatan yang ke 25 pada tahun 1953. Tak kurang dari 85 kota Indonesia dari Meulaboh sampai Ternate merayakan peringatan Hari Ibu secara meriah. Hal itu menjadi latar belakang dan tonggak sejarah perjuangan kaum perempuan di Indonesia, dan memotivasi para pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib bagi kaum perempuan.

Perspektif Religius dan Kultural

Islam begitu sangat memuliakan seorang ibu, penghormatan terhadap seorang ibu telah diajarkan dari sejak zaman Nabi Muhammad SAW, bahkan dalam sebuah Hadist Nabi disebutkan:

“ An Abi Hurairah radiyallahu ‘anhu qala, ja-a rajulun ila Rasulillahi SAW,  faqala Ya Rasuمullah: man ahaqqu-nasi bihusni shahabatiy? Qala ummuka. Qala tsumma man? Qala tsumma ummuka. Qala tsumma man? Qala tsumma ummuka. Qala tsumma man? qala tsumma abuka,”.

Yang artinya: “Dari Abu Hurairah, dia berkata, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?’ Rasul pun menjawab: ‘Ibumu’. ‘Lalu siapa lagi?’, ‘Ibumu’. ‘Siapa lagi’, ‘Ibumu’. ‘Siapa lagi’, ‘Ayahmu’.”

Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa sosok ibu merupakan hal yang luar biasa mulia di mata Islam bagi Rasulullah SAW. Menurutnya, disebutnya nama ibu sebanyak tiga kali karena umumnya ibu telah melewati tiga kesulitan dalam hidup. Antara lain ketika mengandung, melahirkan, hingga menyusui. Sedangkan sosok ayah memang memiliki andil yakni dalam hal pendidikan dan nafkah bersama-sama dengan ibu.

Secara kultural bagi masyarakat kita bahwa ibu merupakan sekolahan, Madrasah pertama bagi seorang anak (Madrasatul Ulla), dialah yang mengawali kehidupan kita, mengajarkan yang pertama dan memberikan kehidupan (ASI), maka sudah semestinyalah seorang ibu mendapatkan penghormatan lebih dari anak-anaknya. Perjuangan yang sangat luar biasa seringkali dilakukan demi dan demi anak-anaknya.

Sebuah contoh inspiratif seorang ibu di Yogyakarta, meski hanya berprofesi sebagai buruh cuci, tidak membuat Ibu Yuniati berkecil hati menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi. Ia pernah mendapat cibiran warga tentang niatnya menguliahkan sang anak. Namun, niat ikhlas untuk menyekolahkan anaknya disertai perjuangan dan doa, niatnya mendapat kemudahan dari Alloh SWT, sang anak  melalui program beasiswa. Dengan perjuanganya sebagai buruh cuci dapat mengantarkan anak-anaknya hingga ke jenjang S3 di Hokaido, Jepang. Sebelumnya, gelar S2 telah diraih sang anak dari Universitas Gadjah Mada dan S1 di Universitas Negeri Yogyakarta, sebuah perjuangan seorang ibu yang dibayar tunai dengan keberhasilan anaknya. Ibu Yunianti hanyalah satu contoh dan tentu kita tahu banyak sekali contoh-contoh ibu hebat, yang berjuang untuk anak-anak dan keluarganya, mereka bukanlah sosok ibu yang sempurna, bukan sosok ibu yang berpendidikan tinggi, tetapi mereka adalah sosok ibu yang terbaik.

Semoga kita senantiasa diberi kesempatan untuk membalas kebaikan ibu kita,…. Ibukaulah laksana mentari yang tak kenal lelah menyinari indah dunia ini, kau bagai rembulan yang mempu menghiasi di kala malam tiba. Sungguh kasihmu tiada tara dan tak bisa aku ukur dengan apapun. Ibu sebisa mungkin akan mencoba mewujudkan mimpi mimpimu. Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2021.  

*) Dosen Pascasarjana UHAMKA Jakarta, Anggota Forum Doktor Sospol UI, Direktur Heri Solehudin Center.