Mimbar Jumat KH A Mahfud Anwar
Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar (Ketua MUI Kota Depok)

Oleh : K.H. A. Mahfudz Anwar, (Ketua MUI Kota Depok)

RADARDEPOK.COM – Setiap muslim yang baik pasti memikirkan hidup dan kehidupannya. Hidupnya selalu digerakkan oleh pikiran positifnya. Tidak pernah berjalan di muka bumi tanpa disertai dengan pikiran dalam dirinya. Makanya jalannya selalu tertuntun dengan baik. Minim kesalahan atau khilaf. Karena bisa menghindari jebakan (ranjau) hidup. Karena tahu bahwa dalam hidup ini banyak ranjau yang bisa menyebabkan manusia tergelincir dalam kemadlaratan (bahaya). Dan sadar bahwa hidup di dunia ini penuh ghurur (tipu daya) yang harus dihindari. Maka ia selalu berjalan dengan teliti dan waspada.

Pemikiran yang demikian itu akan membentuk sikap dan perilaku yang positif. Karena seorang muslim berprinsip bahwa manusia hidup itu adalah sebagai Pencari Kebenaran. Dan kebenaran yang hakiki adalah kebenaran yang datang dari Dzat Yang Maha Benar, yaitu Allah swt. Dan Allah swt. telah mengajarkannya untuk selalu berbuat adil dalam segala aspek kehidupan. Dengan menempatkan segala sesuatu sesuai dengan tempatnya. Dan manusia adalah makhluk ciptaan Allah swt. yang dimuliakan dibanding dengan makhluk-makhluk lainnya. Maka sikap memuliakan sesama manusia adalah bagian dari realisasi keadilan. Sehingga senantiasa bersikap dan berlaku baik (ihsan) kepada manusia menjadi tuntutan hidup seorang muslim.

Berangkat dari Ihsan itulah , seorang muslim selalu berpikir berbagi atau memberi. Memberi Ilmu kepada yang masih belum ber ilmu, berbagi harta kepada yang fakir atau miskin. Berbagi tenaga pada yang membutuhkan pertolongan pekerjaan. Dan sikap demikian itulah yang terangkum dalam konsep ta’awun (tolong menolong) dalam kebaikan. Dengan demikian kalau ingin menjadi manusia yang unggul, maka mindset berpikirnya adalah “memberi”, bukan mental “peminta”. Dan Islam mengajarkan pada setiap muslim agar bermental “muzakki/ pemberi” bukan bermental “mustahiq/ penerima”.

Di samping itu seorang muslim yang taat, senantiasa menghindari perbuatan destruktif, perbuatan buruk yang pasti merugikan diri sendiri dan orang lain. Maka ia tidak akan berbuat permusuhan dengan siapa saja. Karena ia sadar bahwa permusuhan dan kebencian hanya akan mendatangkan keburukan. Istilahnya, “Menang jadi arang, kalah jadi abu”. Permusuhan itu kalau toh menang akan merusak persaudaraan, dan kalau kalah akan menjatuhkan dirinya ke lembah kehinaan. Maka tidak ada artinya sikap bermusuhan antar sesama. Untuk itu yang baik adalah sikap bersahabat dan bersaudara kepada semua orang. Kecuali jika ada orang yang memulai memusuhi, maka baru boleh membalasnya dalam rangka mempertahankan hidup dan kehidupan (wiqayatun-nafs). Karena seorang muslim itu dalam ajaran Islam, “terpelihara darahnya, harta dan kehormatannya.”

Di samping itu bahwa seorang muslim senantiasa mengambil pelajaran kesejarahan (History). Sebab dengan mengacu peristiwa-peristiwa yang telah terjadi bisa memperoleh pelajaran untuk hidup selanjutnya. Jika perintiwa itu baik, maka bisa dicontoh kebaikannya, seperti kisah-kisah orang Shaleh atau orang sukses. Tapi jika didapati peristiwa buruk, maka bisa menghindarinya agar tidak terulang keburukan itu pada dirinya. Seperti peristiwa angin topan yang menimpa kaum ‘Ad (Kaum penentang pada Nabi Hud) dan menghancur leburkan mereka beserta negerinya., Kaum Tsamud (kaum yang menentang Nabi Shaleh) yang disiksa oleh Tuhan dengan gempa bumi yang dahsyat disertai petir yang mematikan mereka semua, kejahatan Fir’aun dll. Itu semua menjadi pelajaran berharga bagi seorang muslim. Untuk selalu berpikir dan memperbaiki diri. Wallahu a’lam.(*)

Editor : Fahmi Akbar