boks pendidikan
PANTAU : Kepala Disdik Kota Depok, Wijayanto saat melakukan monitoring kegiatan PAS di SDN Cinangka 1 dan SDN Pasir Putih 3, Kecamatan Sawangan Kota Depok, Rabu (8/12). ISTIMEWA

RADARDEPOK.COM – Pelaksanaan Penilaian Akhir Semester (PAS) ganjil tahun pelajaran 2021/2022 di Kota Depok, berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Hampir seluruh Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Depok, melaksanakan PAS secara tatap muka. Protokol kesehatan (Prokes) menjadi titik berat Dinas Pendidikan (Disdik) saat PAS, yang di mulai sejak Senin (6/12).

Laporan : Fahmi Akbar

Segerombolan anak sedang asik berbincang sebelum masuk SDN Cinangka 1, Rabu (8/12) pagi. Mengenakan seragam putih merah disertai topi dan masker, kumpulan anak itu pun masuk ke sekolah. Sebelum masuk, guru sudah berjaga di depan. Satu persatu siswa diperiksa suhu badannya. Selepas itu, diwajibkan mencuci tangan sebelum masuk ke kelas.  Di dalam kelas siswa juga dilarang berbicara dan meja yang disiapkan sudah diberi jarak sesuai prokes.

Kepala Disdik Kota Depok, Wijayanto didampingi kepala guru SDN Cinangka 1 berkeliling melihat jalannya PAS. Satu persatu prokses yang diterapkan sekolah tak lepas diawasinya. Termasuk disiplin siswa dalam menganakan masker. Disela-sela pantauannya,  Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Depok, Wijayanto memastikan pelaksanaan hari pertama hingga Rabu (8/12), PAS ganjil tahun pelajaran 2021/2022 di 207 SDN berjalan dengan baik dan lancar.

PAS dilaksanakan sesuai Peraturan Walikota (Perwal) Depok Nomor 66 Tahun 2021, tentang Pedoman Penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di Masa Pandemi Covid-19. “Alhamdulillah, dari pantauan langsung dan juga laporan yang kami terima dari seluruh UPTD SDN di 11 kecamatan, pelaksanaan PAS ganjil ini berjalan dengan tertib,” ujar pria berkacamata itu.

Mantan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Seni Budaya dan Pariwisata (Disporyata) ini menjelaskan, pelaksanaan PAS sudah terkoordinir dengan baik oleh siswa maupun guru yang terlibat. Semua menerapkan prokes selama ujian berlangsung. PAS ganjil tahun ajaran 2021/2022, dilaksanakan sedari 6 hingga 18 Desember 2021. Ini merupakan salah satu bentuk evaluasi yang dilakukan oleh satuan pendidikan. Jadi, diperlukan untuk mengukur pencapaian kompetisi peserta didik selama satu semester.

“Mudah-mudahan hingga hari terakhir seluruhnya bisa terlaksana tanpa ada kendala,” jelasnya.

Wijayanto juga memastikan, waktu pembagian rapor dan libur sekolah semester satu mengalami pergeseran. Pembagian rapor ditetapkan menjadi  7 Januari 2022, sementara libur sekolah mulai 10-21 Januari 2022.

Keputusan tersebut sebagai tindaklanjut dari instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 62 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Corona Virus Disease 2019 pada saat Natal 2021 dan Tahun Baru 2022. Serta Surat Edaran (SE) Sesjen Kemendikbudristek Nomor 29 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Menjelang Libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022.

“Hal ini berlaku untuk seluruh jenjang pendidikan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Depok,” ujarnya.

Ia mengatakan, untuk kegiatan belajar mengajar semester dua sudah dimulai sejak 20 Desember hingga 6 Januari. Lalu, masuk kembali 24 Januari atau usai libur semester satu.  Sedangkan 6 hingga 11 Desember dilakukan kegiatan evaluasi perkembangan anak untuk jenjang PAUD. Di tanggal yang sama juga dilakukan penilaian akhir semester satu bagi siswa SMP.

“Sedangkan 6 sampai 18 Desember dilakukan penilaian akhir semester satu bagi siswa SD. Kemudian, 13 sampai 18 Desember kegiatan pekan kreativitas siswa bagi PAUD dan SMP,” bebernya.

Di lokasi terpisah, kekhawatiran masih menyelimuti sejumlah guru di SMPN 2 Depok saat menjalani Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas. Namun, kepuasan mengajar murid secara langsung mengalahkan kekhawatiran para guru. Begitulah pengalaman dua guru SMPN 2 Depok, yakni Manondang Santa Lucia  dan Cucu Latifa Hidayati saat memulai PTM Terbatas. SMP Negeri 2 Depok sempat menjadi sorotan lantaran memiliki kasus Covid-19. Berawal satu orang terinfeksi Covid-19, lalu bertambah hingga total sembilan kasus.

Penghentian sementara PTM terbatas di Depok berlangsung pada 19-29 November. Cucu, guru Bahasa Indonesia di SMPN 2 Depok tak memungkiri ada perasaan khawatir menjalani PTM Terbatas.

Namun, ia percaya dan berserah diri kepada Allah SWT. “Tentu kita berdoa dan berusaha. Usahanya apa? Dengan perketat jalankan protokol kesehatan, jaga imun, imbau orangtua dan siswa apabila keadaan tak sehat dan bergejala agar PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh),” ujar Cucu saat ditemui di SMPN 2 Depok.

Perempuan berusia 51 tahu ini sadar tak bisa lepas dari kewajibannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Saat pemerintah mewajibkan guru melakukan PTM Terbatas, tentu Cucu harus menjalani. “Kalau saya pribadi sebetulnya untuk saat ini lebih senang PTM Terbatas. Karena saya pribadi ketemu siswa itu bahagia ya. Karena saya bisa transfer ilmu langsung dan mengoreksi langsung ketika siswa tak paham. Kalau belajar dari rumah kan terbatas hanya online. Kalau online ada yang berani, ada yang tak berani,” ujar Cucu.

Sementara itu, Manondang juga merasa khawatir mengajar di tengah adanya peningkatan kasus Covid-19, khususnya klaster PTM Terbatas. Manondang merasa sempat dalam kondisi dilematis saat melihat ada murid dan guru SMPN 2 Depok yang terpapar Covid-19. “Kalau ngomongin kaya gini, kita aja merinding sebenarnya. Makanya kita sampai mau tahu data, ingin tahu aja data anak yang terpapar, artinya minimal mengantisipasi supaya kita bisa jaga jarak atau gimana untuk mengatasinya,” kata Manondang.

Cuma kalau memang tidak dibiasakan nantinya akan tetap seperti ini pembelajarannya, kasihan anak-anaknya. Antara khawatir, berserah dan dilaksanakan aja dengan protokol kesehatan. Manondang merasa ada kepuasan saat mengajar langsung muridnya di sekolah. Ia pribadi lebih menyukai PTM Terbatas.

“Karena beda sekali. Kemarin kita tatap muka itu anak yang enggak pernah ketemu diajak ngobrol aja seperti patung karena enggak pernah ketemu guru, ketemunya laptop. Setelah dua minggu berjalan PTM Terbatas itu anak sudah mulai aktif,” lanjut Manondang.

Manondang tak memungkiri anak-anak bisa mendapatkan ilmu pengetahuan dari internet, guru les, dan buku. Namun, sosialisasi dari guru ke murid bisa hilang. Daya tangkap anak kan beda-beda juga. “Kendati demikian saya senang sudah bisa PTM terbatas lagi. Karena sebentar lagi PAS buat jenjang SMP setelah SD selesai,” tutup perempuan bermabut panjang ini.(rd)

Editor : Fahmi Akbar