rudapaksa
INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK DIRILIS : Kabid Humas Polda Metro Jaya, didampingi Kapolrestro Depok, dan Kasatreskrim Polrestro Depok, sedang melakukan press rilis tersangka pelecehan terhadap anak di bawah umur, Selasa (14/12).

RADARDEPOK.COM – Tabir kejahatan seksual MMS yang menyasar anak belasan di bawah umur di Kelurahan Kemirimuka, Kecamatan Beji Kota Depok, terkuak. Predator seksual anak ini dikenal dengan panggilan pakde. Selain kasus rudapaksa, usut  punya usut, tersangka juga dikenal sebagai pribadi yang bermasalah dan dikenal sering membuat onar di lokasi yang ditempatinya.

Ketua RT5/6, Kelurahan Kemirimuka, Mat Sait mengatakan, Pakde MMS baru masuk wilayahnya pada 2019 – 2021, setelah dia terkena masalah dan diusir dari lingkungan RW15 Kelurahan Kemirimuka.  “Awalnya dulu dia pindahan dari RW15 kita gak tau masalahnya apa, tapi katanya ada masalah di sana,” kata Sait kepada Harian Radar Depok, Selasa (14/12).

Dia mengungkapkan, pakde ini dikenal sebagai orang nomaden yang kerap berpindah-pindah tempat, dari satu masjid ke masjid lain untuk menumpang hidup. Saat datang ke Kemirimuka, dia datang sendiri tanpa ditemani sanak keluarga. “Dia sih ngakunya punya keluarga di Kalimantan, dan dia mengaku sebagai orang Jawa Tengah makanya dipanggil pakde,” ucap Sait.

Pada awal kedatangannya ke lingkunga RT5/16 pada 2019 silam, Sait sudah melihat gelagat yang kurang baik dari MMS. Dia merasa, MMS memiliki itikad yang buruk kepada lingkungan mereka terutama lingkungan tempat ibadah dekat sekitar, tempat dia menumpang hidup di sana. “Dia tidak ada pekerjaan, tapi punya keahlian untuk ngajarin anak–anak menimba ilmu agama,” tuturnya.

Setelah setahun lebih menumpang hidup di tempat ibadah, MMS mulai menciptakan konflik di lingkungan tempat ibadah. Semua berawal ketika MMS membuka praktek belajar ilmu agama untuk anak–anak.  Sedangkan di sana sudah ada pemberian ilmu agama yang berdiri sejak lama sebelum hadirnya predator anak ini. “Kita sudah punya perkumpulan agama Malam Kamis yang diisi remaja, sampai sekarang masih aktif. Nah dia juga buka dan mau menguasai tempat ibadah,” katanya.

Lalu beberapa lama kemudian, sekitar pertengahan 2021, jamaah MMS ini semakin berkembang. Tapi, sepertinya antara MMS dan jamaah yang menyediakan fasilitas kontrakan  ada sebuah konflik. Sehingga MMS kembali terusir dari kontrakan tersebut.

“Setelah MMS diusir, penyumbang tempat pernah ngomong ke saya kalau dia curiga dengan MMS. Dia merasa heran liat metode pengajaran MMS yang meminta murid wanita usia  belasan tahun untuk duduk sejajar denganya. Sedangkan anak perempuan di bawah usia 10 tahun duduk di depannya,” jelas Sait.

Namun lagi – lagi, entah ilmu pengasihan apa yang dimiliki MMS. Sehingga masih ada orang yang mau menampungnya setelah dia terlempar dari sana. Salah seorang jamaah yang tak lain bos pengepul barang bekas, yang tempatnya menjadi lokasi pelecehan belasan anak.

Setelah kurang lebih enam bulan di tempat baru ini, munculah laporan kasus pelecehan seksual yang dialami anak–anak. Awalnya seorang anak mengadu ke orangtuanya, adiknya disekap di dalam WC dan dimatikan lampunya sebagai hukuman yang diberikan MMS. Laporan ini akhirnya membuat orang tua curiga dan menanyakan apa saja yang diperbuat MMS.

“Jadi ada dua  warga saya, yang satu anak tukang nasi goreng, satu lagi anak tukang pecel lele. Anak mereka mengaku diperlakukan tak senonoh. Modusnya setelah selesai pemberian ilmu agama,” ucapnya.

Akhirnya Minggu malam, MMS ditangkap warga dan Binmas Kemirimuka Aiptu Rojudin tanpa perlawanan. Malam itu MMS bersikap tenang seolah tidak merasa berbuat apa–apa. “Dia santai aja pas kami tangkap, tapi untungnya sama polisi sudah diproses. Kami dan orang tua korban meminta MMS diberikan hukuman yang seberat – beratnya,” tegasnya.

Tersangka MMS diringkus polisi setelah salah satu dari orangtua korban menceritakan perbuatan tidak senonoh tersangka terhadap anakya. Tapi, ternyata orangtua lainnya juga mengalami hal yang sama terhadap putri mereka, dan akhirnya melapor ke Polisi.

“Terungkapnya kasus ini adalah bahwa di Desember ini ada salah satu korban menceritakan kejadian yang dialaminya kepada orangtuanya, yaitu pencabulan. Kemudian orangtua korban ini menceritakan kejadian itu pada orangtua yang lainnya. Hingga ada 10 orang korban yg mengalami tindakan pelecehan dari MMS,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Endra Zulpan, kepada wartawan di Mapolres Metro Depok, Selasa (14/12).

Zulpan mengatakan, kejadian ini berawal dari Oktober 2021 hingga Desember 2021. Akibat kejadian pencabulan ini ada sebanyak 10 anak korban yang melapor ke Polres Metro Depok. “10 korban dengan rentan usia 10-15 tahun, tapi kebanyakan korban usia 10 tahun, dan semuanya berjenis kelamin perempuan. Muridnya itu keseluruhan ada 70 orang,” katanya.

Adapun tempat dimana MMS melakukan aksi asusila itu kepada korban, di RT01/12, Kelurahan Kemirimuka, Kecamatan Beji.

“Kami sudah memeriksa beberapa saksi baik itu korban, orangtua, dan beberapa pihak yang memiliki informasi terkait tindak pidana ini. TKP-nya di tempat si tersangka memberikan ilmu agama,” Zulpan.

Adapun modus yang dilakukan tersangka terhadap para korban yakni dengan bujug rayu dan ada sedikit pemaksaan hingga intimidasi agar korban menuruti kemauannya. Diakhir kegiatan rudapaksa tersebut, dia memberikan uang Rp10 ribu kepada korban.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 76 juncto pasal 82 Tentang Perlindungan Anak, hingga pasal 64 KUHP, dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun, dengan denda paling banyak Rp5 miliar. “Ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara,” tutupnya. (dra/rd)

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Fahmi Akbar