pemilihan RT pancoranmas
MEDIASI : Kedua belah pihak yang berseteru akibat, pemilihan Ketua RT03/RW16, Kelurahan Pancoranmas saat melakukan mediasi. FOTO : GERARD/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, PANCORANMAS – Seorang warga di RT03/16, Kelurahan/Kecamatan Pancoranmas, Dewi menduga, adanya kecurangan pada pemilihan Ketua RT di wilayahnya beberapa waktu lalu.

“Tidak ada berita acara yang dibuat panitia, penghitungan suara tidak ada saksi yang mengatakan sah atau tidaknya surat suara,” kata Dewi kepada Radar Depok, Selasa (07/12).

Dewi menyebutkan, salah satu calon dengan nomor urut 1 adalah ayah kandungnya yakni Wanih Taufik. Sementara, nomor urut dua ialah Mochamad Zabidin.

“Salah satu calon itu merupakan ayah kandung saya, jadi saya tidak menerima adanya kecurangan seperti ini,” sebutnya.

Lebih lanjut, Dewi menjelaskan, tidak adanya tanda tangan dari pihak yang menang maupun kalah pada pemilihan tersebut. Bahkan, data pemilihnya tidak jelas.

“Harusnya kan ada ya tanda tangan dari kedua belah pihak,” ungkap dia.

Selain itu, terang dia, waktu pemilihan yang direncanakan pada Sabtu, 10 April 2021 diundur menjadi Minggu, 11 April 2021.

“Calon no.2 yang merubah, panitia ikut apa kata calon, tanpa ada konfirmasi ke pihak No. 1,” beber Dewi.

Dia memaparkan, panitia membuat peraturan sendiri atas dasar kreativitas. Namun, panitia tersebut yang kemudian melanggarnya.

“Jawaban panitia, sebaiknya para calon tidak perlu tahu siapa-siapa saja yang diundang,” beber Dewi.

Menurut Dewi, persoalan tersebut hanyalah persoalan sepele. Namun, bagi dia perlu adanya perbaikan demokrasi dari akar rumput sehingga, dapat melahirkan yang baik.

“Sekarang bagaimana mau pemimpinnya jujur kalo dari bawahnya seperti ini,” keluhnya.

Menanggapi hal itu, Lurah Pancoranmas, Mohamad Soleh menegaskan, pemilihan Ketua RT03/16 pada beberapa waktu itu sudah melewati prosedur yang sesuai.

“Itu menurut dia, udah selesai permasalahnnya sudah ada SK-nya,” tegasnya.

Soleh memaparkan, masyarakat harus dapat membedakan antar pemilihan Ketua RT maupun RW dengan Pemilihan Umum (Pemilu) yang sudah ditetapkan anggarannya.

“Jadi harus bisa dibedakan ya antara pemilhan RT/RW dengan Pemilu atau Pilpres,” imbuhnya.

Menurut dia, pendapat yang disampaikan salah satu warganya itu tidak benar. Sebab, Soleh telah mengantongi BAP dari pemilihan Ketua RT tersebut.

“Ada berita acaranya, panitia dibentuk secara musyawarah, Lurah hanya mengukuhkan hasil dari pemilihan tersebut,” lanjutnya.

Lebih dalam, Soleh menerangkan, tidak ada gejolak dari awal pemilihan tersebut. Hanya saja, keluarga dari salah satu calon belum dapat menerima kekalahan tersebut.

“Namanya pemilihan pasti ada yang menang ada yang kalah,” ucapnya.

Sementara, terkait dengan pengunduran diri dari Mochamad Zabidin, kata Soleh, hal tersebut karena, Ketua RT terpilih itu merasa terusik dengan adanya permasalahan tersebut.

“Jadi ini kan kerja sosial, dia tidak terlalu ingin dibesar-besarkan, tetapi kan kita mengacu pada hasil pemilihan,” katanya.

Bahkan, ungkap dia, kedua pihak telah dipanggil untuk melakukan mediasi.

“Sudah kita lakukan mediasi kedua belah pihak telah kita panggil,” pungkas Soleh. (rd/cr1)

 

Jurnalis : Gerard Soeharly

Editor : Pebri Mulya