nenek yosi
Korban Mafia Tanah, Nenek Yosi Rosada (70)

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Nenek Yosi Rosada (70) yang ditenggarai menjadi korban mafia tanah akan melakukan pembelaan, setelah terancam hukuman penjara maksimal tujuh tahun, usai menjalani sidang eksepsi di Pengadilan Negeri Depok, Kamis (2/12).

Nenek Yosi usai persidangan menjelaskan, bila selama jalannya sidang hanya bisa diam, karena tidak mengerti apapun yang dimaksud, seluruh jalannya sidang diberikan pada kuasa hukumnya.

“Ibu nggak paham kesalahanya apa, hanya dituduh palsukan surat. Ibu tidak mengerti makanya diam saja selama sidang,” terangnya.

Nenek yang menjadi korban mafia tanah tidak melakukan pembelaan apapun setelah ditetapkan Polda Metro Jaya menjadi tersangka, karena memalsukan surat dengan pidana pasal 263 dan 266 KUHP.

Bahkan karena tidak ada pembelaan dan tidak mengerti, dirinya menerima ditetapkan sebagai terdakwa dan dijadikan tahanan kota oleh Kejari Kota Depok.

“Jujur, ibu tidak melakukannya. Ibu yakin hakim punya hati nurani. Ibu tidak terima tuduhan ini. Sekarang ada pengacara yang bantu ibu buat membela ibu kalau tidak salah dan dizolimi,” tegas Nenek Yosi.

Sementara, Kuasa Hukum Nenek Yosi, Haris menjelaskan, kasusnya bermula dari kasus hukum perdata terkait kepemilikan sebidang tanah Sertifikat Hak Milik (SHM) di Desa Cimanggis, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor.

Hasilnya, gugatan cacat hukum dan tidak memiliki kekuatan hukum sejak 2018 dalam putusan Perkara Perdata No 287/p-dt.G/2017/CBN di PN Cibinong, Kabupaten Bogor, dan inkracht hingga Peninjaun Kembali (PK) Mahkamah Agung (MA).

“Tadi yang kami bacakan pembelaan dari ibu Yosi dengan berbagai bukti yang memperkuat bila Nenek itu tidak bersalah,” ungkapnya usai sidang.

Adapun pembelaan yang disampaikan dalam persidangan, yaitu bukti surat sebanyak 16 item, diantara bukti surat salinan putusan perkara Perdata di PN Cibinong, Pengadilan Tinggi (PT) Bandung dan MA, surat akta jual beli (AJB), surat keterangan ahli waris, surat keterangan Kepala Desa Cimanggis, surat keterangan BPN Kabupaten Bogor dan Buku Induk Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Kejadian Nenek Yosi ini, menurut Haris sangat unik, yang disinyalir menjadi korban mafia tanah dengan didukung oknum penegak hukum di dalamnya. Sebab, perkara dengan pelapor Pidana, telah menjalani sidang Perdata di PN Cibinong, dan hasilnya pihak penggugat kalah.

Namun karena tidak ouas dengan keputusan tersebut, pengugat melaporkan Nrnek Yosi ke Polda Metro Jaya, dengan dalih melanggar pasal 263 dan 266 KUHP dan dijadikan terdakwa oleh jaksa di Kejari Kota Depok.

“Saat persidangan Majelis Hakim meminta JPU memperbaiki dakwaan dari pembelaan terdakwa untuk sidang Putusan Sela yang merupakan proses pemeriksaan dan pembuktian adanya unsur Pidana atau tidak.

Diketahui, jadwal sidang Putusan Sela akan berlangsung di PN Kota Depok pada Kamis 9 Desember 2021. Diharapkan keadilan akan berpihak dari cacatnya proses hukum yang didakwakan ke Nenek Yosi. (rd/arn)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Junior Williandro