bola
KIRI KE KANAN : Wakil Ketua DPRD kota Depok, Yeti Wulandari, Kepala Kemenag Kota Depok Asnawi, Anggota DPRD Kota Depok, Imam Turidi, Pengamat Sepak Bola Nasional Kesit Budi Handoyo, Asisten Administrasi Umum Pemkot Depok Nina Suzana dan CEO Depok United FC Pradi Supriatna

RADARDEPOK.COM  – Mustahil, tidak mungkin dan butuh mukjizat. Begitu kata-kata yang disemat tat kala pertandingan leg kedua final Piala AFF 2020, Thailand melawan Indonesia. Tapi, bola itu bundar dan banyak kemungkinan bisa terjadi sebelum 2 x 45 menit dimulai. Harapan serta doa masih bergumul kepada Skuad Garuda. Begitu juga sejumlah masyarakat di Kota Depok yang ingin Indonesia tetap berjuang sampai titik darah penghabisan.

Pengamat Sepak Bola Nasional, Kesit Budi Handoyo menegaskan, pada leg pertama final piala AFF 2020, timnas Indonesia tampil buruk. Sebab, semua lini tidak berjalan dengan baik. “Selain karena kalah kelas dengan Thailand, para pemain timnas juga tampak drop mentalnya setelah lawan cetak gol cepat,” ungkapnya saat dikonfirmasi Harian Radar Depok.

Di leg kedua yang akan dihadapi timnas Indonesia akan terasa jauh lebih berat. Pasalnya, Indonesia telah tertinggal empat gol tanpa balas. “Peluang sangat tipis dan sulit sepertinya untuk bisa dikejar,” sebut Kesit.

Kesit menyarankan, supaya Indonesia dapat bermain lepas pada leg kedua. Sebaiknya, Indonesia tidak fokus pada kemenangan tetapi lebih mengurusi perbaikan pola permainan. “Urusan menang atau kalah kesampingkan dulu,” saran dia.

Sepak bola, bagi Kesit, selalu memunculkan kemungkinan—kemungkinan. Tetapi, dalam hal ini, Indonesia akan sulit mengejar ketertinggalan empat gol dari Thailand dalam laga final Piala AFF2020. “Kemungkinan selalu ada. Tapi realistis saja. Berat untuk bisa mencetak gol sebanyak itu ke Thailand,” terangnya.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Depok, Asnawi menilai, timnas Indonesia telah kalah dalam berbagai sisi seperti fisik, teknik dan mental. Menurutnya, strategi yang telah digunakan oleh pelatih tim Garuda sudah baik. Namun, nasib yang belum berpihak pada skuad merah-putih. “Kita harus mengapresiasi perjuangan timnas Indonesia yang sudah berjuang mencapai final piala AFF 2020,” ucapnya.

Hanya saja, kata Asnawi, Pelatih timnas Indonesia Shin Thae-yong tidak memakai strategi seperti saat melawan Vietnam. Strategi saat melawan Vietnam tidak sedap dipandang mata. Namun, dapat berdampak pada pertahanan timnas Indonesia. “Mudah-mudahan kita bisa mengejar ketertinggalan pada leg kedua, dalam sepak bola  tidak yang tidak mungkin,” tutur Asnawi.

Wakil Ketua DPRD kota Depok, Yeti Wulandari mengungkapkan, pertandingan tadi malam, merupakan final ke 6  Final AFF. Dengan sebelumnya, di lima final sebelumnya Indonesia gagal menjadi juara. Menurut Yeti, skuad timnas Indonesia saat ini dihuni para pemain muda yang secara atmosfer pengalaman pertandingan internasional jelas di bawah Thailand.

“Animo publik tentu saja berharap kita menyudahi puasa gelar dan menundukkan Thailand yang selama ini menjadi momok bagi Indonesia di cabang olahraga sepak bola,” tuturnya.

Kendati demikian, Yeti berpendapat bahwa kehadiran pemain muda itu, memberikan harapan  baru dalam persepak-bolaan tanah air. Bagi dia, semua lini harus meenyadari dalam suatu keberhasilan ada proses yang harus dilalui.

“Harapannya adalah prestasi, dan dengan komposisi pemain muda potensial ini bukan tidak mungkin 2-3 tahun harapan itu dapat terwujud,” ujarnya.

Meski Indonesia telah jauh dari harapan juara, Yeti mengajak masyarakat untuk tetap mendukung timnas Indonesia pada leg kedua Final Piala AFF 2020. Pasalnya, Indonesia telah berhasil mengalahkan negera lainnya dalam fase grup seperti Malaysia, Singapura dan Vietnam. “Karena, apa yang telah ditunjukkan mereka mengajarkan kita apa itu semangat juang meski mereka tergolong muda,” bebernya.

CEO Depok United FC, Pradi Supriatna, tak menampik hal tersebut. Disamping kalah kelas dengan Thailand, penampilan Asnawi cs cenderung menurun ketimbang saat semifinal kontran tuan rumah Singapura. “Sementara mereka (Thailand) begitu on fire. Serangan baliknya sangat cepat. Efektif,” ungkapnya kepada Radar Depok, Kamis (30/12).

Pradi menilai, ada faktor kelelahan yang mendera timnas. Laga sengit dua leg saat semifinal, dirasa menguras seluruh energi pemain. Mungkin juga ditambah faktor non-teknis. “Lelah misalnya. Karena bermain berat ketika melawan Singapura,” jelasnya.

Namun lepas dari itu semua, dirinya memberi apresiasi khusus kepada sang pelatih, Shin Tae-yong. Juru taktik asal Korea Selatan ini mampu mengorbitkan pemain muda untuk main di level senior. “Dia mampu mengorbitkan pemain muda potensial,” ujar dia.

Makanya dia berpesan kepada PSSI, tetap pertahankan Shin Tae-yong. Dengan materi pemain yang ada saat ini, beberapa tahun ke depan dipastikan akan menorehkan hasil manis. “Akan lebih matang dari segi teknik sampai mental,” tegas mantan Wakil Walikota Depok ini.

Sementara, Asisten Administrasi Umum Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, Nina Suzana memaparkan, pemain timnas Indonesia harus lebih mengasah kemampuan, strategi, mental dan fisik dalam menghadapi pemain-pemain luar. “Dan iklim sepak bola juga sepertinya perlu di reformasi kali ya,” singkat mantan Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Depok tersebut.

Terpisah, Anggota DPRD Kota Depok dari Fraksi PDI Perjuangan, Imam Turidi mengakui sepak bola Indonesia memang berbeda level dari Thailand. Namun, kekalahan di laga pertama Final Piala AFF 2020 lebih disebabkan hilangnya konsentrasi akibat gol cepat Tim Gajah Perang.

“Selain itu, ada beberapa peluang emas, tapi tidak bisa dikonversi menjadi gol. Setiap drama dalam sepak bola adalah rencana Tuhan YME,” kata Imam Turidi.

Pada leg kedua nanti, dewan dari daerah pemilihan (Dapil) Kota Depok 2 (Beji, Cinere, Limo) ini pun meminta agar seluruh punggawa Garuda dapat melupakan kekalahan kemarin dan harus kembali memompa semangat untuk meraih kemenangan.

“Lupakan kekalahan leg pertama, gelorakan kembali semangatmu anak anak Garuda. Insha Allah peluang kemenangan ada. Bismillah, turut mendoakan yang terbaik kepada Timnas Indonesia, apapun hasilnya,” beber Imam Turidi.

Pelatih Timnas Thailand Alexandre Polking menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan Timnas Indonesia membalikkan keadaan pada laga leg kedua. “Kami tak mau memberikan kesempatan itu untuk Indonesia,” ujar Polking dalam konferensi pers virtual setelah laga leg pertama, Rabu (29/12) malam, yang diikuti di Jakarta.

Juru taktik berkewarganegaraan Brazil-Jerman itu mengatakan sama sekali tidak ada alasan bagi skuadnya untuk berleha-leha meski menang 4-0 pada leg pertama.

Dia mengatakan, jika para pemain Thailand terbawa suasana euforia, Skuad Garuda dapat memanfaatkan kesempatan dan bisa saja menyamakan atau melampaui agregat.

“Saya belum berpikir pertandingan final ini selesai. Kita sudah pernah melihat ada tim terbaik dengan pemain terbaik di dalamnya yang kalah ketika sudah menang 4-0,” tutur Polking. Polking menyebut saat klub Spanyol, Barcelona mampu menyingkirkan tim Prancis, Paris Saint-Germain (PSG) dari Liga Champions UEFA musim 2016-2017 meski kalah 0-4 pada leg pertama.

Barcelona secara luar biasa menang 6-1 pada leg kedua untuk lolos ke babak perempat final. “Agar situasi tidak diinginkan tak terjadi, kami harus mempersiapkan diri dengan baik, memulihkan diri dengan benar. Kami juga mau mengecek kondisi pemain yang cedera. Intinya, kami akan berlaga di leg kedua dengan konsentrasi penuh,” kata Polking.

Thailand menghajar Timnas Indonesia dengan skor 4-0 pada laga leg pertama final Piala AFF 2020 di Stadion Nasional, Singapura, Rabu malam. Dua dari empat gol Thailand dijaringkan lewat kaki Chanathip Songkrasin dan sisanya disumbangkan Supachok Sarachart serta Bordin Phala. Asnawi Mangkualam dan kawan-kawannya harus menang dengan selisih minimal lima gol pada leg kedua untuk menjadi juara Piala AFF 2020.(cr1/rd)

Jurnalis : Gerard Soeharly 

Editor : Fahmi Akbar