peringatan gunung semeru
Erupsi Gunung Semeru, Sabtu (04/12).

RADARDEPOK.COM – Ada dua kecamatan, yaitu Kecamatan Pronojiwo dan Kecamatan Candipuro. menjadi yang terdampak dari erupsi Gunung Api Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur yang terjadi pada Sabtu (04/12) soreĀ 

Desa Curah Kobokan, Kecamatan Candipuro, Lumajang merupakan kawasan yang paling terdampak.

Hingga Minggu (05/12), jumah korban yang mengalami luka bakar mencapai 38 orang.

Sementara itu seorang janda, Mak Um (50) dilaporkan meninggal dunia akibat terkena Awan Panas Guguran (APG) Semeru.

Peristiwa Gunung Semeru meletus ini lantas mengundang pertanyaan, mengapa tak ada peringatan dini sehingga korban bencana alam dapat diminimalisir?

Tak ada alat peringatan dini atau Early Warning System

Pemerintah dinilai kurang siap mengantisipasi bencana alam di Kabupaten Lumajang.

Hal ini terlihat dari tak adanya Early Warning System (EWS) di Desa Curah Kobokan selama ini.

Padahal alat itu penting untuk mendeteksi peringatan dini bencana.

“Alarm (EWS) gak ada, hanya sismometer di daerah Dusun Kamar A. Itu untuk memantau pergerakan air dari atas agar bisa disampaikan ke penambang di bawah,” kata Kepala Bidang kedaruratan dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Joko Sambang.

Joko mengatakan, sebelum bencana itu menghantam, alat seismoter tersebut membaca getaran kenaikan debit air mencapai 24 amak.

Namun, aktivitas vulkanik Gunung Semeru secara visual tidak terlihat lantaran saat itu Gunung Semeru tertutup kabut tebal.

“Info detail yang saya dapat sebelum kejadian, Gunung Semeru tertutup kabut. Tapi dari kamera CCTV pos pantau (Gunung Sawur) terlihat kepulan namun tidak terekam getaran,” ujarnya.

Minimnya, peringatan serta edukasi soal bahaya lava panas juga diduga menjadi penyebab korban tak sempat menyelamatkan diri.

Sebagian warga malah menyaksikan fenomena itu di lokasi pertambangan ketika APG mulai turun ke lereng gunung.

“Waktu APG turun banyak yang lihat di sungai, mungkin mereka tidak membayangkan sebesar itu. Memang biasanya waktu banjir orang-orang lihat terus di video,” ujarnya. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya