bantuan guru madrasah

RADARDEPOK.COM – Ada kabar tidak menyenangkan untuk guru madrasah menjelang Hari Amal Bhakti Kemenag Tahun 2022. Ribuan guru madrasah di Jawa Barat, diharuskan mengembalikan dana Rp 1,8 juta per-guru terkait salah transfer Bantuan Subsidi Upah (BSU) Kemenag Pusat.

Ketua DPW PGM Jawa Barat, Hasbulloh mengatakan, yang harus dikembalikan, adalah BSU sebesar Rp 1,8 juta. Hal itu, harus dikembalikan lantaran ribuan guru madrasah mendapat bantuan dobel dari sumber lain. Dicontohkan, selain BSU Kemenag, para guru juga mendapat bantuan upah dari BPJS Ketenagakerjaan.

Ketua PGM Jabar menyebut, peristiwa itu tidak hanya bersifat lokal, tapi terjadi juga regional se-Jawa Barat. Bahkan, total ada 5.000 guru madrasah yang harus mengalami hal yang sama. Pihaknya mengaku, akan membuka layanan pengaduan bagi seluruh guru madrasah di Jawa Barat apabila diperlakukan tidak adil dalam proses salah transfer dan pengembaliannya.

“Kami meminta kepada seluruh pengurus PGM Indonesia di kabupaten/kota se-Jawa Barat, untuk mendampingi guru-guru dalam proses kesalahan yang telah dilakukan oleh pemerintah pusat tersebut,” ucapnya baru-baru ini.

Baca Juga : Terungkap, Ini Alasan Artis Cassandra Angelie Terjun ke Prostitusi Online, Bertarif Rp 30 Juta/Kencan

Bagi guru madrasah, lanjut Hasbulloh, banyak yang tidak tahu jika bantuan insentif GBPNS, BSU Prakerja dan BSU Ketanagekrjaan adalah satu mata anggaran yang tidak bisa diterima bersamaan. Padahal, bantuan insentif ini merupakan kebahagiaan luar biasa guru madrasah.

“Seharusnya seleksi dan verifikasi sudah selesai di tingkat pemangku kebijakan. Di Kementerian Agama ada aplikasi yang sudah terintegrasi yaitu simpatika, harusnya dari database tersebut sudah bisa menjadi media untuk melakukan alokasi yang tepat sasaran,” tudingnya.

Dengan salah transfer ini, tentu merugikan banyak guru madrasah lain yang kehilangan kesempatan dan hak mendapat bantuan insentif. Dengan kesalahan seperti ini, uang akan kembali ke kas negara, dan tidak tersalurkan ke guru madrasah yang belum mendapat insentif apapun. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya