PTM SMPN 14 Depok
BELAJAR : Siswa SMPN 14 Depok sedang melaksanakan PTM Terbatas di ruang kelasnya, Senin (3/1). FOTO : PEBRI/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK –  Kota Depok telah memasuki PPKM Level 1, tentu dengan begitu mulai muncul wacana untuk menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen. Karena, sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri tentang Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19, daerah yang sudah termasuk Level 1 diperbolehkan menerapkan PTM 100 persen dengan beberapa syarat lainnya.

Beberapa SMP Negeri di Kota Depok pun terus melakukan pembenahan, jika memang PTM 100 Persen akan diterapkan di Kota Depok. Salah satu yang mulai melakukan pembenahan adalah SMPN 14 Depok.

Kepala SMPN 14 Depok, Hehen Hendra mengatakan, pihaknya telah menyiapkan beberapa skema jika memang diterapkannya PTM 100 Persen. Dimana salah satunya adalah terus mengupayakan seluruh siswanya tervaksin Covid-19.

Sekarang ini, dari 896 siswa di SMPN 14 Depok, sudah 724 siswa atau 85 persen yang tervaksin. Sampai sekarang pun, SMPN 14 Depok terus mengupayakan tercapainya 100 persen siswa tervaksin.

“Kami sebagai SMPN, tentunya akan menjalankan kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Kota Depok,” ucapnya kepada Radar Depok.

Baca Juga : SMP Muhammadiyah 19 Sawangan Punya Ketua IPM Baru

Hehen menuturkan, tidak hanya itu pihaknya juga akan mendata siswa-siswa yang habis melaksanakan perjalanan jauh. Jadi, untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, perlu ada kesadaran dari orang tua siswa untuk saling menjaga, baik itu diri sendiri ataupun orang lain.

“Nantinya juga akan ada scan barcode aplikasi peduli lindungi saat orang bertamu ke SMPN 14 Depok. Jadi, untuk menerapkan protokol kesehatan lebih maksimal,” jelasnya.

Sekarang ini, di SMPN 14 Depok menerapkan PTM Terbatas. Dimana, hanya 50 persen saja tiap ruang kelas terisinya. Oleh karena itu, setiap siswa mendapatkan kesempatan belajar di sekolah, sepekan dua hari. Itu demi mencegah terjadinya kerumunan di sekolah.

“Setiap bulannya dilakukan rotasi jadwal sekolah. Jadi, misalnya ada siswa yang ke sekolahnya tiap Senin dan Rabu, di bulan berikutnya maka dipindah menjadi Selasa dan Kamis. Jadi, agar adil semua siswa merasakan sekolah di beberapa hari,” tuturnya. (rd)

 

Jurnalis/Editor : Pebri Mulya