labuan bajo
SAMPAI PUNCAK : CEO Radar Bogor Grup Hazairin Sitepu bersama tim Gerakan Anak Negeri sukses seluruhnya mencapai puncak tertinggi Pulau Padar NTT, Sabtu (15/1).

RADARDEPOK.COM – Ekspedisi belum usai. Tim masih bertahan di lautan lepas untuk bermalam. Sunset tidak tampak di Pulau Kalong, sunrise menjadi titik fokus. Pulau Padar yang disebut-sebut bisa didaki menjadi tujuan selanjutnya.

Laporan : Fahmi Akbar, Radar Depok

Kapten Pinisi Sipakatau Bulukumba, Alfian belum merasa tenang. Beres ribuan mamalia bersayap beterbangan. Air dari langit pun tumpah. Tidak sedikit. Hujan ternyata ingin benar-benar ikut unjuk gigi. Gelombang di dasar laut kembali mengamuk seiring turunnya hujan. Kapal kembali digoyang. Kapten Alfian kembali meminta anak buah kapal (ABK) menarik jangkar.

Tuas ditangan Alfian digas tipis-tipis. Ardian, anak buah kapal menurunkan terpal disisi kanan dan kiri kapal di lantai satu. Saat itu jam menunjukan 18:36 WITA. Kapal langsung bergegas menuju ekspedisi selanjutnya : Pulau Padar. Kecepatan kapal hanya 5-10 kilometer (Km). ABK lainnya, Asep M mengatakan kepada tim, kapal dilanjutkan ke Pulau Padar agar saat paginya bisa melihat sunrise. Dari Pulau Kalong menuju Pulau Padar paling lama sekira tiga jam. “Kita berangkat ya, jam 4 pagi sudah bangun dan mulai ke Padar,” jelas Asep.

Derasnya hujan membuat tim bercengkrama di lantai satu kapal. Kopi dan teh menjadi teman obralan tim. Di perjalanan mengarungi laut gelombang tak begitu tinggi, tapi tetap kapal bergoyang. Selang dua jam, hujan pun reda. Ternyata selama perjalanan, ABK memasak buat makam malam. Di tengah laut, seluruh tim berkumpul di bagian belakang kapal lantai dua. Di situ seluruh tim Gerakan Anak Negeri mengisi perutnya. Riuhan angin semilir menambah syahdu makan di tengah laut. Ikan tuna menjadi menu utama, ada juga telur, bakwan, dan sayur sop.

Beres makan, sekira pukul 20:00 WITA. Tim berpencar, ada yang istirahat di kamar ada pula yang masih bersenda gurau di lantai satu. Kapal terus memacu kecepatannya menuju Pulau Padar. Tiga jam berlalu, akhirnya Kapal Sipakatau Bulukumba sampai dekat dengan perairan Pulau Padar. Perairannya begitu tenang. Tim pun satu persatu mulai memejamkan mata, di kamar yang sudah disediakan. Di lantai satu ada dua kamar yang bisa diisi 12 orang, di lantai dua kapal ada satu kamar dengan isi delapan orang.

indah labuan bajo
INDAH : Pemandangan puluhan kapal pinisi menambah keindahan jika dilihat dari atas puncak Pulau Padar, Sabtu (15/1).

Sabtu (15/1) pukul 04:10 WITA, ABK kapal mengetuk setiap kamar guna mempersiapkan diri menuju Pulau Padar. Tim pun bergegas. Semuanya kompak mengenakan kaos berkelir merah dengan tulisan di depan Gerakan Anak Negeri. Delapan tim mulai naik sekoci. Dalam waktu lima menit atau sekitar 150 meter dari kapal berlabuh, tim langsung sampai di pelabuhan.

Sampai di Pulau Padar. Langit masih gelap. Tim dipukau dengan tebing yang tinggi membelah saat menapaki anak tangga. Ketinggian puncak Pulau Padar mencapai 400 meter dari permukaan laut. Saat mendaki di batu kali yang sudah tersusun rapih mirip tangga. Tim disuguhkan hamparan bukit setiap mata memandang, dan luasnya laut yang begitu jernih.

Selama 30 menit. Tim satu persatu mencapai puncak tertinggi Pulau Padar yang harus menginjakan 816 anak tangga. Pemandangan indah membuat mata tertegun haru. Dari ketinggian puluhan kapal pinisi menambah keelokan pulau-pulau. Ditambah lagi pulau seluas 1.600 hektar ini dihuni Komodo sebanyak 12 ekor.

sunrise
SUNRISE : GM Radar Depok Iqbal Muhammad dan Redpel Radar Depok Fahmi Akbar menunjukan sunrise di Pulau Padar.

Matahari pun menampakan sinarnya. Sayang, sunrise yang dikejar tak sempurna (Tidak bulat). Awan hitam, lagi-lagi menghambat matahari menerangi bumi.

Penjaga Pos Taman Nasional Komodo (TMK), Abdul Qadir mengatakan, selama pengunjung melihat pemandangan di Pulau Padar di atas buki tidak boleh merokok. Kemudian dilarang membuang sampah, sampah tersebut harus dibawa pulang lagi. ”Di sini kami  menjaga di masing masing bukit ada delapan orang,” jelas pria bertopi putih itu.

Sambil memegang kayu bercagak, Abdul Qadir menyebut, di sini kurang lebih ada 12 ekor Komodo. Ukurannya bervariasi. Pulau Padar juga setiap hari buka, tetapi paling ramai di hari Sabtu dan Minggu. “Bulan ini kembali hidup. Pandemi sepi,  awal pandemi malah tidak di buka saat itu. Lumayan berbulan-bulan tutup,” ungkapnya.

spanduk radar depok
BENTANGKAN : GM Radar Depok Iqbal Muhammad dan Redpel Radar Depok Fahmi Akbar bentangkan spanduk Harian Radar Depok di Puncak Pulau Padar, Sabtu (15/1).

Saat di puncak Pulau Padar, tim melihat ada tiga pesisir dengan warna yang berbeda : putih, hitam dan pink. Padahal, letaknya masih dalam satu pulau. Salah seorang penduduk lokal, Vicky R mengungkapkan, Pulau Padar ikon untuk Flores. Itu di karenakan dari puncaknya bisa melihat pantai yang beda warna, ada warna  putih, pink, hitam. “Sampai puncak pengujung harus menaiki 816 anak tangga,” ungkap dia.

Di sini juga, lanjut Vicky adalah salah satu pulau yang ada Komodo nya. Pula Padar juga salah satu pulau yang besar di Taman Nasional Komodo. Di TMK ada tiga pulau besar, Pulau Komodo, Rinca sama Pulau Padar. Pengunjung ramai umunya pada Sabtu. Yang datang bisa sampai ratusan kapal pinisi. Tiap kapal kapsitasnya 10 sampai 20 orang. “Di sini juga ada komodo tetapi hanya ada beberapa ekor saja tidak banyak seperti di Pulau Komodo atau Rinca,” beber pria berambut keriting diikat itu.

Tiga jam berada di puncak Pulau Padar. Tim benar-benar meneksplor keindahannya. Swafoto pun tak terelakan. Wisatawan pun mulai ramai. Tapi hanya puluhan saja yang mencapai puncak. Ramainya malah di bawah puncak. Tim  pun mulai siap-siap turun. Dari Pulau Padar tim akan melanjutkan perjalanan ekspedisi ke Pantai Pink milik Nusa Tenggara Timur (NTT).(Bersambung)