labuan bajo
LEMAS : CEO Radar Bogor Grup Hazairin Sitepu bersama dengan tim beritahu Komodo yang lemas di Pulau Komodo, Labuan Bajo NTT, Sabtu (15/1). GERAKAN ANAK NEGERI FOR RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Lokasi yang ditunggu-tunggu akhirnya sampai juga. Beres menguliti Pantai Pink. Ekspedisi menuju pulau seluas 33 ribu hektar. Di Pulau Komodo tersimpan ribuan reptil berbisa yang kini menjadi hewan purba hanya milik Indonesia.

Laporan : Fahmi Akbar, Radar Depok

Sabtu, 15 Januari 2022 benar-benar estafet  dalam mengekplor setiap pulau di Labuan Bajo. Paginya ke Pulau Padar, habis itu ke Pantai Pink. Perjalanan tim di lanjut ke Pulau Komodo. Dari Pantai Pink, tim harus kembali melaut sekira 60 menit. Pulau-pulau yang tak berpenghuni kembali menemani tim.

Kapten Alfian mengendurkan tuas gasnya. Dia kembali mencari tempat berlabu, agar jangkar bisa diletakan. Dari kejauhan wisatawan sudah mulai ramai di Pulau Komodo. Saat itu jam menujukan pukul 12:01 WITA. Matahari tak malu-malu mengeluarkan sinarnya. Sampai di sana tim langsung diajak briefing, Akbar Setiawan petugas dari Taman Nasional Komodo (TMK).

Akbar dengan kayu bercagag dua, memberitahu trak yang akan dilalui tim. Kurang lebih 2,5 kilometer (Km), tim mesti menelusuri hutan Pulau Komodo. Setapak demi setapak jalan harus menengok kanan dan kiri, tetap waspada. Hutan yang rimbun dengan semak-semak perjalanan mencekam. Penjaga yang disiagakan ada tiga dari TMK, saat tim yang terdiri dari 20 orang berjalan. Sudah kurang lebih satu kilometer belum juga tampak Komodo.

Ketika mencari Komodo, Akbar mengungkapkan, Komodo keluar tergantung suhu. Reptil yang satu ini di kendalikan suhu. Maksudnya, Komodo akan beraktivitas ketika suhu nya mencapai rata-rata. Jadi, ketika dingin Komodo akan mencari tempat berjemur dahulu dari aktivitas yang kurang pasti. Lalu, ketika kepanasan mereka akan cari tempat untuk menurunkan suhu tubuh. Aktivitasnya pasti di sana akan diam saja.

“Komodo akan aktivitas ketika suhu rata-ratanya ada di atas 26 °C sampai 34 °C. Kalau di atas 34 kepanasan kalau di bawah 26 kedinginan,” jelas pria berkumis tipis ini.

Sudah dua kilometer lebih, Komodo liar belum juga tampak. Akhirnya, Akbar menggiring tim ke lokasi yang bisa berswafoto dengan Komodo. Di sana sudah banyak wisatawan ingin  foto bersama dengan Komodo. Reptil berbisa itu sangat besar. Panjang mencapai tiga hingga empat meter. Tapi sayang, hewan liar itu tidak seperti pada video atau foto selama ini : buas. Komodo yang ada hanya lunglai layaknya binatang sudah makan banyak.

pulao komodo
MONUMEN : GM Radar Depok Iqbal Muhammad (kanan) dan Redpel Radar Depok Fahmi Akbar (kiri) foto di depan monumen Taman Nasional Komodo di Pulau Komodo, Sabtu (15/1).

Ciri khasnya memeletkan lidah pun tidak tak pernah dikeluarkan dari mulutnya. Petugas di sana jadi fotografer dadakan. Setiap wisatawan yang ingin foto mesti memberikan telepon genggamnya kepada petugas. “Kurang menantang ya, Komodonya hanya diam saja seperti kekenyangan makan,” celetuk General Manager (GM) Radar Depok, Iqbal Muhammad.

Selesai foto, Akbar mengatakan, Pulau Komodo seluas 173.000 Km atau 33.000 Ha, 60 persen nya di cover sama safana, 40 persen nya hutan. Kurang lebih 1.600-an Komodo yang tercatat pada data terakhir dari 2020-2021. Selain di Pulau Komodo, di Pulau Rinca ada 1.700 ekor, di Pulau Padar ada lima ekor. Komodo terbesar yang pernah ditemukan sejauh ini masih di Pulau Komodo. Panjang 3 meter 20 cm, kalau berat 160 Kg.

Menurutnya, ada sekumpulan organisasi dengan nama  Komodo Supriview. Programnya yang dikerjasamakan dengan TMK untuk mendata populasi dari satwa khususnya Komodo. Dan itu mereka turun langsung ke lapangan. Prosesnya, Komodo di tangkap dengan perangkap. “Setelah ditangkap kemudian didata,” jelasnya Akbar.

Komodo yang ada di sini, sambungnya, sama sekali tidak diberi makan. Petugas hanya menjaga bagian luar pulau. Komodo merupakan binatang karnivora. Rusa, babi, kerbau, burung dan kuda makanan terlezat bagi Komodo. “Kami lebih percaya alam untuk menjaga mereka (Komodo),” katanya.

Komodo di sini bisa bertahan sampai usia 30 tahun. Ilmuwan yang meneliti pernah mengatakan Komodo bisa bertahan sampai 50-60 tahun.  Itu akan terjadi ketika Komodo di kendalikan manusia. Mungkin di rawat, di kasih makan macam-macam. Tapi, itu tidak akan berlaku di sini (Pulau Komodo).  Secara logika, berapa banyak jika Komodo di sini diberi makan, jumlah Komodo rata-rata ribuan. Kemudian itu juga akan mengganggu insting pemburuannya.

“Komodo di sini umurnya lebih pendek dikarenakan mereka itu memiliki persaingan ketat. Komodo bintang yang individu bukan berkelompok. Tentunya akan ada persaingan merebut makanan dan merebut betina,” beber Akbar.

Sambil berjalan ke arah pintu keluar,  Akbar menyebut, musim kawin Komodo di bulan 7 sampai bulan 8. Maka, bertelur bulan 9. Maret atau April anak Komodo sudah bisa mencar makan sendiri. Komodo  bisa menghasilkan 10 sampai 30 butir telut. Persentase jadinya, hanya 40 persen paling tinggi. “Selebihnya tergantung dari suhu nya, kadang suhu nya tidak bekerja bagus itu telurnya tidak menetas,” tandas Akbar.

Di ujung jalan keluar Pulau Komodo, rombongan tim melintasi pusat oleh-oleh. Kurang lebih ada 20 pedagang lokal di sana. Pedagang umumnya menawarkan, ukiran kayu Komodo, mutiara, kain tenun dan kaos khas Pulau Komodo. Harganya bervariatif. Mulai dari Rp50 ribu sampai Rp500 ribu. Di depan pusat oleh-oleh juga terdapat warung minuman dan makanan. Hampir sama dengan di Pantai Pink, harga minuman dan makanan cukup mahal. “Teh pucuk Rp20 ribu,” singkat Jonathan Giovanni tim dari Youtube Bang HS.(Bersambung)