komodo
JINAK : General Manger (GM) Radar Depok, Iqbal Muhammad sedang berbincang dengan Kadus Desa Komodo, Muhammad Sidiq sembari memperhatikan Komodo liar yang sudah dijinakan, Sabtu (15/1). GERAKAN ANAK NEGERI FOR RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Seperti namanya : Desa Komodo. Reptil purba sesungguhnya itu ternyata sudah menjadi bagian hidup bagi warga Desa Komodo. Selama puluhan tahun hidup berdampingan dengan Komodo, di kisahkan Komodo pernah terlahir dari rahim manusia.

Laporan : Fahmi Akbar, Radar Depok

Sambil membawa kayu bercagak. Kepala Dusun (Kadus) Desa Komodo, Muhammad Sidiq menggiring tim ke lokasi yang terdapat Komodo. Berjalan sekira 100 meter dari rumahnya. Persis di belakang lapangan sepak bola. Dekat dengan tumpukan sampah yang dibatasi dengan saluran air (Drainase). Hewan yang hanya dimiliki Indonesia itu muncul setelah digoda warga berpakaian kaos putih.

Lidah yang menjulur dibalut dengan tetesan liur terus dikeluarkan Komodo berjenis kelamin laki-laki itu. Panjangnya ada sekitar tiga meter. Komodo terus menyerang ketika dipancing warga lokal. Saking buasnya, Komodo itu mengejar penulis dengan jarak empat meter penuh ambisi. Beruntung, Kadus langsung mengeluarkan senjata ampuhnya : kayu bercagak. Ketika Kadus mendekati, Komodo langsung diam dan malah cenderung membelakangi. Entah kenapa Komodo itu jadi melemah.

Disela-sela menenangkan Komodo, Muhammad Sidiq mengatakan,  di Desa Komodo ada 500 kepala keluarga dengan penduduk 1.870 jiwa. Di sini terdiri 1 desa 5 RW dan 10 RT. Bapak anak dua ini menuturkan, jadi dari turun temurun, dari nenek moyangnya, nenek dia, dan ibunya selalu menceritakan ke generasi anak-anak. Komodo merupakan saudara. Karena Komodo pernah di lahirkan oleh seorang nenek moyang di Desa Komodo yang namanya itu Iva suaminya itu Gerong. “Jadi mereka melahirkan anak kembar antara Komodo dan manusia ,” ungkap pria berusia 42 tahun ini.

Komodo bersaudara dengan manusia dibuktikan dengan kejadian yang sudah lama : bayi tidur dengan Komodo.  Masyarakat di sini dulu mata pencahariannya musiman. Kalau musim asam dia memetik buah asam, kalau musimnya teripan mereka mencari teripan. Artinya harus keluar dari kampung ini untuk berpondok di lokasi yang mereka cari itu. warga Desa Komodo bernama Lowawu lagi petik buah asam. Anaknya tidur di dalam pondok. Lowawu berbincang di luar tenda pondok, tiba tiba komodo masuk langsung tidur di samping anak kecil itu.

komodo 2
DIGODA : Warga lokal sedang menggoda Komodo agar naluri buasnya keluar saat tim Gerakan Anak Negeri datang, Sabtu (15/1).

Tidak makan dan tidak langsung diserang. Bahkan tidak mengganggu. Komodo langsung tidur bergesekan dengan aank kecil itu. Ketika Lowawu masuk,  hanya kaget dan meminta Komodo itu keluar dari pondok. “Hai Sebae kamu jangan ganggu anak kami itu masih saudara kamu. Dengan sendirinya Komodo itu keluar,” beber pria  berambut plontos ini.

Sebae, kata Sidiq, merupakan bahasa sayang manusia kepada Komodo. Di sini menyebut Komodo itu Sebae. Selama puluhan tahun belum kejadian fatal baru terjadi pada Tahun 2007. Anak SD diserang Komodo saat sedang bermain. Tubunnya digigit dan kemudian ada yang sobek bagian tubuhnya. “Iya meninggal karena ada luka robek dan racun sudah menyebar,” katanya.

Hidup berdampingan dengan Komodo dirasa sudah biasa dan tidak ada rasa kekhawatiran. Mengatisipasinya, ribuan rumah warga di Desa Komodo dibuat layaknya panggung. “Iya dibuat panggung untuk meminimalisir terjadinya Komodo menyereang,” tutur Sidiq sambil mengantarkan tim menuju dermaga.

Sebelum sampai dermaga, penulis bertemu dengan Abdul Latief. Warga RT1 Dusun 1 ini mengaku sudah biasa hidup berdampingan dengan Komodo. Selama warga tidak mengganggu, Komodo juga tidak akan mengganggu. Hidup dengan Komodo ini sudah lama. “Sejauh ini belum ada kejadian. Masih baik baik saja,” jelas pria berpeci hitam ini.

Di dermaga, tim sudah menunggu untuk kembali ke Kapal Pinisi Sipakatau Bulukumba. Perjalan estafet akhirnya usai di Desa Komodo. Esok harinya (16/1) Ekspedisi Gerakan Anak Negeri akan menyambangi Pulau Kanawa.(Bersambung)