IKN Ridwan Kamil
Ridwan Kamil

RADARDEPOK.COM – Semenjak Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan kriteria pemimpin Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara berlatar belakang arsitek dan pernah menjadi kepala daerah, banyak dugaan-dugaan.

Ketua Majelis Kode Etik Ikatan Ahli Perencana Kota Indonesia (IAP), Bernardus Djonoputro menilai sosok yang dicari Jokowi bukan hanya birokrat yang berlatar belakang arsitek belaka.

“Saya kira dari profil yang harus ada lebih dari sekedar arsitek, yang bisa disebut arsitek itu apa? Pertama, ia berpengalaman dan mampu menerjemahkan perencanaan makro ke dalam desain mikro. Jadi pengalaman sebagai birokrat, bekerja dengan developer, dan (pernah) bekerja secara swasta penting sekali,” kata Bernie, sapaan Bernardus.

Tidak hanya itu, Bernie menilai sosok kepala daerah yang memiliki jaringan global juga menjadi bahan pertimbangan. Baik dari pengalaman membuat karya di luar negeri dan bekerja sama dengan investor dari mancanegara.

Baca Juga : Pembebasan Underpass Jalan Dewi Sartika Telan Rp180 Miliar

“Dia menjadi perhatian dunia karena membangunnya di Kalimantan. Jadi network internasional dan pengalaman bekerja dengan investor internasional menjadi sangat penting,” ujarnya.

Selain itu, seorang Kepala IKN, menurutnya, selain arsitek harus mampu mengurai masalah sosial politik warga yang kompleks.

“Karena perencanaan IKN kan tujuannya untuk menyejahterakan masyarakat. IKN ini menjaga geopolitik nasional,” ujar Bernie.

Dari berbagai faktor tersebut, dia melihat kriteria Jokowi akan jatuh pada Ridwan Kamil. Terutama karena pengalaman Ridwan Kamil memimpin Jawa Barat yang penuh kompleksitas.

“Jawa Barat itu sebesar Spanyol. Saya kira Pak Ridwan Kamil cocok sekali karena beliau banyak kerja secara praktik arsitek dan perencanaan baik sebelum jadi gubernur atau wali kota di perumahan. Maupun setelah jadi gubernur, punya link internasional sangat kuat,” tutur Bernie.

Menurut Bernie, sinyal Jokowi soal IKN dipimpin kepala daerah berlatar arsitek sudah tepat, mengingat dalam pembangunan IKN diperlukan kombinasi antara arsitek dan pemimpin daerah.

“Karena IKN itu kan rencana kota baru, di mana secara makro kota tersebut harus jadi bagian dari sistem pemerintahan,” katanya.

Dia menjelaskan kemampuan ini diperlukan sosok yang mengerti urusan perencanaan kota. Kemudian juga di IKN perlu membangun bangunan-bangunan baru di mana pada urusan tersebut level arsitek diperlukan.

“Jadi sinyal lebih tepat dari sinyalnya presiden adalah dibutuhkan keahlian perencanaan kota dan arsitektur, karena ada banyak pekerjaan di dalam perencanaan kota yang harus dilakukan. Sama sekali kepala IKN bukan hanya untuk urusan administrasi,” kata Bernie.

IKN juga meliputi urusan desain kota hingga pembangunan gedung atau istana. Seluruh urusan ini juga menyangkut sistem transportasi, air bersih, listrik dan utilitas lainnya.

“Itu semua urusan perencanaan kota. Jadi dari sisi keahlian yang dibutuhkan adalah sosok yang paham urban designing dan arsitektur,” ujar Bernie.

Kedua, dia melihat urusan membangun kota baru di Indonesia maka pengalaman pemerintah di dalam membangun kota hampir tidak ada.

“Jadi dibutuhkan profil atau orang yang mampu membumikan rencana dan desain ke dalam pembangunan. Dan bisa memprioritaskan mana dulu yang dilakukan, supaya dalam kurun waktu rencana tertentu dia harus sampai di mana. Kan perencanaan kota itu ada milestone-nya,” kata Bernie.

Bernie menilai seorang Kepala IKN harus mampu membaca rencana makro baik positioning dari ekonominya IKN, kemudian sumber daya yang bisa dipakai di IKN dan soal kesejahteraan masyarakat sekitar dan Pulau Kalimantan.

“Jadi ini membutuhkan pengalaman integratif,” ujar Bernie. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya