lukis
LUKIS PEJABAT : Syamsudin sedang menyerahkan lukisan bergambar Sandiaga Uno, kepada Sandiaga Uno saat berkunjung ke Tegal beberapa tahun yang lalu. ist

Merasa seni lukis adalah hobi dan passionnya, Syamsudin rela meninggalkan profesinya sebagai pramusaji warung tegal (Warteg) di Sukmajaya, demi menekuni dunia lukis. Meskipun dia sadar tidak ada jaminan jika lukisannya akan laku terjual.

Laporan : Indra Abertenego Siregar

RADARDEPOK.COM, Suaranya yang pelan dan nadanya yang datar mengulas kembali awal dirinya menata karir sebagai pelukis. Syamsudin yang duduk di front ofice Radar Depok menerawang jauh ke belakang, ke beberapa tahun yang lalu, tepatnya menjelang akhir tahun 2016. Saat itu merupakan tahun yang berat untuknya, lantaran harus memilih antara meneruskan pekerjaanya sebagai pramusaji atau pulang ke kampung untuk memulai karir baru.

Saya memang udah nyaman kerja di Warteg, gaji saya juga lumayan lah bisa ngirim uang buat orang tua di kampung. Tapi saya berfikir kalau saya ini bisa hidup dari bakat melukis saya,” kata Syamsudin.

Hampir satu semester berdebat dengan batinnya, akhirnya pada tahun 2017 Syamsudin memutuskan untuk mudik ke kampung halamannya, di Tegal, Jawa Tengah. Kepulangannya untuk merayakan hari raya Idul Fitri sekaligus memulai hidup baru.

Ahirnya tahun 2017 saya pulang ke Tegal untuk lebaran. Tapi udah gak mau lagi jaga Warteg,” ujarnya.

Setelah selesai beramah tamah dengan kedua orangtuanya pasca lebaran, Syamsudin pun mengutarakan niat sebenarnya kembali ke kampung. Benar saja, orang tuanya kaget dan kurang setuju dengan pilihan yang diambilnya.

Orang tua saya gak setuju, mereka menentang. Katanya, ngapain saya jadi pelukis gak ada uangya. Mereka lebih setuju saya jaga Warteg karena ada gaji bulanan,” tuturnya.

Syamsudin tetap berkeras pada pilihannya sembari memberikan pengertian dan keyakinan pada orangtuanya jika lewat media lukisan, dia juga mampu menghasilkan pundi–pundi ekonomi.

Saya tetap pada pendirian. Saya memilih jalan seni lukis sebagai jati diri saya dan sebagai sumber kehidupan saya, meskipun saat itu saya tidak tahu harus memulai dari mana,” terangnya.

Awal-awal di Tegal, Syamsudin mulai memproduksi beberapa lukisan. Mulai dari ukuran kecil 10×20 cm hingga 20×60 cm. Kurang lebih dalam sebulan ada dua karya lukis yang mampu ditetaskannya.

Dia memberanikan diri untuk menjajakan lukisannya di pasar malam atau pasar minggu yang biasa ada di kampung halamannya. Sayangnya, karya buatannya belum juga mendapat apresiasi dari warga setempat.

Yang ngeliatin lukisan saya sih banyak, tapi belum ada yang beli. Paling banter minta nomor telepon saya doang,” ucapnya.

Samsyudin tidak menyerah. Dia terus mencoba menjajahkan karyanya di pasar malam yang ada di sekitar kampung halamanya. Seorang pria tiba – tiba mendatanginya dan melihat beberapa lukisannya. Kurang lebih setengah jam pria itu memandangi semua lukisan di kanvas yang dipajang Syamsudin. Akan tetapi lagi – lagi, pria itu hanya meminta nomor telponya dan berlalu begitu saja tanpa membeli satupun karya lukisnya.

Besoknya pria itu telpon saya. Dia kasih alamat rumah. Saya disuruh datang untuk membuat mural di kamar anaknya dengan gambar super hero. Saya senang sekali. Akhirnya setelah sekian lama dagangan saya laku juga, walaupun cuma jasanya,” tuturnya. (bersambung)

Editor : Junior Williandro