ui
KAMPUS UI DEPOK : Pengendara saat melintas di kawasan Kampus Universitas Indonesia (UI) Kota Depok. DOK RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Beberapa Perguruan Tinggi (PT) di Kota Depok sudah ancang-ancang menggelar kuliah tatap muka secara 100 persen. Kepastian ini demi menjalani Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri terkait tatap muka. Bukan Januari, diperkirakan beres libur semester seluruh mahasiswa pada Februari baru ke kampus .

Kepala Biro Humas dan KIP Universitas Indonesia (UI), Amelita Lusia menerangkan, apapun yang menjadi keputusan pemerintah dalam menjalankan PTM 100 persen pihaknya akan siap. “Pasti kita akan siap apa yang jadi keputusan pemerintah,” terangnya saat dikonfirmasi Harian Radar Depok, Kamis (6/1).

Namun, perkuliahan akan dimulai pada awal Februari, karena masih dalam libur semester untuk sekarang. Yang pasti ada mata kuliah yang didahulukan untuk tatap muka, seperti praktikum, fakultas kedokteran, fakultas kesehatan masyarakat, dan fakultas teknik. “Itu yang tidak bisa dilakukan. Seperti ketahu praktikum harus secara langsung. Tapi saya pastikan itu semua sesuai dengan prokes,” tegas Amelita.

Terpisah,  Ketua Persiapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Universitas Pancasila (UP), Titiek menerangkan, kesiapan PTM yang UP bikin bukan tanpa dasar, melainkan telah melakukan survei saat SKB 4 Menteri yang telah beredar pada November 2021 lalu. “Kami sudah sangat siap. Karena telah melakukan survei soal kesiapan PTM ke dosen, tenaga pendidikan, dan mahasiswa. Itu respondennya dari mahasiswa ada 60.832 orang,” terangnya.

Dia menjelaskan, total mahasiswa di UP ada 10 ribu. Dari total tersebut ada 95 persen mahasiswa sudah yang terima vaksin dosis pertama, untuk dosis kedua 72 persen. Dengan capaian vaksin itu, sebenarnya UP telah matang dalam mempersiapkan PTM, bahkan satgas covid di UP telah terbentuk, sampai Juklak Juknis telah diatur. “Kami sudah maksimal. Tentunya sekarang dengan SKB yang dikeluarkan terkini, kami semakin siap,” katanya.

Lebih jauh, Titiek menyampaikan, sekarang melihat capaian vaksinasi mungkin sudah 100 persen. Karena sudah melaksanakan vaksin di setiap tempatnya. Namun, bila dilihat semua telah siap pada semester genap.

Dia menegaskan, nantinya jika diberlangsungkan PTM, UP akan melaksanakan PTM secara shifting atau bergantian, dengan mendahulukan mata kuliah yang menjadi prioritas. “Kita akan memberikan kertas  kententuan dengan diisi ceklis, soal prokes apa yang telah dipenuhi setiap fakultas,” tegas Titiek.

Plt Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Dirjen Diktiristek), Nizam menyebutkan, 50% kampus di perguruan tinggi sudah mulai melakukan pembelajaran tatap muka (PTM)

“Rata-rata 50% kampus sudah mulai PTM langsung yang akan dimulai dari angkatan yang belum pernah ke kampus ya, angkatan 2020-2021. Untuk semester depan ini kita akan mulai tambah tambah lagi. Saat ini sedang dievaluasi dari yang kemarin seperti apa. Dari monitoring ke beberapa kampus dan kegiatannya sudah sangat siap (PTM) 100% dan beberapa belum siap, kita akan menyesuaikan saja” jelas Nizam.

Untuk persyaratan pelaksanaan PTM di kampus, dikatakan Nizam sesuai dengan ketentuan di SKB 4 Menteri. Jadi yang belum vaksinasi untuk vaksinasi, serta protokol kesehatan di kampus dijaga ketat. Banyak yang sudah disiapkan kampus, seperti thermogun, tempat cuci tangan. Ada semacam pasukan satgas kampus juga yang memantau teman-temannya. “Prakteknya bagus. Nanti sore kita merapat untuk membahas SOP itu untuk digunakan di kampus-kampus,” kata Nizam

Dalam pelaksanaan PTM kampus ini akan dilakukan bertahap dan disesuaikan dengan kondisi kampus. Pihaknya menyerahkan ke kampus untuk menyesuaikan. Ada kampus yang fasilitasnya tidak memungkinkan, jadi disesuaikan dengan kampus. “Yang jelas kita sudah mendorong kampus untuk melaksanakan PTM. (Selama pelaksanaannya) protokol kesehatan (prokes) dijaga, SOP harus ada, dan berkoordinasi dengan dinas kesehatan di daerah,” ujar Nizam.

Mengenai capaian vaksinasi dosen dan tenaga pendidik di kampus, Nizam menyebut sudah mencapai di atas 80%. “(Capaian vaksinasi) sangat bagus. Kalau dosen dan tenaga pendidik rata-rata di atas 80%. Hanya komorbid saja yang tidak bisa. Tapi secara umum sangat baik,” jelasnya.

Selain itu, Nizam juga menyoroti risiko penularan kondisi mahasiswa yang tinggal di tempat indekos atau mahasiswa datang dari luar daerah kampus. Itu salah satu SOP yang didorong. “Selain mereka menjaga prokes di kampus, mereka juga harus menjadi bagian perihal mengedukasi masyarakat tentang prokes. Bagi mahasiswa dari luar daerah, soal karantina tergantung masing-masing daerah,” tandas Nizam.(arn/rd)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Fahmi Akbar